batampos.co.id – Amblesnya pelabuhan utara Batuampar, Kota Batam, berdampak pada terlambatnya alur distribusi barang, termasuk di dalamnya komoditas pangan dari berbagai daerah menuju Kota Batam.

Kondisi ini membuat Badan Pengusahaan (BP) Batam selaku pengelola pelabuhan yang melayani arus distribusi produk pangan, memindahkan tempat bersandar kapal dari Pelayaran Rakyat (Pelra) ke Pelabuhan PT Bintang 99.

Ketua Pelra Kota Batam, Ilyas Bone, mengatakan, hal itu memang menjadi solusi untuk tetap tersalurnya distribusi pangan kepada masyarakat.

Hanya saja pemindahan tersebut menimbulkan persoalan baru. Yaitu naiknya harga produk disebabkan biaya pelabuhan jauh lebih tinggi dari sebelumnya.

Ketua Pelayaran Rakyat Kota Batam, Ilyas Bone. Foto: Bobi/batampos.co.id

Bone menjelaskan, tidak hanya harga bersandar kapal yang lebih tinggi dari biasanya, biaya buruh, dan jalur distribusi lainnya juga akan itu melonjak.

Hal itu lanjutnya, menimbulkan kenaikan harga pangan sekitar 15 sampai 20 persen dibanding kondisi normal.

“Ini harus menjadi perhatian pemerintah karena masyarakat yang langsung akan menerima dampaknya,” kata dia, Selasa (16/7/2019)

Pihaknya berharap Pemko Batam dan BP Batam bisa bersinergi untuk menghadirkan pelabuhan sebagai tempat bersandarnya produk yang didistribusikan Pelra.

Dengan begitu, harga produk di pasaran akan lebih stabil.

“Sekarang pelabuhan itu milik swasta, kalau bisa ada pelabuhan dari pemerintah berbiaya ringan,” kata Bone.

Dengan hadirnya pelabuhan rakyat yang bisa menampung pasokan dari Pelra, Bone menilai akan ada kemudahan yang berujung pada penurunan harga pangan.

“Pelra ini armada yang disubsidi pemerintah, kalau pelabuhan bisa juga disubsidi, maka paling besar peningkatan harga itu hanya lima persen saja,” tuturnya.(bbi)

Loading...