batampos.co.id – Upaya provokasi terhadap kapal pengawas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama kapal pengawas dari Bakamla oleh kapal Vietnam Fisheries Resources Surveillance Vessel di Laut Natuna Utara kembali terjadi, Kamis (11/7) lalu.

Menanggapi insiden tersebut Danlanal Ranai Kolonel Laut (P) Harry Setyawan mengatakan, aksi provokasi oleh kapal pengawas perikanan Vietnam menjadi trend saat ini di Laut Natuna Utara.

”Semua kapal pemerintah sering mendapat provokasi dari kapal pengawas Vietnam, dengan cara kapal asing ini menabrak kapal pengawas perikanan Indonesia ketika melakukan penangkapan kapal illegal fishing. Kejadian ini sering di ZEE Laut Natuna Utara,” kata Danlanal, Minggu (14/7).

Menurut Danlanal, insiden yang terulang pada pekan lalu di Laut Natuna perlu diantisipasi oleh pemerintah. Karena unsur KRI sendiri kurang ideal untuk menghadapi strategi aksi provokasi tersebut di wilayah ZEE.

Danlanal menambahkan, insiden provokasi tersebut sudah dialami KRI saat melakukan pemeriksaan dokumen kapal ikan asing. Kapal pengawas perikanan Vietnam dengan sengaja menubruk lambung KRI.

”Wilayah ZEE ini baru sebagian disepakati, sebagian statusnya unilateral claim. Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh militer Indonesia terhadap kapal sipil Vietnam di wilayah sengketa dikuatirkan tidak akan menarik simpati Internasional” sebut Danlanal.

Danlanal menilai, sementara kekuatan Kapal Pengawas Perikanan Indonesia (KPPI) dan Bakamla yang beroperasi masih terbatas, baik jumlah maupun ukurannya. Sehingga kurang seimbang dalam menghadapi taktik kapal pengawas perikanan Vietam dalam adu tumbrukan.

Dermaga Selat Lampa
foto: batampos.co.id / aulis rahman

Danlanal menambahkan, pemerintah bersama Kementerian dan Kelautan perlu didorong untuk waspada dengan strategi yang dilaksanakan Vietnam.

Provokasi nelayan asing akan berdampak negatif terhadap keberlangsungan kelautan khususnya di laut Natuna Utara. Dan harus dilakukan dengan bijak agar nelayan-nelayan asing dapat ditangkal sedini mungkin.

”Jika ini tidak ditanggapi serius, maka mereka (nelayan asing, red) akan terus melakukan aksi yang sama dan bahkan semakin berani memasuki wilayah teritorial ZEEI. Disamping peralatan digunakan lebih diperkuat, petugas harus bisa melaksanakan tugas dengan tegas,” ujar Danlanal.

Sebelumnya kapal pengawas KKP Hiu 011 dan Bakamla KN Bintang Laut 401 yang melakukan pengawalan 6 kapal ikan asing berbendera Vietnam menuju ke stasiun PSDKP Natuna, mendapat intervensi dari kapal pengawas sumber daya perikanan Vietnam Kiem Ngu 214261 dan kapal ikan Vietnam Nhat Nam 79, Kamis (11/7).

Kapal Kiem Ngu 214261 melakukan pengejaran dengan kecepatan tinggi ke arah KP Hiu 11 dan KN Bintang Laut. Pada saat yang sama KIA Vietnam Nhat Nam 79 A20 melakukan intervensi ke kapal-kapal tangkapan yang dalam proses pengawalan. (arn)