PT Adhya Tirta Batam (ATB) telah memulai proses pembangunan jalur distribusi baru sebagai bagian dari tahapan proses perbaikan kebocoran pipa distribusi di flyover Laluan Madani. Proses perbaikan sendiri telah dilakukan sejak 10 Juni 2019 lalu.

“Kita berharap pekerjaan bisa selesai tepat waktu,” ujar Head Of Corporate Secretary ATB, Maria Jacobus.

ATB membangun jalur distribusi baru sebagai bagian dari perbaikan kebocoran di tengah Flyover Laluan Madani. Kebocoran diketahui terjadi pada pipa di timbunan tanah di tengah jalan masuk (Oprit) jalan layang Laluan Madani. Diduga kebocoran terjadi saat pembangunan jalan layang (flyover ), dan tidak dilaporkan oleh pihak kontraktor kepada ATB.

Kebocoran terjadi tepat pada oprit di median jalan, karena itu ATB terpaksa harus membangun jalur baru. Sementara itu, jalur lama sepanjang 1 km terpaksa harus di non aktifkan. Tentu saja pembangunan jalur baru membutuhkan biaya yang cukup besar.

Kendati demikian, ATB tetap memilih membangun jalur distribusi baru untuk menjaga keandalan suplai kepada pelanggan. Pembangunan jalur baru ini sekaligus meningkatkan kualitas suplai di komplek Baloi One Resident, Baloi Mas, Batu Batam, Anggrek Permai, dan sekitarnya.

“Pipa bocor steel 600mm di flyover nantinya akan diputus di depan gedung M3G dan di depan jembatan RS Awal Bros,” jelasnya.


Pekerjaan Perbaikan Kebocoran Pipa Distribusi DN 600mm di Flyover Laluan Madani telah memasuki tahapan pemasangan jalur pipa distribusi baru

Setelah jalur baru selesai, maka distribusi air akan dialihkan melalui jalur baru sehingga gangguan suplai hanya akan terjadi saat pemindahan jalur distribusi. Estimasi waktu yang dibutuhkan untuk pemindahan jalur distribusi sekitar 5 jam.

“ATB akan menginformasikan kepada pelanggan dua hari sebelum gangguan terjadi. Area terdampak adalah Baloi Mas dan sekitarnya,” jelas Maria.

ATB mengimbau kesadaran semua pihak untuk melaporkan kebocoran yang ditemui. Jika dibiarkan berlarut-larut, maka kebocoran akan membawa dampak negatif, baik secara materil maupun kualitas pelayanan.

Potensi kerugian materil akibat kebocoran di flyover Laluan Madani diperkirakan mencapai Rp 70 juta/bulan. Selain itu, tekanan air pada jalur distribusi air di area Baloi Mas akan rendah. Performa tanki Ozon juga dipastikan menurun.

Kebocoran di oprit jembatan juga berpotensi membahayakan struktur jalan layang kebanggaan masyarakat Batam tersebut. Kebocoran bisa membuat struktur tanah di jalan layang menurun dan jalan utama akan selalu basah.

Data yang dipaparkan Maria, jumlah kebocoran pipa di Batam ternyata cukup tinggi. Selama rentang 2 tahun terakhir, jumlah kebocoran mencapai 198 titik setiap bulannya. Kebocoran akibat pihak ketiga rata-rata berada di atas angka 150 titik.

Kondisi tingkat kebocoran yang tinggi, upaya efisiensi penggunaan air akan sulit dicapai. Harusnya, dengan sumber air baku yang terbatas, penggunaan air bersih yang efisien harus semakin ditingkatkan. Termasuk menekan kebocoran-kebocoran melalui partisipasi warga.

Maria juga mengingatkan agar pihak-pihak yang hendak melakukan pengerjaan proyek hingga dapat berdampak pada pipa distribusi air agar menginformasikan terlebih dahulu kepada ATB.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada pemerintah dan masyarakat yang sudah peduli dalam melaporkan kebocoran flyover ini. Untuk menghindari kebocoran, kedepannya kami berharap pihak pelaksana pekerjaan bisa berkoordinasi dengan saat akan melakukan perkerjaan. Kami juga mengimbau warga dan semua pihak segera menginformasikan jika terjadi kebocoran. Mari kita bersama-sama jaga agar air kita tak terbuang sia-sia,” ujarnya.

Informasi dan pengaduan seputar kebocoran maupun layanan ATB lainnya dapat menghubungi Call Center ATB di (0778) 467111, Fanpages Facebook ATB Batam, atau fasilitas webchat www.atbbatam.com