batampos.co.id – Peran hutan dalam menjaga ketersediaan air, patut menjadi perhatian bersama. Di Batam, kondisi hutan itu tak sepenuhnya baik. Selain akibat kerusakan yang disengaja (faktor manusia), juga terdapat faktor lain yang menyebabkan kegundulan hutan.

Sebagai perusahaan pengelola air bersih di Batam, PT.Adhya Tirta Batam (ATB) bersama Badan Pengusahaan (BP) Batam memulai langkah preventif melalui Program Festival Hijau sejak 2011 lalu. Program tahunan itu, merupakan bagian dari program konservasi sumber daya air yang dilaksanakan ATB untuk kelancaran suplai air di Batam.

Tahun ini, Festival Hijau kembali digelar dengan memusatkan penanaman 1.000 bibit pohon di dua titik yakni, hutan di Dam Duriangkang dan Dam Sei Harapan. “1.000 bibit pohon yang akan ditanam di kedua hutan tersebut dianggap paling mendesak untuk dilakukan penanaman, karena mengalami kerusakan cukup parah,” kata Head of Corporate Secretary ATB Maria Jacobus, beberapa waktu lalu.

Keadaan itupun dibuktikan dengan mengajak Batam Pos untuk meninjau langsung ke hutan secara bertahap yaitu, penijauan di Dam Duriangkang pada Senin (8/7) lalu, dan Dam Sei Harapan pada Senin (15/7) mendatang. Dalam kegiatan itu juga, dilakukan penanaman awal sebelum acara puncak Festival Hijau 2019, Minggu (28/7) nanti.

Diketahui, Dam Duriangkang merupakan waduk dengan sumber air terbesar (hampir 75 persen) untuk masyarakat di Batam, yang berada di tengah hutan lindung Sei Daun, Duriangkang. Namun demikian, hutan yang diharapkan mampu menjadi area resapan (tangkapan) air paling banyak itu, cukup mengkhawatirkan.

Penanaman bibit pohon di Duriangkang dalam rangka ATB-BP Batam Festival Hijau, Senin (8/7). ATB menggandeng Komunitas Budaya Mangrove dan Siswa Pencinta Alam untuk menanam dan merawat pohon yang telah ditanam. F.ATB UNTUK BATAM POS

Saat penijauan ke Dam Duriangkang, Senin (8/7), sekitar 5 sampai 6 hektare lahan hutan mengalami kegundulan. Kondisi tersebut setidaknya membutuhkan 10 ribu batang pohon untuk memaksimalkan fungsi hutan. Di samping itu, juga terdapat adanya tanda-tanda aktivitas manusia di sekitar waduk yang memicu sedimentasi.

“Inilah yang menjadi kekhawatiran kami, dan langsung mengambil tindakan dengan memulai menanam 600 batang pohon di hutan Sei Daun, dari 1.000 batang yang telah disiapkan dalam Festival Hijau tahun ini,” terang Maria.

Meski jumlah pohon yang ditanam masih sangat kecil dibanding dengan kebutuhan rahabilitasi hutan saat ini, namun melalui kegiatan Festival Hijau diharapkan dapat menginspirasi semua pihak untuk berbuat hal yang sama.

“Kami ingin masyarakat peduli dan semakin memahami kaitannya dengan ketersediaan air baku. Karena, semakin baik area resapan air itu maka semakin lancar juga suplai air ke masyarakat,” jelasnya.

Penanaman 600 batang pohon yang diantaranya terdiri dari pohon Trembesi, Pulai, Merbau, Jambu Mede dan Mangga Hutan, dilakukan ATB-BP Batam melalui Komunitas Budaya Mangrove bersama 50 pelajar dari SMK Penerbangan SPN Dirgantara Batam. Walaupun di tengah hujan deras, semangat mereka pun tak hilang sehingga tugas tersebut dapat terselesaikan dengan baik.

Ketua Budaya Mangrove Feri Irian menambahkan, 600 batang pohon itu ditanam di dua titik berbeda yang menjadi area cukup perlu dilakukan penanaman di Hutan Sei Daun, Duriangkang.

“Pohon yang ditanam dengan ketinggian rata-rata di atas 1 meter, sehingga jarak antar pohon sekitar 5 meter persegi dan kedalaman lubang 50 centimeter. Sampai pohon ini bisa tumbuh lepas di tahun keempat, maka kami akan secara berkala melakukan peninjauan guna memastikan pertumbuhannya,” ungkap Feri. (nji)