batampos.co.id – PERTUMBUHAN ekonomi Singapura pada kuartal kedua tahun ini melambat menjadi 0,1 persen. Persentasi ini menjadi yang terendah dalam satu dekade pertumbuhan bisnis di negara kota tersebut.

Fakta penurunan ini mematahkan perkiraan para ahli ekonomi negara tersebut yang menyebutkan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 1,2 persen.



Menurut data Bloomberg seperti dilansir dari Channel News Asia, Jumat (12/7) lalu, dilihat dari Produk Domestik Bruto, ini terendah sejak 2009 di kuartal yang sama.

Sebelumnya, dalam jajak pendapat yang dilakukan Reuters, angka kuartal kedua ini jauh lebih rendah dari 1,1 persen dibanding perkiraan para ekonom.

Pada basis tahunan yang disesuaikan antarkuartal, PDB Singapura berada pada angka 3,4 persen, jauh di bawah perkiraan median 0,1 persen dalam jajak pendapat Reuters dan pembalikan dari pertumbuhan 3,8 persen pada kuartal sebelumnya.

Singapura

Adalah industri manufaktur, menjadi penyumbang terbesar sekitar 1/5 pertumbuhan ekonomi 0,4 persen pada kuartal pertama untuk kontrak dengan 3,8 persen pertumbuhan antara April dan Juni pada basis year on year.

Juru Bicara Departemen Perdagangan dan Industri (MTI) Singapura menyebutkan, kondisi ini disebabkan penurunan pendapatan dari industri elektronik dan kelompok teknik presisi.

”Sementara di sisi lain, sektor konstruksi turut menyum-bang pertumbuhan ekonomi setelah manufaktur dan di belakang peningkatan kegiatan konstruksi sektor pub-lik. Ini tumbuh sebesar 2,2 persen pada basis year on year tahun sebelumnya, memperluas ekspansi 2,7 persen pada kuartal sebelumnya,” ujar MTI.

Sementara itu, ekspor domestik non migas mencatat penurunan dua digit secara berturut-turut sejak tiba bulan lalu. Untuk setahun penuh, MTI memperkirakan pertumbuhan PDB Singapura akan berada di antara 1,5 dan 2,5 persen, meskipun kisaran perkiraan itu akan direvisi Agustus mendatang, menyusul serangkaian indikator ekonomi yang hasilnya tidak memuaskan.

Para ekonom berpendapat, penurunan ini terjadi turut dipengaruhi kondisi perang dagang yang berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

”Tentu ini membebani industri, perdagangan, dan investasi secara global,” jelas MTI.

Sementara itu, Kepala Sentral Bank Singapura Ravi Menon menyebutkan, pertumbuhan Singapura untuk 2019 berjalan ini akan terjadi pelemahan di bulan-bulan berikutnya.

”Kemung-kinan akan lebih lemah daripada yang diperkirakan sebelumnya,” ujarnya. (cha)

Loading...