batampos.co.id – Penurunan kapasitas air waduk akibat turunnya fungsi hutan di Daerah Tangkapan Air (DTA) harus terus diwaspadai.

Batam harus memiliki skema program pencegahan jangka panjang, agar keberadaan hutan untuk memelihara keberlangsungan air baku di Batam terjaga.

Upaya penyelamatan harus segera dilakukan karena hutan di area tangkapan air berperan penting dalam pengaturan dan perlindungan fungsi tata air (hidrologis) dan mengatur proses-proses kondensasi yang menyebabkan hujan turun.

Jika jumlah hutan semakin berkurang, proses kondensasi akan terganggu dan menyebabkan curah hujan akan semakin turun.

Namun, kondisi nyata yang ditemukan pada hutan-hutan saat ini jauh dari ideal. Hutan di sejumlah waduk sudah tampak ringkih, dirambah tangan-tangan yang mengeksploitasi hutan untuk keuntungan pribadi.

Hutan Dam Seiharapan menjadi salah satu yang mengalami kerusakan cukup parah dan mengkhawatirkan sebagai DTA.

Pantauan Batam Pos saat mengunjungi lokasi hutan Dam Seiharapan, Senin (15/7/2019) lalu, terdapat sejumlah titik area hutan yang terbakar dan sebagian lainnya gundul.

Dam Seiharapan yang menjadi waduk pertama di Batam ini bahkan sempat tidak mampu mencukupi kebutuhan air untuk warga Tanjungpinggir, Tanjungriau, Sekupang, sebagian Tiban dan sekitarnya, akibat kekeringan.

”Batam tidak memiliki sumber air baku lain selain air hujan yang ditampung di waduk-waduk yang ada saat ini,” kata Head of Corporate Secretary PT ATB, Maria Jacobus, Selasa (16/7/2019).

Sejumlah pelajar SMK Penerbangan bersama tim Komunitas Budaya Mangrove mengangkut bibit pohon ke perahu untuk dibawa ke lokasi penanaman di hutan Dam Seiharapan, Senin (15/7/2019). Foto: Febby Anggieta Pratiwi/batampos.co.id

“Jika curah hujan menurun, ditambah kapasitas waduk menurun akibat sedimentasi yang tak terkendali, maka cepat atau lambat krisis air bersih akan mengancam kota yang kita cintai ini,” ujarnya lagi.

Sementara, kebutuhan air bersih di Batam terus mening-kat seiring pertumbuhan penduduk dan industri.

”Dengan curah hujan yang semakin kecil, dikhawatirkan sumber air baku di Batam juga akan semakin menipis dan tak mampu mengimbangi kebutuhan air yang semakin meningkat,” ujar Maria.

Kata dia, aksi penanaman pohon yang dilakukan ATB bersama BP Batam yang tahun ini berpusat di Dam Seiharapan, didasari karena Batam hanya mengandalkan sumber air baku dari hujan, maka menjaga hutan di DTA pun harus menjadi tanggung jawab bersama.

Program menjaga keberadaan hutan harus menjadi bagian dari program strategis semua stakeholder.

”Merevitaliasi waduk tidak akan bisa menjadi satu-satunya solusi, karena curah hujan sebagai sumber utama air baku di Batam semakin hari semakin menurun,” jelasnya.

“Hutan di Batam harus dijaga dan diperbaiki. Ini harus menjadi bagian dari program prioritas,” jelasnya.

Ia kembali mengingatkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2017 tentang Rencana Tata Ruang Nasional menyebutkan, luas hutan lindung untuk wilayah Sumatera minimal harus mencapai 40 persen dari luas wilayah.

Namun, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, luas hutan lindung di pulau Batam adalah 12.890,8 hektare.

Atau sekitar 31,07 persen dari luas pulau Batam yang mencapai 41.500 hektare (data 2014 yang dirilis 2015 silam).

Kepala Bidang Pengelolaan Waduk BP Batam, Hadjad Widagdo, mengaku menyambut baik kegiatan Festival Hijau.

Hal itu kata dia, sebagai wujud nyata ATB dan BP Batam untuk membangun kesadaran dan kebersamaan dalam menjaga sumber air waduk yang berada di catchment area.

Catchment area waduk Seiharapan yang juga merupakan kawasan hutan lindung merupakan dasar hukum yang kuat bagi keberlangsungan penyediaan air baku di Kota Batam.

Melalui sinergi para pihak khususnya melalui event tahunan ATB-BP Batam Festival Hijau, akan membangun serta memperkuat sinergi dalam mempertahankan dan mening-katkan kualitas catchment area sebagai sumber inflow air baku yang berkualitas serta berkelanjutan,” terang Hadjad.

Lebih lanjut ia menambahkan, Festival Hijau juga diharapkan sebagai media mempersatukan dan mengkoordinisasikan para pihak.

Yaitu pemerintah, investor, pecinta alam, LSM serta media dan masyarakat, tentang pentingnya menjaga catchment area tersebut sehingga ketahanan waduknya akan terjamin keberlangsungannya.

Selain itu, dengan acara BP Batam-ATB Festival Hijau akan terbangun kesadaran di semua kalangan untuk bertanggung jawab, baik dalam pengawasan maupun pencegahan terhadap kerusakan catchment area waduk Seiharapan tersebut.

”Upaya sinergis dan kolektif itu merupakan bagian dari suatu sistem Integrated Water Resources Management (pengelolaan sumber daya air secara terpadu) sebagai sub sistem dari Integrated Total Water Management,” ucapnya.(nji)