batampos.co.id – Utang luar negeri (ULN) Indonesia terus bertambah. Hingga akhir Mei 2019 jumlahnya mencapai 386 miliar dolar AS atau sekitar Rp 5.379 triliun atau tumbuh 7,4 persen (YoY). Jika dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 8,8 persen, pertumbuhan ULN Indonesia sedikit melambat.
Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko menyebutkan, dua penyebab perlambatan itu adalah transaksi pembayaran neto ULN dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD).
”Nominal ULN dalam denominasi rupiah lebih rendah ketimbang dalam USD,” kata Onny, Selasa (16/7). Ia menyebut kondisi ini masih termasuk sehat.

Onny menyatakan, perlambatan pertumbuhan ULN tersebut bersumber dari ULN swasta. Jumlah nominal ULN swasta, termasuk BUMN, berkisar USD 196,9 miliar atau sekitar Rp 2.733 triliun. Sementara itu, besaran utang pemerintah dan bank sentral mencapai USD 189,3 miliar atau sekitar Rp 2.628 triliun.
BI menekankan, struktur ULN tetap sehat. Kondisi tersebut tecermin pada rasio ULN terhadap produk domestik bruto (PDB) pada akhir Mei 2019 sebesar 36,1 persen. Itu relatif stabil jika dibandingkan dengan rasio pada bulan sebelumnya. Struktur ULN tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang dengan pangsa 87,3 persen dari total ULN.
”Kami akan berkoordinasi memantau perkembangan ULN sesuai prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya,” imbuhnya. (ken/c12/hep)
