batampos.co.id – Ketersediaan air bersih di Batam sangat terbatas, sehingga rentan terdampak kekeringan.

Oleh karena itu, gerakan bersama untuk konservasi daerah tangkapan air dibutuhkan demi ketersediaan air di masa mendatang.

Mengelola air di Batam memiliki tantangan besar, mengingat ketersedian air baku di Pulau Batam tergantung dari curah hujan yang ditampung dalam lima dam.

ATB memiliki concern pada ketersediaan air baku yang berkelanjutan, untuk saat ini dan masa depan,” kata Head of Corporate Secretary ATB Maria Jacobus, Rabu (17/7/2019).

Penambahan ketersediaan air baku, menurut Maria, menjadi mutlak bagi Batam untuk bisa eksis sebagai daerah tujuan investasi di masa depan.

Kata dia, saat ini kondisi air di Batam sangat terbatas, seiring dengan pertambahan jumlah penduduk.

Sebagai pengelola air bersih, ATB turut aktif melakukan langkah pencegahan kerusakan daerah tangkapan air melalui gerakan penanaman pohon bertajuk Festival Hijau.

“ATB tentu punya tanggung jawab moral, air harus diolah,” kata dia.

“Jika tidak, maka lebih buruk lagi dampaknya dan langkah konservasi alam sangat diperlukan untuk masa depan Batam,” terangnya.

Lebih jauh, ATB berkontribusi dengan melakukan konservasi air. Di samping itu, air yang tersedia dikelola dengan seefisien mungkin, dimana tingkat kebocoran ATB berada di angka 16 persen.

Dua petugas ATB sedang melihat debit air di Dam Seiharapan, Sekupang, beberapa waktu lalu. Upaya ATB melestarikan daerah resapan air adalah dengan menanam bibit pohon di area hutan resapan waduk secara berkesinambungan. Foto: PT ATB untuk batampos.co.id

Angka itu jauh di bawah rata-rata kebocoran nasional yang sebesar 33 persen.
Salah satu upaya ATB melestarikan daerah resapan air adalah dengan melakukan penanaman bibit pohon di area hutan resapan waduk.

Secara berkesinambungan ATB menggelar kegiatan penanaman pohon sejak 2011. Hingga 2018, ATB telah menanam sekitar 10.700 bibit pohon di berbagai area resapan air.

Tahun ini, ATB memusatkan penanaman di Hutan Dam Duriangkang dan Dam Seiharapan dengan menanam sekitar 1.000 bibit pohon.

“Kesadaran pentingnya menjaga daerah resapan air adalah untuk masa depan Batam, wilayah Seiharapan dan Duriangkang daerah resapannya sudah mengalami kerusakan yang mengkhawatirkan,” jelas Maria.

Sebagai bagian edukasi kepada masyarakat, ATB melibatkan banyak pihak dalam kegiatan festival hijau.

Hal ini bertujuan agar masyarakat bisa peduli dengan kelestarian konservasi alam khususnya di daerah resapan air.

Menggandeng BP Batam sebagai pemiliki waduk, ATB melibatkan komunitas pecinta lingkungan hidup seperti Komunitas Budaya Mangrove.

Serta sejumlah pelajar dari SMK Penerbangan Batam, Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Universitas, hingga masyarakat umum.

“Melalui Festival Hijau, masyarakat bisa melihat langsung kondisi hutan resapan air. Kesadaran pentingnya menjaga hutan resapan air dangat diharapakan,” kata dia.

“Langkah kecil ini jadi manfaat besar apabila secara bersama peduli dengan lingkungan,” ujarnya lagi.

Upaya penghijauan yang dilakukan ATB meski belum memberikan efek besar, namun setidaknya bisa memberikan kesadaran kepada semua pihak.

Bahwa, pentingnya menjaga dan melestarikan hutan resapan air yang ada agar air bersih bisa selalu tersedia.(nji)