Rabu, 15 April 2026

Pendapatan Rusunawa Pemko Batam, Lebih Besar Pasak Daripada Tiang

Berita Terkait

batampos.co.id – Pendapatan dari sewa Rumah Susun Sewa (Rusunawa) milik Pemerintah Kota (Pemko) Batam tidak sebanding dengan pengeluaran.

Alasan utama yakni tarif yang kini diterapkan adalah tarif 2011 lalu yang hingga kini tidak ada perubahan, sementara biaya pemeliharaan semakin tinggi.

“Jelas tidak seimbang antara pendapatan dan pengeluarannya. Tarif belum berubah sejak 2011 lalu,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Rusunawa Pemko Batam, Teguh, Kamis (4/7/2019).

Ia memaparkan, biaya operasional rusunawa Pemko Batam tahun 2019 ini sebesar Rp 7.352.302.045 dan pemeliharaan Rp 816.407.500.

Artinya biaya pengeluaran tahun ini sebesar Rp 8.168.709.545. “Sementara pendapatan semester pertama tahun ini Rp 2.844.810.000,” ungkapnya.

Sejatinya, pihaknya pernah berencana menaikkan tarif pada 2018 lalu. Namun batal dengan pertimbangan ekonomi masyarakat masih lesu dan Pemko Batam memastikan menunjukkan keberpihakan atas kondisi yang dialami masyarakat.

“Rusunawa ini kan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), untung bukanlah satu-satunya tujuan,” kata dia.

Rusun Pemko Batam di belakang Fanindo, Tanjunguncang, Batuaji. Foto: Dalil Harahap/batampos.co.id

“Artinya ada pertimbangan sosial, ini juga disampaikan pimpinan,” katanya lagi.

Ia menilai, hal ini juga banyak dilakukan di daerah lain. Pihaknya tidak ingin kenaikan tarif di tengah ekonomi yang masih lemah justru membuat rusunawa kosong.

Apalagi sejumlah rusun unit satuan rusun (Sarusun) kini ada yang kosong. Seperti Putra Jaya Tanjunguncang yang kosong sebanyak 105 sarusun dan di Batammec Tanjunguncang kosong sebanyak 516 sarusun.

“Daripada kosong mending murah dulu, rusun banyak tutup, seperti di Batammec itu karena galangan lesu,” ujarnya.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Permukiman dan Pertamanan (Disperkimtan) Kota Batam, Eryudhi Apriadi, mengatakan Rusun yang dikelola Pemko Batam sebanyak 30 twin blok.

Dengan 2.778 sarusun yang khusus ditempati warga yang sudah berkeluarga dan berpenghasilan rendah.

“Secara keseluruhan termasuk yang dikelola BP Batam, Jamsostek dan lain-lain di Batam sebenarnya ada 78 twin blok rusun,” jelasnya.

“Tapi secara keseluruhan jumlah unitnya kami tak tahu, yang dikelola Pemko ada yang kosong karena penghuninya pulang kampung karena kondisi ekonomi sekarang yang lesu,” paparnya lagi.

Rusun yang paling banyak kosong kata dia berada di daerah Tanjunguncang, Batuaji.(iza)

Update