Rabu yang lalu (26/6/2019), Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kota Batam mengundang saya sebagai Ketua Persatuan Wartawan In­donesia (PWI) Kepri dalam sebuah diskusi santai sambil ngopi sore.

Mereka meminta pandangan saya terkait pem­bangunan ekonomi Batam ke depan. Ketua ICMI Orda Batam, Dendi Gustinandar, menyebutkan, acara itu sengaja dikemas dalam bentuk Ngopi Bareng Cendikiawan Batam.

Sebuah acara sore, dengan format minum kopi dan mencicipi jajanan khas Indonesia sembari bertukar pikiran dalam konteks kebangsaan dan keilmuan.

Dalam diskusi yang dikemas secara santai itu, saya memaparkan salah satu konsen yang perlu lebih diperhatikan oleh para stakeholders Batam untuk ke depan adalah memberikan perhatian lebih serius kepada potensi kaum milenial (kaum muda) Kota Batam.

Potensi ini sesungguhnya dahsyat. Diperkirakan, jumlah kaum muda di Batam antara 26 sampai 30 persen.

Jika mereka diberdayakan, dirangkul, dan disentuh dengan bimbingan yang tepat, maka mereka bisa lebih berkontribusi.

Dari catatan, baru 1 persen sumbangan kelompok usaha digital dan kreatif untuk ekonomi Batam. “Itu pun karena ada Nongsa Digital Park,” tambah Dedi membenarkan.

Pada diskusi yang dipandu oleh Sekretaris ICMI Batam, Raden Dwi Wahyu Wijoyo, dan diikuti beberapa pengurus ICMI Batam itu, saya menjelaskan bahwa konsentrasi pembangunan di Batam memang sudah benar, yakni mengejar perbaikan infrastruktur jalan, jembatan, dan penataan akses transportasi.

Dengan infrastruktur yang semakin baik, jalanan yang semakin lebar, orang-orang akan senang ke Batam. Ini menunjang sektor pariwisata yang menjadi salah satu andalan ekonomi Batam di tengah kelesuan sektor lainnya.

Namun demikian, potensi sektor wisata dan ekonomi kreatif sebetulnya bisa lebih ditingkatkan. Syaratnya, fokus dan melibatkan semua pihak berkaitan dengan sektor tersebut.

Dalam industri wisata, misalnya, sebetulnya ada dua pendekatan yang harus difokuskan, yakni how to package dan how to sale.

Sebaik apapun potensi wisata kita, jika tak pandai mengemas (how to package), orang tak akan tertarik. Di sisi lain, secerdik apapun kita mengemas, jika tak pandai menjual (how to sale), ya hampir tak ada arti.

Jadi, semua stakeholders harus satu visi untuk wisata ini. Antara pemerintah dengan dewan, dan pelaku wisata, asosiasi, PHRI, Asita, travel, mesti duduk bersama. Juga soal anggaran.

Bagaimana mau menjual jika anggaran promosinya kurang? Untuk itu, Pemko Batam juga harus memperkuat tim lobi yang piawai melobi dewan dan pimpinan untuk urusan anggaran promosi wisata ini. Harus yang lentur.

Bukan yang kaku. Kalau kaku berhadapan dengan dewan, atau pimpinan, ya sulit menggolkan anggaran promosi wisata.

Demikian juga pengem-bangan destinasi dan event-event wisata. Juga terkait suvenir dan pusat-pusat suvenir produksi UMKM yang harus digalakkan di kampung-kampung tua, hotel, restoran, dan berbagai venue lainnya.

Ini harus melibatkan PHRI, Asita, pemda, dan DPRD sebagai regulator serta masya-rakat dimana wisatawan akan diarahkan. Alhamdulillah, saya pernah belajar soal wisata dan hospitality ini ke tujuh negara bagian di Amerika atas undangan Kemenlu AS tahun 2009. Hehe…

Edutown ala Asman

Di sisi lain, saya teringat diskusi yang lain dengan salah satu “begawan” ekonomi Batam, Asman Abnur.

Pria berdarah Minang yang insya Allah akan duduk untuk periode ketiga di DPR RI itu, saat ini sedang giat mem­bangun sebuah kompleks pendidikan dan bisnis yang dia sebut “edutown”, kota pendidikan.

Letaknya di kawasan Tiban, persisnya Tiban Ayu. Nah, ternyata, di kompleks seluas 26 hektare itu, mantan menteri PAN RB dan mantan wakil wali kota Batam itu juga mempersiapkan destinasi wisata.

Ya, wisata pendidikan. Hampir tiap hari ada saja kunjungan anak-anak sekolah, tamu dari dalam dan luar Batam datang berkunjung. Dia juga sudah melengkapi semua fasilitas praktikum bagi mahasiswa politeknik pariwisata (BTP) dan Iteba.

Di sisi halaman depan kampusnya, sudah ditanami aneka bunga dan buah-buahan. Salah satunya durian jenis unggul, musang king. Kelak, durian itu dibungkus khusus agar pengunjung dan mahasiswa tidak terganggu.

Di sisi lain, di sebuah lahan kontur berbukit, Asman akan membangun function hall yang dapat digunakan untuk aneka acara. Bisa untuk wisuda, pertemuan, workshop, serta acara pertemuan lainnya.

Ini juga potensi wisata MICE (meeting, incentive, conference, dan exhibition). Dari sini, mata pengunjung dapat melihat ke laut lepas di atas Tiban menghadap ke Singapura. Saat itu, saya diajak berkeliling bersama sahabat saya, Socrates.

Sementara itu, kembali ke acara ICMI di atas, pembicaraan terus berkembang ke hal-hal yang lebih substantif. Para pengurus ICMI Batam yang banyak juga dari kalangan pelaku bisnis itu, terlihat antusias mendengarkan penjelasan saya yang kebetulan sudah mengabdi di dunia media selama 26 tahun.

Kami yang bekerja di media ini memang bukan manusia unggul. Namun kami “mengerti sedikit tentang banyak hal”. Kami bukan ahli seperti spesialis yang “mengerti banyak tentang hal-hal sedikit”.(*)