ENTREPRENEUR. Sebuah kata yang dalam dekade terakhir sering diucapkan, di ruang-ruang privasi, hingga ruang publik, seperti seminar, workshop, focus group discussion (FGD), di bangku kuliah, bangku sekolah anak-anak SMA/SMK, bahkan di tempat-tempat ibadah, dalam diskusi ekonomi remaja masjid, remaja gereja, vihara, dan ummat. Tujuannya, menumbuhkan semangat kewirausahaan, semangat berusaha sendiri, mandiri, bukan hanya makan gaji.

Sebenarnya, apa sih entrepreneur itu? Samakah dengan entrepreneurship? Menurut pakar ekonomi publik Hermawan Kartajaya, entrepreneur adalah sebuah upaya untuk menciptakan konteks nilai melalui proses pengamatan dalam peluang bisnis, mem­bangun manajemen untuk menghindari kemungkinan timbulnya risiko, serta kemampuan berkomunikasi dan memanfaatkan sumber daya di sekitarnya. Contohnya ada­lah sumber daya manusia, untuk membuat sesuatu yang bisa mendatangkan keuntungan. Sederhana bukan?

Lalu, apa lagi kata pakar asing, Robbin & Coulter. Me­nu­rutnya, entrepreneur ada­lah suatu proses ketika seseorang atau kelompok individu melakukan sebuah upaya yang terorganisir, juga sarana untuk mendapatkan peluang dan menghadirkan suatu nilai yang tumbuh dengan memenuhi kebutuhan juga keinginan. Hal itu didapat melalui sebuah keunikan dan inovasi, tidak mempedulikan apapun sumber daya yang digunakan pada saat ini. Mulai sedikit rumit pengertian ala bule ini.

Tapi, baiklah, untuk simplifikasi alias penyederhanaan, secara umum, istilah entrepreneur ditujukan kepada “Seseorang yang melakukan sebuah kegiatan berwirausaha”. Namun, dia memiliki ciri-ciri yang cukup melekat dengan kemampuannya untuk mengenali suatu kondisi yang menguntungkan, jeli dalam mencari peluang dan produk baru, tahu bagaimana cara membuat perencanaan pemasaran dan me­ngatur modal, serta memiliki perhitungan kesuksesan pasar.

Nah, mirip pengusaha, namun dia lebih luas. Singkatnya, pengusaha belum tentu seorang entrepreneur, namun entreprenuer sudah pasti seorang pengusha, karena ada ciri inovasi, menemukan produk baru, mengorganisir, menjual, dan lain sebagainya yang lebih luas cakupannya. Jadi, entrepreneur adalah pelakunya, sedangkan entrepreneurship kata sifatnya, yakni kewirausahaan.

Seiring dengan perkem­bangan zaman, teknologi, pranata sosial, dan tantangan global, belakangan ini entrepreneur semakin berkembang. Beberapa literatur menyebutkan, sedikitnya ada empat jenis entrepreneur hari ini.

Pertama, social entrepreneur. Umumnya, bisnis ini akan dilakukan oleh orang yang berkecimpung di dunia pelayanan sosial seperti kesehatan, pendidikan, dan sebagainya yang membutuhkan dukungan sumber daya manusia. Misalnya, mereka yang membuka PAUD, Taman Kanak-Kanak, atau membuka klinik.

Kedua, lifestyle entrepreneur. Kategori ini memasukkan jenis bisnis independen yang dikuasai oleh satu orang. Entrepreneur model begini hidup di jalan yang ia pilih sendiri. Istilah kerennya indie. Dengan kata lain, sesuai style-nya atau passion-nya.

Contoh mudah dari entrepreneur ini adalah membuka bisnis studio foto (apabila ketertarikannya di bidang fotografi), membuka bisnis jual alat musik (apabila seorang pencinta musik), membuka bisnis kopi (apabila dia seorang coffee lover atau peraciknya/barista), dan lain sebagainya.

Jenis ketiga, amateur entrepreneur. Aha! Ternyata ada ya jenis amatir? Maksudnya, adalah jenis entrepreneur pemula yang belum berpengalaman (amatir). Umumnya jenis ini akan mendirikan sebuah bisnis yang masih dalam taraf biasa saja dan tidak memiliki landasan logis, namun mengikuti trend. Contohnya bisnis online shop dan sebagainya. Hihi…

Lalu yang keempat, profesional entrepreneur, yakni seorang entrepreneur profesional yang berpengalaman di bidangnya. Jenis ini sangat mudah dipahami, karena memiliki ciri mencolok dan umumnya bisnis yang didirikan dalam skala besar. Contohnya adalah membuka sebuah kafe aneka sajian dengan interior keren, mendirikan semacam co-working space, serta jenis-jenis usaha padat modal lainnya.

Oleh sebab itu, secara umum, istilah entrepreneur ditujukan kepada seseorang yang melakukan sebuah kegiatan berwirausaha. Mereka ini memiliki ciri-ciri yang cukup melekat dengan kemampuannya untuk mengenali suatu kondisi yang menguntungkan, jeli dalam mencari peluang dan produk baru, tahu bagaimana cara membuat perencanaan pemasaran dan mengatur modal, serta memiliki perhitungan kesuksesan pasar. Gotcha!

Jika Anda sudah lebih paham makna entrepreneur, ada baiknya kemudian mengenali sifat-sifat entrepreneur sebelum benar-benar mene-kuni profesi ini. Apakah ciri-ciri seorang entrepreneur? Secara umum, dapat dibagi ke dalam 10 ciri-cirinya. Wah, banyak ya?

Ciri yang pertama, seorang entrepreneur harus “memiliki mimpi besar”.

Ciri orang seperti ini tidak puas dengan keadaan, ingin melakukan hal yang lebih dan lebih.

Ciri kedua, “pandai mengatasi ketakutannya”. Dia tidak takut berpindah dari zona nyaman (comfort zone), berani mengambil risiko yang sudah dia perhitungkan.

Ciri ketiga adalah “mempunyai cara pandang yang berbeda”, maksudnya seorang entrepreneur selalu memandang masalah, kesulitan, keadaan lingkungan, perubahan trend, dan kejadian yang sedang dihadapinya saat ini, sebagai cambuk untuk memunculkan kreativitas baru guna menciptakan ide-ide bisnis dan konsep bisnis yang memilki prospek cerah.

Keempat, dia “pemasar sejati atau penjual ulung”. Nah, ini istilah kerennya adalah the good marketer. Pandai menjual barang dagangannya dengan segala bujuk rayu dan pengenalan produk yang sangat baik (product knowledge).

Kelima, menyukai tantangan. Tidak sedikit orang memilih untuk bertahan di zona nyaman dan menurut mereka aman. Namun, seorang entrepreneur tidak suka berlama-lama dengan kegiatan yang monoton. Dia lebih suka menggunakan kreativitasnya untuk mengubah tantangan menjadi peluang bisnis.

Lalu ciri keenam, mempunyai keyakinan yang kuat. Seorang entrepreneur meyakini bahwa kegagalan itu sebetulnya tidak ada. Bagi mereka, yang ada adalah rintangan kecil, sedang, dan besar. Kegagalan hanya terjadi pada orang yang tidak berusaha mencari jalan keluar.

Kemudian ketujuh, selalu mencari yang terbaik, karena entrepreneur cenderung seorang yang perfeksionis.

Kedelapan, disiplin waktu untuk pemenuhan target.

Ciri kesembilan, memiliki kemampuan untuk memimpin. Dia memiliki jiwa kepemimpinan, dapat memotivasi diri sendiri dan orang lain, cakap dalam mengambil keputusan. Ketika memimpin, entrepreneur harus siap menjadi pemimpin yang baik bagi karyawannya, karena karyawan akan berkaca pada diri pemimpinnya. Dia juga jadi teladan yang baik bagi karyawan dan mampu mendorong karyawan agar dapat memberikan yang terbaik.

Lalu kesepuluh, pantang menyerah. Seorang entrepreneur tidak kenal menyerah. No way to surrender! Seorang entrepreneur memiliki visi dan semangat juang yang besar. Dia tidak akan diam begitu saja melihat kegagalan. Mereka akan selalu mencari jalan keluar (way out) agar bisa meraih impiannya.

Pertanyaannya, apakah semua orang mampu menjadi entrepreneur? Mestinya mampu. Sebab manusia itu mengenal teori evolusi. Menyesuaikan dengan lingkungannya. Dengan tantangan yang dihadapinya. Masalahnya, tidak semua orang mau melakukannya, tidak semua mau bersusah-payah mewujudkan keinginan-keinginannya untuk melompat lebih tinggi, keluar dari comfort zone, think out of the box, dan meraih mimpi-mimpi. Maka, berbanggalah Anda yang muda-muda yang hari ini telah memulai sesuatu yang luar biasa, menjadi bos bagi diri sendiri dan mempekerjakan orang lain. Go entrepreneur! (*)