batampos.co.id – Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam Herman

Rozie menyampaikan ke depan Pemko Batam akan memeriksa langsung sampah plastik yang dibawa importir ke Batam, tidak hanya terkait 65 kontainer yang
kini diperiksa bersama bea cukai dan dari sejumlah kementrian.

“Walikota perintahkan ke depan semua plastik yang diimpor akan kami
periksa,” kata Herman, belum lama ini.

Ia menyampaikan, perlu diperhatikan, selain Undang-undang Nomor 18 tahun 2008 tentang pengelolaan Sampah yang mengamanatkan dilarang memasukan sampah ke wilayah NKRI, Batam juga memiliki Peraturan Daerah (Perda) nomr 11 tahun 2013 tentang pengelolaan sampah, juga melarang hal yang sama pada pasal 65 disebutkan setiap orang dilarang memasukkan dan mendatangkan sampah yang berasal dari luar negeri atau dari daerah luar kota Batam ke Kota Batam.

“Kita sudah melarang sebenarnya. Namun sebagian kementrian menyebutkan itu bukan sampah tapi bahan baku. Tapi kalau kita melihat seperti yang ada (tidak homogen) apakah bahan baku, ini pertanyaannya, kami dari sisi lingkungan anggap itu sampah,” imbuhnya.

Ia mengatakan, yang kini diperkisa oleh tim jika disebut bahan baku harusnya bersih, akan tetapi dari barang yang disebut bahan baku oleh importir tersebut bahan baku, mengeluarkan bau.

“Maka diindikasikan ada B3 itu,” ucapnya.

Menurutnya, jika merujuk pada aturan yang ada, apapun dalih yang disampaikan sampah tidak boleh masuk. Bahkan, ia menilai daerah bisa bertindak berdasarkan perda yang sudah ada. lanjut dia, walikota mempunyai wewenang mengatur daerahnya bebas sampah, terlebih menolak Batam dikotori sampah plastik dari luar.

“Beliau (wali Kota Batam Muhammad Rudi) menyampaikan tidak menolak pabrik plastik yang mengolah biji plastik ke barang jadi, yang kita tolak sampah diolah menjadi biji plastik. Misal, datang perusahan mereka punya biji plastik lalu untuk buat perangkat luar komputer, ya silahkan, kami sangat mendukung,” paparnya.

Belakangan, terkait beda persepsi tentang barang yang diimpor, Asosiasi Expor-Impor Plastik Industri Indonesia (Aexipindo) menegaskan barang yang mereka impor adalah bahan baku bukan sampah plastik.

“Yang kami bawa bahan baku. Kalau untuk komentari si A ngomong ini tak usah saya bicara itu,” imbuh Sekretaris Jendral Aexpindo Indonesia, Marthen Tandi Rura.

Marthen enggan berkomentar lebih jauh. Termasuk soal indikasi tidak homogennya barang yang diimpor tersebut yang ditandai pengambilan sampel yang akan diuji oleh Beacukai dan DLH Batam. (iza)