batampos.co.id – Menjaga hutan di Daerah Tangkapan Air (DTA) merupakan tanggungjawab bersama. Namun butuh upaya edukasi yang berkesinambungan untuk menumbuhkan kesadaran tersebut. Terutama untuk menanamkannya menjadi budaya.

Menumbuhkembangkan budaya menjaga hutan menjadi kebutuhan bagi Batam. Karena kota tanpa sumber air alami ini benar-benar hanya mengandalkan hutan untuk menjaga keberlangsungan sumber airnya.

Sayangnya, kepedulian terhadap hutan masih belum tumbuh menjadi kesadaran bersama. Sehingga program-program menjaga DTA kerap dilakukan parsial dan tak berkesinambungan. Akibatnya, hasilnya tidak optimal.

Berangkat dari kesadaran tersebut, PT Adhya Tirta Batam (ATB) bersama Komnitas Budaya Mangrove tengah mendesain skema berkelanjutan dari kegiatan ATB-BP Batam Festival Hijau. Salah satu DTA yang akan ditanami pohon pada kegiatan tersebut akan dikembangkan menjadi pusat edukasi.

“Kami berterimakasih kepada Komunitas Budaya Mangrove yang telah membantu kami merealisasikan program ini,” ujar Head of Corporate Secretary ATB Maria Jacobus, Kamis(11/7).

ATB menggandeng Komunitas Budaya Mangrove dan Siswa Pencinta Alam untuk menanam dan merawat pohon yang telah ditanam di Duriangkang, sekaligus menjadi edukasi bagi para siswa. F.ATB UNTUK BATAM POS

Tahun ini akan ada 1.000 bibit pohon yang ditanam di dua DTA berbeda. Yakni DTA Seiharapan dan Duriangkang. Rencananya lokasi penanaman bibit pohon di DTA Duriangkang akan dikembangkan menjadi hutan edukasi.

Ada sekitar 5 hektar lahan yang bisa dimanfaatkan untuk tujuan edukasi. Hutan di kawasan tersebut steril dari pemukiman warga, namun hutannya cukup tipis. Program penanaman pohon tersebut nantinya sekaligus memperlebat hutan di sana.

“Lokasi persisnya ada di Seidaun,” ujar Ketua Komunitas Budaya Mangrove, Feri Irian.

Hutan edukasi ini nantinya akan menjadi tempat bagi warga yang ingin belajar mengenai hutan secara utuh. Mulai dari jenis-jenis pohonnya, bagaimana menanam pohon, hingga merawat pohon hingga bisa bertahan hidup.

“Selain itu kita akan memberikan edukasi mengenai pentingnya peran hutan bagi Batam. Bagaimana pulau ini sepenuhnya bergantung kepada hutan,” jelasnya.

Sasaran program ini adalah para pelajar yang ada di Batam. Untuk tahap pertama sudah ada 2 sekolah yang digandeng. Yakni SMK Negeri 7 Batam dan SMK Penerbangan. Siswa di sekolah tersebut akan rutin mendatangi hutan Seidaun untuk belajar.

Menurut Feri, pihaknya dan ATB fokus untuk menumbukan pemahaman tentang pentingnya hutan kepada pelajar. Tujuannya untuk menanamkan kecintaan tentang hutan sejak dini kepada generasi muda di Batam.

“Kalau pemahaman mereka sudah benar, maka kulturnya akan tumbuh dengan sendirinya. Jadi kita ingin mengembangkan kesdaran ini menjadi budaya,” terangnya.

Ia berharap, aksi ATB dalam Festival Hijau ini menjadi inspirasi bagi stakeholder lainnya. Program-program lingkungan yang selama ini digagas ATB bisa menjadi contoh bagi perusahaan lain untuk melakukan hal yang sama.

“Kami mengimbau stakeholder lain untuk men-support kegiatan ini,” pintanya. (*)