batampos.co.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam mencatat selama periode Januari hingga Mei 2019, sedikitnya 310 warga Kota Batam positif demam berdarah dangue (DBD). Bahkan satu di antaranya meninggal dunia.

Kepala Dinkes Batam Didi Kusmarjadi mengatakan, pasien terbanyak ditemukan di Januari sebanyak 89 orang.

Angka penderita DBD di Batam cenderung stabil. Jumlahnya belum sampai tahap kejadian luar biasa (KLB).

”Cenderung menurun jika dibandingkan sejak awal tahun lalu. Bulan Mei lalu hanya ditemukan 38 kasus DBD,” sebutnya.

Sementara untuk pasien DBD pada Juni ini, belum direkap karena hingga kini pihak rumah sakit belum menyerahkan data ke Dinas Kesehatan.

Mahasiswa Poltekes Kemenkes Tanjungpinang menabur bubuk abate di penampungan air warga beberapa waktu lalu. Foto: Yusnadi/batampos.co.id

Didi menjelaskan, pihaknya sudah menargetkan satu rumah ada satu juru pemantau jentik (Jumantik).

Sebelumnya, puskesmas di masing-masing wilayah juga sudah membentuk kader untuk DBD ini.

”Sudah dibentuk. Puskesmas sudah menjadwalkan turun ke lapangan untuk mengecek daerah-daerah yang dinilai rawan berkembangnya jentik nyamuk penyebab DBD,” jelasnya.

Baca Juga: Musim Durian, Waspadai Demam Berdarah

Didi menambahkan, Batam merupakan wilayah paling padat penduduk bila dibandingkan dengan enam kabupaten atau kota yang ada di Kepri. Hal ini membuat persentase pasien DBD terbanyak berada di Batam.

Menurutnya, hal tersebut wajar, kecuali Batam sedikit penduduk dengan penderita terbanyak.

”Walaupun kami bilang cenderung menurun, tetap saja masih tinggi bila dibandingkan daerah lain,” ucapnya.

Selain membentuk Jumantik, petugas masing-masing puskesmas juga mendatangi rumah warga yang terkena DBD.

Beberapa kali petugas juga mengecek bak penampungan air, dispenser, kamar mandi hingga seluruh area rumah.

”Semuanya kami cek. Memang benar ada jentik nyamuk yang bersarang,” ujarnya.

“Untuk itu warga diminta menjaga kebersihan lingkungan rumah dengan menerapkan 3M plus serta gotong royong di pekarangan rumah. Cara ini bisa mengusir nyamuk berkembang biak,” terang Didi lagi.

Baca Juga: Batam Memasuki Musim Hujan, Kepala Dinas Kesehatan Minta Masyarakat Waspada Penyakit Demam Berdarah 

Ia mengingatkan, nyamuk Aedes Agepty tidak hidup di selokan. Mereka tipe nyamuk yang hidup di air bersih.

Jadi, kata dia masyarakat harus rajin mengecek bak penampungan air, pot bunga serta tempat lain yang menjadi tempat penampungan air.

”Yang di selokan itu bukan jentik nyamuk penyebab DBD. Perhatikan di rumah jangan ada genangan air. Itu bisa jadi tempat mereka berkembang biak,” imbaunya.

Mengenai faktor cuaca yang terjadi akhir-akhir ini, mantan Direktur RSUP Bintan ini mengungkapkan, asalkan perilaku hidup bersih diterapkan, nyamuk tidak akan bersarang di rumah.

Menurutnya, penyemprotan asap atau fogging hanya jalan terakhir jika ditemukan adanya pasien DBD.

”Jadi, mencegah lebih baik dari pada mengobati. Fogging itu cara yang paling terakhir kami laksanakan untuk membasmi nyamuk,” tutupnya.(yui)