Lahan hutan yang semakin berkurang memengaruhi kondisi waduk. Sedimentasi di waduk semakin mengkhawatirkan, karena fungsi hutan untuk meminimalisir dampak tersebut semakin kecil.

Akibatnya, daya tampung waduk menurun. Hutan punya peran strategis bagi Batam karena menjadi faktor utama yang menjamin ketersediaan air bersih.

Batam tak memiliki sumber air baku selain dari hujan yang ditampung di waduk-waduk. Hutan secara langsung berperan mengatur air dari curah hujan, dan menjaga kualitas waduk dari sedimentasi.

Untuk mendukung proses itu, maka kuantitas hutan yang ada di Batam juga harus mencukupi.

Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2017 tentang Rencana Tata Ruang Nasional menyebutkan, luas hutan lindung untuk wilayah Sumatera minimal harus mencapai 40 persen dari luas wilayah.

Di lain pihak, UU Penataan Ruang menyebutkan, Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang ada di sebuah kawasan mininal harus memenuhi 30 persen dari luas wilayah.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam merilis data luas hutan Batam 2014, yang dikeluarkan pada 2015 silam.

Dari data tersebut diketahui luas hutan lindung di pulau Batam adalah 12.890,8 hektare, atau sekitar 31,07 persen dari luas pulau Batam yang mencapai 41.500 hektare.


Melalui kegiatan tanam pohon, upaya ATB untuk konservasi daerah resapan air sekitar waduk di Kota Batam

Ada 12 titik hutan lindung di Batam, di antaranya Baloi, Nongsa I, Nongsa II, Duriangkang, Bukit Dangas, Seiharapan, Bukit Tiban, Seiladi, Mukaku-ning, Batuampar, Tanjungpiayu, dan Seitembesi.

Namun kini, kualitas hutan di Batam, terutama yang berada di Daerah Tangkapan Air (DTA) tidak lagi seperti yang diharapkan.

Salah satu yang cukup mengkhawatirkan ada di Hutan Seiharapan. Menipisnya hutan di sana mempercepat sedimentasi waduk, sehingga kualitas waduk tak lagi sama.

Kondisi ini harus menjadi perhatian bersama. Karena itu, PT Adhya Tirta Batam (ATB) terus berupaya meningkatkan kesadaran bersama terhadap pentingnya menjaga kualitas hutan di area tangkapan air.

Salah satunya melalui ATB-BP Batam Festival Hijau yang diselenggarakan sejak tahun 2011 silam. Melalui kegiatan tahunan ini, ATB mengajak masyarakat untuk melihat kondisi hutan terkini dan memahami kaitannya secara langsung dengan ketersediaan air baku.

”Kesadaran tentang pentingnya melestarikan hutan demi menjaga sumber air kita sangat penting,” kata Head of Corporate Secretary PT ATB, Maria Jacobus.

Sejak 2011 hingga 2018 lalu, ATB sudah menanam 10.700 bibit pohon di daerah tangkapan air.

Tahun ini akan ada 1.000 bibit pohon yang kembali akan ditanam di 2 lokasi DTA, yakni DTA Dam Duriangkang dan Dam Seiharapan.

Menurutnya, jumlah pohon yang ditanam masih sangat kecil dibanding dengan kebutuhan rahabilitasi hutan saat ini.

Namun melalui kegi-atan ini, ATB ingin menginspirasi semua pihak untuk berbuat hal yang sama.

”Kegiatan menanam pohon di daerah tangkapan air bisa menjadi bagian dari program bersama. Apa yang kami lakukan belum apa-apa,” katanya.

“Tapi jika ini bisa dilakukan bersama menjadi sebuah gerakan, yang kami yakin hutan di dareah tangkapan air bisa menjadi lebih baik,” jelasnya lagi.

Dalam kesempatan itu, akan ada sedikitnya 1.000 pesepeda yang turut bergabung dalam kegiatan penanaman pohon, Minggu (28/7/2019) mendatang.

Mereka akan dibawa melihat langsung kondisi Dam Seiharapan setelah terjadi kekeringan yang menyebabkan ATB terpaksa harus melaksanakan penggiliran distribusi air beberapa bulan silam.

ATB sengaja memfokuskan kegiatan penanaman pohon di Waduk Seiharapan karena kondisi hutannya yang sudah cukup memprihatinkan.

Sejumlah titik di hutan ini telah terbakar, sementara beberapa titik lainnya gundul.
Air baku di waduk pertama di Batam inipun sempat tidak mampu mencukupi kebutuhan air warga Tanjungpinggir, Tanjungriau, Sekupang, sebagian Tiban, dan sekitarnya akibat kekeringan.

”Dengan memusatkan kegiatan di sana (Seiharapan), kita bisa melihat bersama-sama kondisi waduk terkini,” paparnya.

“Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat secara langsung terhadap pentingnya peran hutan untuk menjaga keberlangsungan sumber air baku bagi Batam,” terang Maria lagi.

Ia berharap kesadaran untuk menggunakan air seperlunya bisa tumbuh. Masyarakat bisa melihat betapa terbatasnya sumber air baku yang ada di Batam, sehingga perlu digunakan secara bijaksana.

”Pemahaman masyarakat terhadap terbatasnya sumber daya air sangat penting. Sehingga masyarakat mau menggunakan air seperlunya, bukan secukupnya,” tutupnya. (*)