batampos.co.id – Wildan menyusun buku-buku koleksinya di atas terpal. Beberapa temannya yang lain juga sibuk membereskan sekitar lokasi agar tanpa lebih rapi dan bersih.

Sebagian lagi terlihat mengemas tatanan meja kecil untuk menyeduh kopi, sebagai pelengkap sajian membaca buku bagi yang tertarik mampir ke perpustakaan jalanan yang mereka buka.

Saban Sabtu sore, pria 25 tahun itu bersama rekan-rekannya membuka gerai perpustakaan jalanan mereka berada 200 meter dari Pasar Sagulung, Perumahan Sagulungpermai Blok F, Sagulung Kota.

Di perpustakaan itu para pengunjung dapat membaca berbagai macam jenis buku. Mulai dari filsuf, pengetahuan, agama, umum, puisi, sosial dan bacaan anak-anak.

“Ini sudah kali kedua di bulan Juli kami membuka perpustakaan jalanan di sini,” kata dia, saat ditemui batampos.co.id, Sabtu, (13/7/2019).

Perpustkaan jalanan yang milik Wildan dan rekan-rekannya di Perumahan Sagulungpermai Blok F, Sagulung Kota. Meski baru dua minggu dibuka, perpustakaan jalan itu mendapatkan respon positif dari masyarakat sekitar. Foto: Azis Maulana/batampos.co.id

Kata dia, semangat memperjuangkan literasi lewat perpustakaan jalanan merupakan gagasan awal mereka.

Sebagai pencandu buku, Wildan, ingin menuangkan pengalamannya dalam membaca buku.

Selain itu ia ingin memberikan manfaat akan membaca bagi kaula muda dengan mengajak masyarakat untuk membaca buku bersama.

Ia bersama rekan-rekannya kerap membaca buku dan berdiskusi dengan pengunjung atau pun merekomendasikan buku bacaan kepada pengunjung perpustakaan mereka.

“Mungkin energi positif yang bisa saya curahkan iya berbentuk berbagi tempat bacaan seperti ini,” jelasnya.

“Sehingga masyarakat juga semakin open minded membuka wawasan,” ujar Alumni Amikom Jogya itu.

Bagi Wildan, ini bukan sekedar kegiatan kumpul-kumpul semata. Niat dan tujuannya sedari awal adalah untuk membuat buku kembali menjadi primadona di tangan.

Sementara gadget hanya untuk urusan hal-hal penting semata.

Kata dia, niat membuka perpustakaan jalanan sudah terbesit dibenaknya sejak menimba ilmu di Kota Yogyakarta.

Aura dan iklim Yogja baginya cukup menyihirnya untuk belajar. Di sana pula dirinya cukup banyak pembaca. Dari sana pula ide awal Wildan untuk membuat pustaka di Kota Batam.

Beberapa pengunjung perpustakaan jalanan yang digawangi Wilda di sekitar area Sagulung, Kota Batam. Perpustakaan jalanan tersebut memiliki sekitar 100-an buku. Foto: Azis Maulana/batampos.co.id

“Seperti Yogyakarta, saya ingin mendorong kota ini memiliki minat atau ketertarikan sangat besar akan buku, dalam artian membacanya,” ujarnya.

Wildan juga mengatakan, pembuatan perpustakaan jalanan itu juga dilatar belakangi keperihatinan dengan generasi mileneal, yang cenderung menghabiskan waktu bersama gadget mereka.

Buku-buku yang ada di perpustakaan jalanan itu rata-rata koleksi pribadi. Namun sebagian lagi merupakan donasi dari para pembacanya.

Total ada 100-an lebih koleksi buku yang ada pada perpustakaan jalanan tersebut.

“Kami menyiapkan ini semua dengan sukarela,” jelasnya lagi.

Tujuan lain perputakaan jaloanan itu kata dia, adalah hadir ke ruang publik. Baik itu anak kecil, orang tua, pedagang kecil, komunitas anak muda, dan berbagai lapisan masyarakat lainnya ada di sana.

“Kita ingin hadir di ruang publik karena dari situ ada interaksi,” paparnya.

“Kami terbuka dengan segala bentuk donasi berbagai jenis buku. Kami juga ingin menambah koleksi buku kami,”terangnya.

Kata dia, sumbangan buku akan sangat berarti bagi ia dan kawan-kawannya pegiat perpustakaan jalanan.

Kata dia, meski baru berjalan dua Minggu dan buka hanya di akhir pekan, antusias warga sekitar cukup baik. Walau sebagian masih banyak hanya sekadar melihat saja.

“Rencana kita memang cari tempat yang bagus dan ramai, tapi untuk saat ini kita masih sebatas Perum Sagulung dulu,” paparnya.(cr1)