batampos.co.id – Film teranyar dari superhero Marvel, Spider-Man telah ditayangkan di layar lebar tanah air sejak 3 Juli 2019 lalu.

Menggunakan sub judul “Far From Home”, film yang dibintangi Tom Holland sebagai karakter tituler ini menjadi film penutup dari fase ketiga Marvel Cinematic Universe (MCU) yang sebelumnya tampil “perkasa” di box office lewat Avengers: Endgame.

Lantas seperti apa film pemungkas dari fase ketiga ini, yang dibintangi oleh manusia laba-laba sekaligus “tetangga yang baik”, Spider-Man ini? Berikut ulasannya ditulis wartawan intren.id, Lukman Maulana.

Mengambil latar waktu setelah event Avengers: Endgame, Far From Home dibuka dengan pertemuan Nick Fury (Samuel L. Jackson) dengan Quentin Beck (Jake Gylenhall) di sebuah desa di Meksiko yang hancur lantaran serangan makhluk menyerupai angin topan. Beck, yang mengaku berasal dari dimensi lain, lantas menginformasikan tentang ancaman makhluk-makhluk perusak yang dijuluki “The Elemental”.

Menyadari bahaya yang mengancam bumi, Nick Fury lantas mempertemukan Peter Parker (Tom Holland) alias Spider-Man dengan Quentin Beck, yang kemudian dikenal dengan sebutan Mysterio, untuk menghentikan aksi brutal The Elemental. Peter Parker yang tengah berlibur di Eropa pun dihadapkan pada dilema antara menghentikan The Elemental atau menyatakan cinta pada gadis yang disukainya, MJ (Zendaya).

Premis tersebut menjadi pengantar bagi penonton untuk masuk ke dalam guliran kisah heroik Peter Parker yang sekali lagi mesti berjuang di balik topeng Spider-Man. Lengkap dengan pergolakan darah remaja Peter, yang masih begitu naif dan ingin bersenang-senang, penuh dinamika.

Namun setelah durasi masuk ke pertengahan film, pertempuran yang sebenarnya barulah dimulai lewat plot twist yang mungkin sudah ditebak-tebak sebelumnya. Peter Parker harus berhadapan dengan lawan sesungguhnya yang lebih kuat dan licik, dengan kemampuan ilusi yang membuatnya sampai berdarah-darah dan juga membahayakan nyawa teman-temannya.

Dari segi cerita yang skenarionya ditulis oleh Chris McKenna ini, Far From Home terbilang kaya akan konflik. Namun begitu, guliran konfliknya ringan, mengalir alami bersamaan dengan guliran kisahnya yang mudah diikuti. Sehingga, begitu mudah bagi penonton untuk mencerna narasi film ini. Tak ada adegan yang berlebihan secara durasi, semuanya terasa begitu pas dalam mengisi ruang sepanjang dua jam lebih sembilan menit proyektor berputar.

(Foto: Sony Pictures)

Sekilas klise dan mudah ditebak, namun elemen keremajaan Peter yang begitu naif memberikan nuansa baru yang membedakan Far From Home dari film-film Spider-Man juga film-film Superhero Marvel terdahulu. Lantaran, bisa membawa penonton hanyut dalam emosi dan bersimpati dengan karakter Peter akibat kesalahan yang diperbuatnya.

Kelucuan yang begitu dikenang dari film pendahulunya, Homecoming, juga bisa kembali ditemukan pada Far From Home. Humor-humor yang ditampilkan dibawakan dengan sangat alami oleh para pelakonnya, baik oleh Peter maupun teman-teman dan juga duo gurunya yang kocak. Walaupun ada beberapa lelucon yang hit and miss, namun secara keseluruhan humornya bisa membuat penonton tertawa, minimal tersenyum.

Pun dari segi aksi, Far From Home seakan menjawab kritik atas film pendahulunya, Homecoming, yang disebut minim adegan kelahi.

Film yang diarahkan Jon Watts ini punya sederetan adegan pertarungan yang mewarnai hampir di sepanjang durasi, dengan jeda waktu antar adegan yang proporsional.

Apalagi adegan-adegan pertarungan yang ditampilkan terlihat begitu memukau dari awal sampai akhir. Termasuk pertempuran pemungkas yang bisa membuat mata ini terpana tak berkedip berkat kualitas pengambilan gambar yang mumpuni. Dengan lawan yang tak biasa dan belum pernah muncul dalam film-film terdahulunya, adegan pertempuran dalam film ini bisa dibilang fresh dan bakal memberikan pengalaman baru.

Dari segi audio, sebagaimana film-film superhero Marvel, Far From Home masih diiringi musik-musik latar dengan nuansa kepahlawanan. Bedanya, ada sentuhan musik-musik latar tradisional Eropa dari negara-negara yang menjadi latar tempat film ini. Meski begitu, tak ada yang begitu spesial dari komposisi musik garapan Michael Giacchino.

Cerita yang menarik dan adegan aksi yang menakjubkan seakan “meredam” kegemilangan departemen musik yang ditampilkan.

Sulit untuk mencatat kelemahan dari film ini, karena di satu sisi, kelemahan tersebut bisa jadi suatu kelebihan. Yaitu elemen-elemen cerita yang masih berhubungan dengan film-film Marvel terdahulu, khususnya Avengers: Endgame. Hal ini membuat Far From Home sulit untuk menjadi sebuah film yang berdiri sendiri. Ini berpotensi membingungkan penonton yang tidak mengikuti MCU dari awal.

Namun di satu sisi, potongan-potongan kisah dari film terdahulu tersebut menjadi semacam “penguat rasa” bagi para penonton MCU “garis keras” yang telah mengikuti semestanya dari film Iron Man yang pertama. Apalagi, motif dari tokoh antagonis di film ini berhubungan dengan karakter kunci MCU, Iron Man.

Seakan memunculkan anggapan bahwa cerita pada film-film terdahulu bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk film-film yang akan datang.

Dari departemen akting, tak banyak yang bisa dikritik. Pasalnya setiap pelakon mulai dari Tom Holland selaku tokoh utama, hingga karakter figuran macam Happy yang diperankan Jon Favreau bisa dibilang menjalankan tugasnya masing-masing dengan sangat baik bahkan cenderung komikal.

Termasuk akting Zendaya sebagai MJ, terlihat begitu natural dan menggemaskan, menambah warna pada “cinta monyet” Peter Parker yang menjadi salah satu fokus utama film ini. Sayangnya, penggambaran proses hubungan keduanya untuk saling menyukai satu sama lain terasa kurang kuat. Tapi itu bisa dimaafkan mengingat film ini adalah film superhero, bukan film percintaan.

Yang menarik dan menjadi perhatian adalah adanya figuran teman sekolah Peter yang berhijab, yang muncul beberapa kali di film ini. Hal ini tentu menjadi warna baru bagi film Hollywood, khususnya film superhero yang selama ini kerap menampilkan simbol-simbol Islam sebagai simbol kekerasan.

Tampaknya Hollywood, khususnya Disney selaku empunya Marvel mulai bisa menerima keberagaman dengan menampilkan simbol Islam yang netral, walaupun hanya sekelebatan saja.

Secara keseluruhan Far From Home adalah film yang bakal memuaskan para penontonnya, khususnya penggemar Spider-Man. Ada banyak hal yang membuat film ini terasa layaknya fanservice. Mulai dari kostum-kostum yang dikenakan Spider-Man dalam film ini, kisah cinta Peter-MJ, hingga penampilan salah satu musuh besar Spider-Man dalam film ini yang seakan mimpi jadi nyata.

Film ini punya tidak berakhir sebagai film superhero yang kosong. Melainkan, memiliki pesan-pesan moral yang cukup menggugah. Salah satunya yaitu yang dikatakan Mysterio, bahwa di masa sekarang ini orang bisa percaya apa saja yang terlihat. Seakan menjadi kritik sosial akan derasnya arus berita palsu alias hoaks yang dewasa ini semakin masif saja.

Dan ya, sebagaimana ciri khas film-film MCU, terdapat dua adegan akhir di pertengahan dan akhir kredit film yang sayang untuk dilewatkan. Adegan di pertengahan kredit film bahkan bisa dibilang semacam plot twist yang mengejutkan, seakan menjadi penyambung untuk sekuel film ini ke depannya. (luk)