Ia bernama Dwi Sukirahayu Elisabet Novililiana. Di rumah Nana Lie, sapaan akrab D.S. Elisabet Novililiana Kertas bertulisan aksara Jawa tergeletak di meja.

Kertas itu merupakan artikel yang akan dikirim Nana Lie ke salah satu majalah berbahasa Jawa yang berkantor di Surabaya. Aktivitas berkirim artikel berbahasa Jawa tersebut sudah dilakukan dua tahun belakangan.

’’Temanya tentang kehidupan,’’ kata perempuan 35 tahun tersebut.


Artikelnya tidak biasa. Menggunakan bahasa Jawa yang ditulis dengan aksara Jawa. Kemampuan menulis aksara Jawa itu dia pelajari sejak di bangku SD. Saat itu guru di sekolah SD Tarakanita Magelang sering memberikan pekerjaan rumah (PR) membuat cerita dengan menggunakan aksara Jawa.

Bisa jadi, sebagian siswa tidak menyukai tugas tersebut. Tapi, Nana Lie justru selalu menantikan hal itu.

’’Kalau ada tugas itu, saya bisa ngalem sama Oma dan Opa (kakek nenek),’’ terangnya.

Nana Lie merupakan putri pasangan Agustinus Sukino dan Christina Lanny Yulianti.

Darah Tionghoa mengalir dari ibunya.

Sang kakek bernama Lie Tjong Sing, sedangkan neneknya bernama Tan Lut Nio.

Nana Lie belajar aksara Jawa dari kakek dan neneknya itu.

’’Mereka tak sekadar bisa, tapi memang jago menulis aksara Jawa,’’ kenang dia.

Karena itu, PR menulis aksara Jawa tersebut menjadi alat bagi Nana Lie untuk bercengkerama dengan sang kakek. Dia bisa bermanja saat sang kakek mengajari dan mengenalkan aksara Jawa tersebut. Misalnya, saat menempatkan sandangan (tanda-tanda) pada aksara itu.

Elisabet Novililiana menunjukkan kaus dengan tulisan aksara Jawa. Dia juga ingin membuat cenderamata dengan konsep yang sama. (Thoriq S. Karim/Jawa Pos)

’’Iki jênêngé pangku,’’ ujar Nana Lie yang menirukan ucapan sang kakek saat mendampinginya mengerjakan tugas.

Begitu juga saat perempuan berkacamata itu kurang rapi menulis salah satu aksara. Sang kakek langsung menegurnya. Penularan ilmu dengan cara itu benar-benar mudah diterima. Wajar jika Nana Lie suka dan paham sekali aksara Jawa.

Dia sering membuat guru SD-nya kerepotan saat menanyakan sandangan aksara Jawa. Tak jarang, pertanyaan itu dijawab, ’’Durung waktune dijelaske saiki (belum waktunya dijelaskan sekarang).”

Nana Lie merasa heran dengan cara kakek dan nenek mendidik cucunya. Rekan-rekannya yang berdarah Tionghoa tidak diajari tradisi Jawa. Mereka diajari menulis aksara Han atau Tionghoa dan makan dengan menggunakan sumpit.

’’Saya justru tidak pernah mendapat pelajaran itu,’’ ucapnya.

Dia pernah bertanya kepada sang kakek, lalu dijawab, ’’Sekarang kita sudah hidup dan tinggal di Jawa, adat dan tradisi tempat tinggal harus dipelajari.’’

Kebiasaan itu dibawa ibu Nana Lie, Christina. Majalah yang menjadi bacaan setiap bulan berbahasa Jawa.

’’Saya suka dan paham tentang budaya Jawa karena dukungan lingkungan juga,’’ kata ibu satu anak tersebut.

Pemahaman itu terus bertambah. Dasar itu pula yang membuat Nana Lie memilih sastra Jawa saat berkuliah. Keraguan itu terjawab. Kini, Nana Lie menjadi penulis salah satu majalah berbahasa Jawa.

Artikel yang dia tulis menggunakan aksara Jawa. Tulisan tersebut memiliki pembaca fanatik. Selain itu, Nana Lie menemukan banyak filosofi saat belajar tentang aksara Jawa.

Dia mengungkapkan, literatur yang menggunakan aksara Jawa mencerminkan penulisnya. Mulai goresan tulisan, penempatan sandangan, hingga penggunaan bahasa, pasti ada artinya.

’’Saya banyak menemukan pada literatur lawas,’’ ujarnya.

Kini, Nana Lie masih memiliki mimpi. Aksara Jawa harus dibumikan. Dia ingin membuat merchandise bertulisan aksara Jawa. Selama ini, Nana Lie memulainya pada desain kaus.

’’Aksara Jawa yang indah,” terangnya. (*)

Loading...