batampos.co.id – Tersangka pemberi suap Gubernur Kepri nonaktif Nurdin Basirun, Abu Bakar, dikenal sebagai nelayan biasa, bukan seorang pengusaha. Penangkapannya oleh KPK mengagetkan keluarga dan warga Pulau Panjang, Batam, yang merupakan tempat tinggal Abu Bakar.
“Dia itu nelayan biasa. Kaget kami semua karena katanya dia terlibat suap. Apalagi ditangkap bersama Pak Gubernur,” ujar warga Pulau Panjang yang enggan ditulis namanya, Selasa (16/7/2019).
Menurut warga tersebut, selama ini Abu Bakar memang menjadi ketua organisasi nelayan setempat. Pria dua anak itu juga sering ke Pulau Batam untuk urusan organisasinya.
Antara lain mengurus segala macam perizinan hingga pengajuan bantuan untuk nelayan Pulau Panjang. Berkat Abu Bakar, banyak nelayan Pulau Panjang yang mendapatkan bantuan alat tangkap hingga kapal pompong.
“Bagus dia selama ini. Kami banyak dapat bantuan,” katanya.

perizinan reklamasi.
Karenanya, pria tersebut merasa heran setelah menerima kabar Abu Bakar ditangkap KPK dan kini menjadi tersangka kasus suap. Ia dan warga Pulau Panjang lainnya menyangsikan jika Abu Bakar benar-benar terlibat dalam kasus ini.
“Itu proyek besar, rasanya tak percaya saya. Dia ini apalah, (hanya) nelayan biasa sama seperti kami. Semoga penyelidikan membuka yang sebenarnya siapa di balik Pak Abu ini,” ujarnya.
Sumber koran ini juga mengaku tidak tahu jika Abu Bakar memiliki kedekatan khusus dengan Gubernur Kepri nonaktif Nurdin Basirun. Namun ia menduga, Abu Bakar dan Nurdin hanya kenal biasa saja.
“Bisa jadi (kenal) karena dia ketua kelompok nelayan,” katanya.
Menurut dia, keluarga Abu Bakar saat ini hanya bisa pasrah. Mereka mengaku tidak bisa berbuat banyak untuk membantu Abu Bakar meng-hadapi porses hukum.
“Kondisinya memang seperti ini, apa yang bisa dilakukan? Kami ini hanya nelayan biasa,” ucapnya lagi. (*)
