batampos.co.id – Berbekal pengalaman sebagai atlet taekwondo, Soewito Trikusuman memutuskan untuk mendirikan sebuah tempat latihan taekwondo. Tempat latihan itu dia beri nama Dojang Kharisma Bangsa.

Dia berharap, kelak anak-anak yang didiknya memiliki kharisma tersendiri dan disegani banyak orang dimanapun mereka berada.

Soewito sudah melatih taekwondo sejak tahun 1993. Karir kepelatihan awalnya berpusat di kota kelahirannya, Jogjakarta. Pria yang bekerja sebagai seorang marketing produk material bangunan itu menjadi pelatih taekwondo di Batam pada tahun 2007 silam.

Saat itu dirinya melatih anak didiknya bersama istrinya Sabeum Go Sin Tje dan sahabatnya Master Siauw Lung Wu dan mendirikan dojang Kharisma Bangsa.

Ketika itu ceritanya, yang pertama kali latihan di dojang mereka adalah anak-anak usia 4 hingga 6 tahun. Soewito mengatakan bersama istri Sabeum Go Sion Tje dan sahabatnya Master Siauw Lung Wu, terus berkonsentrasi membentuk jiwa ksatria sekaligus mengarahkan anak didiknya untuk senantiasa melakukan kegiatan positif.

“Taekwondo sangat bermanfaat untuk membangun mental, meningkatkan percaya diri, membentuk karakter, memupuk jiwa disiplin yang berguna ketika melakoni pekerjaan apapun,” kata Soewito.

Pemegang sabuk hitam DAN III Internasional itu bercerita, bahwa untuk mempertahankan Dojang Taekwondo Kharisma Bangsa ini tidaklah mudah.

Para Taekwondoin Kharisma Bangsa berfoto bersama usai latihan. Foto: Iman Wachyudi/batampos.co.id

Mereka selalu didera persoalan. Mulai dari tempat latihan yang selalu berpindah-pindah dan jumlah murid yang tidak lebih dari 10 orang.

Namun Berbagai permasalahan yang mereka alami tetap membuat dojang ini berdiri sampai saat ini. Saat ini Kharisma Bangsa telah memiliki anggota lebih dari 300-an orang yang berasal dari berbagai usia.

“Anggota kami mulai dari anak TK, murid SD, SMP, SMA, Mahasiswa hingga masyarakat umum,” katanya.

“Kami tidak membatasi diri dalam menerima anggota. Semua bisa bergabung dengan kami, asalkan memiliki keinginan yang kuat untuk mengenal dan mempelajari olahraga taekwondo dengan serius dan sungguh-sungguh,” kata dia lagi.

Soewito mengaku, bahwa di dojang tempat mereka melatih selalu mengajarkan kepada murid-muridnya jase atau gerakan dasar, poomsae atau jurus, kyorugie atau perkelahian, kyupak atau pemecahan benda dan hosinsul atau beladiri praktis.

Namun di dojang Kharisma Bangsa, Soewito juga menekankan sikap disiplin, dan sopan santun kepada murid-muridnya.

“Mengajarkan tentang keberanian dan jurus-jurus itu penting. Tetapi yang lebih penting lagi mengajarkan bagaimana agar anak-anak lebih disiplin,” ujarnya.

“Memiliki tata krama dan sopan santun kepada siapa pun, itu jauh lebih penting lagi,” katanya lagi.

Bagi pria kelahiran Jogjakarta 1971 ini, segala sesuatu yang ia lakukan untuk anak didiknya bukan pada hal meraih prestasi dalam sebuah pertandingan saja.

Tetapi terus mengasah kemampuan murid-muridnya agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Soewito mengaku banyak muridnya yang sedari kecil dilatihnya kini sudah menjadi anggota polisi, TNI, jaksa, guru juga karyawan swasta di berbagai perusahaan ternama di Indonesia.

“Cita-cita terbesar kami, anak-anak yang berlatih di sini nantinya bermental tangguh, mempunyai etika dan budi pekerti yang luhur,” paparnya.

“Serta menjadi pribadi yang percaya diri. Dan karena sikap mereka, mereka dapat diterima masyarakat di mana saja mereka berada,” ujarnya.

Soewito bercerita, banyak anak-anak pertama kali datang ke dojangnya untuk berlatih yang tadinya sering sakit, cengeng dan manja.

Namun setelah beberapa kali latihan di dojangnya secara berangsur-angsur dapat berubah.

“Sesungguhnya tujuan dari berlatih taekwondo ini tak hanya beladiri saja. Tetapi juga kesehatan serta membentuk mental yang tangguh,” jelasnya.

“Beberapa anak yang berlatih taekwondo di sini yang dulunya cengeng kini menjadi anak yang kuat dan mandiri,” tuturnya.

Kini berkat ketekunan Soewito dalam mendidik murid-muridnya, banyak muridnya menorehkan prestasi di berbagai kejuaraan.

Baik di tingkat daerah, nasional maupun internasional. Dalam melatih murid-muridnya, Soewito juga tergolong pelatih bertangan dingin.

Para taekwondoin dari Dojang Kharisma Bangsa berfoto bersama seusai latihan di Kepri Mall. Foto: Imam Wachyudi

Setiap latihan, Soewito selalu meminta murid-muridnya melakukan latihan dengan sungguh-sungguh.

“Supaya menjadi suatu kebiasaan yang membuat kaki mereka bisa bergerak dengan luwes, terbiasa dengan tantangan dan berani mengaktualisasi diri meraih prestasi,” tutur Soewito.

“Kami sebagai pelatih dan orang tua hanya bisa melatih dan mendukung semaksimal mungkin. Semoga anak-anak yang berlatih dapat terus meraih prestasi dan bermental tangguh,” ujarnya lagi.

Ke depannya, Soewito mengatakan, akan terus menambah dojang-dojang lainnya agar lebih memasyarakatkan lagi beladiri taekwondo.

Serta mencari anak-anak untuk dididik menjadi atlet yang berkarakter. Sekarang ada belasan Dojang di Batam, hasil jerih payahnya bersama istri tercinta Go Sion Tje dan sahabatnya Master Siaw lung.

Dirikan 13 Dojang di Batam

Tercatat ada 13 dojang yang kini dilatihnya. Seperti Taekwondo Kharisma Bangsa di Anggrek Mas 3, Taekwondo Pro Kepri di Kepri Mall, Taekwondo Hanin di Lytech Industrial Park, Taekwondo Tunas Bangsa di Hotel Zia Boutique.

Kemudian Taekwondo Bhineka Tunggal Ika di DC Mall, Taekwondo Exhibition di Harbour Bay Mall, Taekwondo Sunrise di Cahaya Garden, Taekwondo Theodore School, Taekwondo Avava 1 Nagoya, Taekwondo Sekolah Penerbangan Angkasa Nasional Batam, Taekwondo Ketoprak Sido Mampir di Botania, Taekwondo Avava 3 di Mall Botania 2, dan beberapa kelas private lainnya.

Namun saat perjuangannya mulai terlihat, ternyata Tuhan memiliki cerita lain yang tak pernah diketahui umat-Nya. Istri Soewito, Go Sin Tje dipanggil oleh-Nya.

Kesedihan Soewito tak terperih, mengingat bagaimana dahulu mereka berjuang bersama-sama demi membesarkan Taekwondo di Kota Batam.(iwa)