batampos.co.id – Wadah Pegawai (WP) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berharap rekomendasi tim pakar investigasi yang akan diumumkan Polri pada Selasa (16/7/2019) besok memenuhi ekspektasi publik.

Yakni, mengungkap siapa pelaku lapangan dan aktor intelektual penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan.

Penegasan itu kembali didengungkan setelah munculnya berbagai spekulasi liar yang menyebut bahwa tim pakar bentukan Polri hanya akan mengumumkan aktor intelektual saja.

”Yang kami inginkan itu adalah pelakunya ditangkap, diadili, baik itu aktor yang melakukan penyerangan di lapangan maupun aktor dibelakangnya,” kata Ketua WP KPK Yudi Purnomo, Minggu (14/7/2019).

Salah satu spekulasi yang berkembang adalah terkait dengan keterlibatan jenderal bintang tiga.

Spekulasi itu menjurus pada sosok mantan Kapolda Metro Jaya Iriawan yang saat ini berpangkat komisaris jenderal (komjen).

Namun, Iriawan tidak terima dengan spekulasi tersebut. Bahkan, dia menilai spekulasi itu hanya untuk mencari sensasi belaka.

Novel Baswedan memberikan keterangan pers usai menjalani pemeriksaan sebagai saksi di gedung KPK, Jakarta, Kamis (20/6) lalu. KPK memfasilitasi penyidik Polda Metro Jaya didampingi oleh tim asistensi ahli atau tim gabungan yang sudah dibentuk oleh Kapolri untuk memeriksa penyidik senior KPK Novel Baswedan sebagai saksi terkait kasus penyiraman air keras. Foto: Miftahulhayat /JAWAPOS

Yudi mengatakan, pengungkapan kasus teror terhadap Novel sangat berarti bagi KPK. Sebab, dari situ, harapan agar teror-teror lain yang pernah menimpa pegawai dan pimpinan KPK dapat terbongkar akan kembali muncul.

Dan memberi semangat bagi keluarga besar KPK.

”Sampai saat ini seluruh teror tersebut tidak pernah terungkap dan tidak pernah bisa ditangkap siapa pelakunya,” ujarnya.

Bila pengungkapan kasus Novel tidak terungkap maksimal, Yudi pun kembali meminta Presiden Joko Widodo untuk membentuk tim gabungan pencari fakta (TGPF) independen.

”Kalau rekomendasi tim pakar kepada Kapolri tidak menemukan pelakunya, maka sudah tidak ada jalan lagi bagi Bapak Presiden Jokowi untuk segera membentuk TGPF,” tegasnya.

Diketahui, Tim Investigasi Kasus Novel bentukan Polri selesai bekerja menginvestigasi kasus penyiraman terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan.

Telah disusun laporan setebal 170 halaman terkait kasus tersebut. Ada perkembangan menarik yang ditemukan tim pakar.

Namun, perkembangan itu baru akan disampaikan setelah Kapolri Jenderal Tito Karnavian mempelajarinya.

Anggota Tim Investigasi Kasus Novel Nur Kholis menuturkan, setelah bekerja selama enam bulan, semuanya telah selesai.

Hasilnya, sudah dibuat laporan setebal 170 halaman dengan lampirannya yang mencapai 1.500 halaman.

”Laporan itu telah diberikan ke Kapolri Jenderal Tito Karnavian,” tuturnya.

Namun begitu, tim ini juga mendapat masukan dari Kapolri serta laporan tersebut akan dipelajari dalam waktu satu minggu oleh Kapolri.

”Secara substansi tidak akan berubah, layaknya laporan perlu perbaikan sana sini,” urainya.

Anggota Tim Investigasi lainnya, Hendardi menjelaskan bahwa selama enam bulan telah dilakukan berbagai pendalaman, seperti reka ulang tempat kejadian perkara, penjelajahan saksi, dan mengembangkan saksi.

”Ada langkah untuk mencari saksi baru,” tegasnya.

Tim ini juga telah melakukan investigasi di beberapa kota, seperti Ambon, Malang dan Kebumen.

Hal tersebut untuk memastikan kebenaran alibi dari orang yang diduga terlibat.

”Benarkah alibinya,” paparnya.

Menurutnya, penyiraman terhadap Novel bukan merupakan perkara biasa. Ini perkaran yang melibatkan orang yang bisa dikategorikan politik.

”Maksudnya politik itu dari motifnya yang bisa jadi karena politik,” tuturnya.

Motif apa saja yang mungkin ditemukan dalam kasus ini. Hal tersebut penting untuk diketahui tim ini.

”Pendek kata ini ada progres yang baik, ada kemajuan atau temuan baru dalam investigas,” urainya.

Saat ditanya apakah sudah mengetahui aktor intelektual penyiraman, dia menjelaskan bahwa hal tersebut masuk dalam materi penyelidikan.

Semua itu akan diungkapkan pekan depan. ”tunggu kapolri yang akan menyampaikannya,” paparnya.(tyo/jpg)

Loading...