batampos.co.id – “Pengalaman unik di Terih (Kampung Terih, Nongsa) itu naik sampan keliling hutan mangrove dengan sampan. Itu pertama kali naik sampan, seru ternyata, padahal awalnya takut,” cerita Dian Sari, 24, ketika ia mengunjungi kawasan wisata Kampung Tua Terih beberapa waktu lalu.
Dia lahir di Palembang, Sumatera Selatan. namun sejak bayi ia telah berada di Batam, Praktis ia lahir dan besar di Batam.
Setelah mendapat pengalaman seru mengelilingi hutan mangrove dengan sampan itu, Dian mengaku menjadi lebih sering datang ke Kampung Terih ini.
Niatnya tentu untuk mengulang keseruan menjelajah wilayah laut kampung yang berhadapan langsung dengan Batam Center ini.

Hanya saja, dalam beberpa kali kunjungannya ke destinasi yang mulai terkenal sejak 2017 lalu ini,Dian tidak lagi mendapti adanya aktivitas masyarakat yang menyediakan jasa keliling hutan dengan sampan ini.
“Sekarang sudah tutup kayaknya, pas datang setelah itu, tak ada lagi yang main sampan,” kata Dian lagi.
Meskipun tidak lagi menikmati keindahan Kampung Terih dari sampan, ia mengaku tetap menikmati setiap kedatangannya di kampung yang dihuni sekitar 30 kepala keluarga (KK) ini.
Mulai dari berjalan menyusuri hutan dari atas pelantar, bermain di kawasan pasir yang menyesiakan spot foto unik, dan naik di rumah pohon yang disediakan pengelola kawasan ini.
Tidak hanya itu, kuliner khas masyarakat Melayu yang tersaji di kawasan depan kampung tua ini juga menambah kenyamanannya berada di sini, terlebih panganan itu dijual dengan harga yang relatif bersahabat dengan para pengunjung.
“Makanannya banyak, macam-macam ada, kepiting goreng, laksa, makanan yang dibuat sendiri oleh orang sini,” kata Dian lagi. (bbi)
