batampos.co.id – Bahan bakar minyak (BBM) jenis premium kembali disoroti oleh masyarakat di Kecamatan Batuaji dan Sagulung.

Pasalnya bahan bakar tersebut kerap habis sehingga masyarakat terpaksa mengisi Pertalite atau Pertamax Turbo yang harganya lebih mahal.

Dari pantaun batampos.co.id, kelangkaan premium terjadi hampir setiap hari dan bahkan hanya dalam hitungan jam saja.

Seperti yang terjadi pada Sabtu (6/7/2019) sore, kemarin. Nyaris tidak ada SPBU di Batuaji dan Sekupang tidak memiliki stok premium.

Premium baru tersedia Minggu (7/7/2019) pagi dan itu pun sudah habis sebelum pukul 12.00 WIB.

Kelangkaan premium tersebut menimbulkan pertanyaan warga.

Pihak SPBU terlihat lebih mementingkan pembelian menggunakan wadah penampungan dibandingkan dengan pembelian yang langsung menggunakan kendaraan.

Warga menduga ada permainan pihak SPBU untuk mendapatkan keuntungan yang lebih dengan memprioritaskan pembelian menggunakan wadah tersebut.

Pantauan di lapangan, Minggu (7/7/2019) pagi kemarin, SPBU yang memilki stok premium seperti SPBU Tanjunguncang memang didominasi pengisian menggunakan wadah.

Puluhan bahkan ratusan jerigen berukuran 20 liter menumpuk di lokasi pompa pengisian premium.

Hal itu diperparah lagi dengan antrean panjang kendaraam siluman yang memodifikasi tanki minyak agar pengisian lebih banyak.

Premium yang tersedia habis tersedot oleh pengisian menggunakan wadah ketimbang pengisian langsung ke kendaraan.

Para pengendara sepeda motor mengantre di salah satu SPBU di kawasan Batuaji, Kota Batam. Foto: Eja/batampos.co.id

Antrean panjang kendaraan juga mengular hingga ke bahu jalan. Indra, warga yang antre untuk isi premium ke mobil pribadinya menyayangkan kondisi tersebut.

Dia berharap ada pengawasan dan penindakan dari instansi pemerintah terkait.

Sehingga tidak terjadi penyimpangan dalam pendistribusian premium.

“Antrean kendaraan sudah mengular ke jalan sana, tapi petugas (SPBU) sibuk layani yang beli pakai jerigan,” jelasnya.

“SPBU di Batuaji ini begini semua, apa istimewanya yang beli pakai jerigan dengan kami yang beli langsung seperti ini,” paparnya.

“Jangan-jangan ada sesuati makanya yang beli pakai jerigen diutamakan,” ujar Indra lagi.

Manajemen SPBU Tanjunguncang saat dikonfirmasi tak menampik pembelian premium dan juga solar didominasi menggunakan wadah.

Namun demikian pihak SPBU tak bisa berbuat banyak sebab pembelian menggunakan wadah tersebut sudah mengantongi surat rekomendasi dari instansi pemerintah terkait untuk kepentingan nelayan dan masyarakat pulau.
“Bukan diprioritaskan, sama semua kok kami layani,” papar Pengawas SPBU Tanjunguncang, Rofiq.

“Siapa yang datang kita layani sesuai giliran asalkan stok masih ada,” kata dia lagi.

Kenapa premium cepat habis dan terkesan langka?. Rofiq menjelaskan karena memang permintaan baik yang menggunakan wadah ataupun langsung ke kendaraan sangat banyak.

“Yang pakai surat rekomendasi untuk solar dan premium total ada 93 surat,” jelasnya.

“Satu surat jatahnya perdua bulan 6 sampai 9 ton. Belum lagi yang isi langsung jadi memang banyak (permintaan),” tutur Rofiq lagi.

Stok premium dan solar yang didatangkan perhari kata Rofiq, sebenarnya cukup banyak.

Yakni 24 ton untuk premium dan 8 ton untuk solar. Jumlah itu kata dia, tidak mencukupi untuk melayani sepanjang hari apabila ada peningkatan permintaan terutama pembelian dengan penggunaan wadah.

“Itulah situasinya, bukan karena ada sesuatu atau gimana, permintaan memang meningkat,” tuturnya.

“Yang pakai wadah tak bisa kami tolak karena mereka punya surat rekomendasi,” tutur Rofiq.(eja)