batampos.co.id – Penyelenggaraan ATB-BP Batam Festival Hijau sudah di depan mata. Rangkaian kegiatan yang digawangi oleh PT Adhya Tirta Batam (ATB) dan Badan Pengusahaan (BP) Batam akan berlangsung Sabtu (27/7/2019) dan Minggu (28/7/2019) mendatang.

Tahun ini, kegiatan yang merupakan bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR) ATB Peduli Lingkungan ini, akan menanam bibit pohon di dua lokasi hutan yang berbeda.

Yakni, hutan Dam Seiharapan dan hutan Dam Duriangkang. Kedua lokasi hutan tersebut dinilai mengalami kerusakan paling mengkhawatirkan sebagai daerah tangkapan air.

Head of Corporate Secretary ATB, Maria Jacobus, mengatakan, ATB-BP Batam Festival Hijau adalah gerakan menanam pohon untuk masa depan.

Karena setiap satu bibit pohon yang ditanam akan berdampak besar pada konservasi lingkungan dan kelestarian sumber daya air hingga ke generasi berikutnya.

Ia menjelaskan, ATB bersinergi bersama pemerintah dan seluruh elemen masyarakat untuk menanam dan memelihara bibit pohon sebagai langkah konkrit untuk mengatasi persoalan deforestasi hutan.

”Menanam pohon, tidak hanya sekadar menanam lalu bibit pohon ditinggalkan begitu saja untuk membesar sendiri. Pohon perlu dirawat, dijaga dan dicintai,” ujar Maria, Minggu (14/7/2019).

Generasi muda Kota Batam turut berpartisipasi dalam program penanaman pohon ATB-BP Batam Festival Hijau sebagai upaya konservasi lingkungan. Foto: ATB untuk batampos.co.id

Untuk itu, ATB menggandeng sejumlah komunitas lingkungan hidup seperti Komunitas Budaya Mangrove, Mapala dari berbagai universitas hingga organisasi pencinta alam pelajar, untuk melakukan pemeliharaan bibit pohon yang ditanam dalam kegiatan ATB-BP Batam Festival Hijau.

”Hal ini untuk memastikan keberadaan pohon yang ditanam bisa tumbuh dengan baik sehingga memberikan manfaat bagi alam sekitar,” terangnya.

Bibit pohon yang dipilih adalah yang mampu menjaga kelestarian ekosistem. Seperti pohon trembesi yang mampu menyerap karbondioksida dan menghasilkan lebih banyak oksigen.

Trembesi juga memiliki daya serap air yang tinggi. Selain itu, disiapkan juga bibit pohon pulai, merbau, mahoni dan jambu mete.

Keberadaan pohon-pohon ini dianggap mampu menjaga kelestarian satwa yang mendukung keberlangsungan ekosistem alami hutan.

”Upaya konservasi lingkungan membutuhkan konsistensi dari semua pihak,” ucap Maria.

Apalagi, Guiness Book of Records tahun 2010 lalu telah memasukkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kerusakan hutan tercepat di antara negara-negara yang memiliki 90 persen dari sisa hutan di dunia.

Padahal, keberadaan hutan sangat penting sebagai paru-paru dunia dan menjaga agar tidak terjadi perubahan iklim yang ekstrem.

Pepohonan dan hutan akan menjaga lingkungan hidup flora dan fauna, menjaga kesuburan tanah dan rangkaian ekosistem yang penting bagi kehidupan manusia, disamping sebagai alat menabung, untuk air.

”ATB-BP Batam Festival Hijau 2019 diharapkan menjadi momentum untuk bergerak bersama dengan seluruh elemen masyarakat dari pemerintah, swasta, komunitas, pelajar dan media untuk membawa kebaikan ke masa depan bumi, masa depan kita,” ujarnya.(nji)

Loading...