batampos.co.id – Polri terus mendalami kasus kerusuhan 22 Mei. Khususnya, terkait penembakan terhadap delapan korban dan satu korban tewas karena benda tumpul.

Untuk penembak salah satu korban wajahnya dilihat oleh tiga orang saksi. Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menjelaskan, ciri-ciri pelaku berambut gondrong dengan tinggi sekitar 175 cm. Serta, berkulit gelap diketahui dari dua orang saksi mata.

Loading...

”Namun, polisi ternyata menemukan saksi lainnya yang juga melihat pelaku,” urainya.

Artinya, tiga orang saksi melihat langsung kejadian tersebut. Dengan begitu langkah untuk menggambar wajah pelaku melalui sketsa menjadi lebih mudah.

Sebab, ada tiga orang saksi yang bisa saling menyempurnakan. ”Ketiganya sebut ciri-cirinya memang sama, tuturnya.

Sayangnya, dalam rekaman closed circuit television (CCTV) yang diperoleh penyidik tidak terlihat wajah pelaku. Sehingga, sulit untuk menerapkan face recognition atau mengenali identitas melalui deteksi wajah.

”Yang terlihat di CCTV hanya saat korban Harun terjatuh setelah tertembak,” urainya.

Menurutnya, pekerjaan kepolisian masih banyak. Sebab, lokasi penembakan terhadap korban itu berbeda-beda serta jaraknya berjauhan.

Dengan begitu ada kemungkinan pelaku penembakan lebih dari satu orang. ”Empat TKP, jauh-jauh,” jelasnya.

Untuk korban lainnya, dia menuturkan bahwa ada satu saksi yang melihat peristiwa penembakan di depan kantor Pemadam Kebakaran. Saksi tersebut masih dalam pemeriksaan.

”Masih didalami bagaimana yang dilihat saksi,” terangnya.

Dedi menjelaskan bahwa saat ini polisi juga tengah mengejar salah seorang komandan lapangan kerusuhan 22 Mei di Jawa Barat.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo (kiri) didampingi Wadir Tipidsiber Bareskrim Polri Kombes Asep Safrudin saat memberikan keterangan pers, beberapa waktu lalu. Foto: Fedrik Tarigan /JAWA POS

Sejak diumumkan beberapa hari lalu soal perkembangan kasus 22 Mei, hingga saat ini komandan lapangan ini belum juga tertangkap.

”Ini yang melakukan provokasi agar terjadi kerusuhan,” paparnya.

Bila komandan lapangan ini tertangkap, tentu akan dapat diketahui siapa pelaku lain yang tingkatannya lebih tinggi. Apakah komandan lapangan ini dibayar atau diperintah oleh seseorang.

”Semua itu baru akan ketahuan,” jelasnya.

Sebelumnya, Tim Investigasi kerusuhan 22 Mei membeberkan ciri-ciri yang diduga pelaku penembakan dalam kerusuhan 22 Mei.

Ciri-ciri itu diketahui setelah melakukan face recognition terhadap 704 visual, baik dari CCTV, video amatir dan foto amatir.

Menurut Dedi, penyelidikan begitu rumit dengan menggunakan scientific crime. Salah satunya, pembuktian terkait siapa pelaku penembakan dalam kerusuhan.

”Setelah dilakukan uji balistik, diketahui peluru caliber 5,56 dan caliber 9 mm,” tuturnya.

Namun, uji balistik ini hanya bisa mengungkap jenis peluru dan kemungkinan senjatanya. Maka, dilengkapi dengan face recognition.

”Tingkat kerumitannya tinggi untuk mencocokkan 704 visual terkait kerusuhan 22 Mei, secara detil ini dijelaskan Dirkrimum Polda Metro Jaya,” urainya.

Dari semua itu, juga telah diketahui siapa komando lapangan yang melakukan berbagai provokasi.

Bila komando lapangan ini tertangkap, tentu akan diketahui siapa yang merancang kerusuhan yang telah diprediksi Polri ini.

”Sudah ditetapkan sebagai DPO,” paparnya.

Sementara Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombespol Suyudi Ario Seto mengatakan, dari sembilan korban meninggal dunia, yang telah dilakukan otopsi mencapai empat korban.

”Lima korban tidak diotopsi karena keluarga tidak berkenan,” urainya.

Salah satu diantara korban yang diotopsi, bernama Harun Al Rasyid. Menurutnya, berdasarkan dari pemeriksaan saksi lapangan, diduga Harun ditembak dari jarak sekitar 30 meter.

Posisi korban dengan polisi yang menangani kerusuhan sekitar 100 meter. Pelaku penembakan berada di sisi kanan berdekatan dengan ruko di Flyover Slipi.

”Saksi menyebut Harun ditembak dengan pistol berwarna hitam,” tuturnya.

Ciri-ciri pelaku penembakan juga telah diketahui dengan analisa face recognition dari 704 visual.

Yang terdiri dari 60 CCTV, 470 video amatir dan 93 foto amatir. Pelaku diduga berambut panjang atau gondrong, dengan tinggi sekitar 175 cm, dan menembak dengan tangan kiri.

”Mungkin kidal,” terangnya.

Selanjutnya, korban bernama Abdul Aziz yang tewas di sekitar asrama Brimob. Dia menjelaksan, korban ditemukan 100 meter dari asrama tersebut. Pelaku penembakan juga orang tidak dikenal.

”Korban ditembak dari belakang mengenai punggung tembus ke dada,” paparnya.

Selanjutnya, terkait para pelaku kerusuhan. Menurutnya, juga melalui face recognition telah diamankan sembilan orang yang diduga melakukan perusakan terhadap kendaraan kepolisian.

”Untuk yang masuk DPO seperti disampaikan Pak Karopenmas, merupakan aktor intelektualnya,” urainya.(tyo/jpg)

Loading...