batampos.co.id – Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) gelombang ketiga telah usai. Meski begitu, PPDB masih menyisakan masalah. Masih ada ratusan siswa yang tidak dapat kursi di SMA dan SMK negeri. Sementara, kuota penerimaan dari sekolah sudah sangat maksimal. Apabila dipaksakan, sekolah tersebut tidak bisa melaksanakan proses belajar.

Meski tak bisa dipungkiri, ada beberapa sekolah yang kekurangan siswa seperti di SMAN 15 dan SMAN 21 Batam. Namun, siswa yang tidak tertampung berada jauh dari zonasi kedua sekolah tersebut. Berdasarkan data yang dimiliki Disdik Kepri, kebanyakan siswa yang tidak tertampung berada di Bengkong dan Batam Kota.

”Sedangkan (kuota siswa) sekolah di daerah itu sudah penuh,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kepri Muhammad Dali, Kamis (18/7).

Dali mengatakan, Gubernur Kepri nonaktif, Nurdin Basirun dan Wali Kota Batam Muhammad Rudi serta Plt Gubernur Kepri Isdianto, tetap kukuh agar semua siswa ditampung di sekolah negeri. Karena hal inilah, Dali mengaku mengambil kebijakan untuk mendirikan dua sekolah baru tahun ini. Padahal rencanannya, baru akan dibangun tahun depan.

”Secara kelembagaan kami bangun tahun ini. Tapi fisiknya tahun depan. Untuk pembangunannya sudah kami masukkan dalam ABPD Perubahan 2019,” ungkapnya.

Dua sekolah baru yang dibangun ini, untuk menampung siswa yang masih belum dapat bersekolah di SMA negeri. Sekolah baru itu adalah SMAN 25 yang rencananya untuk sementara waktu akan menggunakan bangunan SMPN 4 Bengkong. Tahun ini, SMAN 25 hanya menerima 4 rombongan belajar (rombel), dengan total 144 siswa.

”SMAN 25 ini untuk menampung kelebihan siswa yang tidak masuk di SMAN 8 dan SMAN 14. Data kami, SMAN 8 kelebihan 94 siswa, SMAN 14 kelebihan 49 siswa. Jadi kami gabung siswa ini, masuk di SMAN 25,” ucapnya.

Sementara itu, di SMAN 3 Batam, sebanyak 386 orang tidak tertampung. Sedangkan SMAN 20, sebanyak 50 orang. Dali memberlakukan cara yang sama, dengan membangun sekolah di kawasan Batam Kota. Ia mengatakan, di Batam Kota didirikan sekolah baru, SMAN 26. Proses belajar mengajarnya sementara waktu menumpang di SMPN 43 Batam Kota.

”Kami hanya menerima 144 orang saja, empat rombel,” ungkapnya.

Dali mengakui dengan menerima sebanyak 144 siswa saja, masih ada siswa yang belum dapat bersekolah di negeri. Tapi, ia mengatakan akan menambah rombel atau jumlah siswa per kelas.

”Tapi kami sementara lihat dulu. Data jumlah siswa tidak tertampung ini berdasarkan peminatan. Jumlah riilnya, bisa saja jauh lebih kecil. Jadi kami pastikan semuanya masuk dulu, baru lihat sisanya. Kalau perlu ditambah rombel, karena sesuai arahan yang saya terima, semuanya harus diterima,” ucapnya.

PPDB di SMAN 8 Batam

Demi mewujudkan sekolah baru ini. Dali telah menyam-bangi sekolah-sekolah yang peminatnya membeludak. Para orangtua siswa pun diminta datang. Salah satu sekolah yang disambangi Dali adalah SMAN 8. Di hadapan seluruh orangtua siswa, Dali meminta persetujuan mereka, agar anaknya bersekolah di SMAN 25 yang baru akan dibentuk.

”Apabila semua setuju, saya pastikan Senin (22/7) depan semuanya sudah dapat bersekolah,” ungkapnya.

Seluruh orangtua murid yang hadir, setuju dan menyambut baik dengan solusi yang ditawarkan. Saat ditanyakan mengenai lokasi bangunan fisik sekolah baru ini, Dali mengaku menunggu arahan.

”Di mananya belum tahu, masih menunggu. Untuk SMAN 25 ini, rencananya dekat Golden Prawn. Tapi belum pasti,” ujarnya.

Ratusan Siswa Tak Tertampung

Proses PPDB tingkat SMA dan SMK negeri sudah berakhir. Siswa yang lolos PPDB sudah mengikuti masa orientasi di masing-masing sekolah. Namun, persoalan daya tampung masih menjadi polemik sebab masih banyak calon siswa yang tak tertampung.

Informasi yang dihimpun selama proses PPDB berlang-sung khusus di wilayah Batuaji dan Sagulung dalam satu sekolah, siswa yang tak tertampung di atas 100-an orang.

Di SMKN I Batam misalnya. Ada sekitar 500-an calon siswa yang tak tertampung. Pihak sekolah tak bisa berbuat banyak sebab daya tampung sekolah terbatas. Kebijakan dua lokal tambahan atau PPDB tahap tiga juga tak bisa mengakomodir semua pendaftar.

”Yang tidak lolos PPDB tahap pertama ada sekitar 500-an lebih. Tahap ketiga tambahan hanya dua lokal. Jadi yang tak lolos cukup banyak,” ujar Kepala SMKN I Lea Lindrawijaya.

Begitu juga dengan SMKN 5, SMAN 5, dan SMAN 19 yang ada di wilayah tersebut juga menghadapi persoalan yang sama. Siswa yang tak tertampung baik PPDB tahap satu, dua dan tiga rata-rata di atas 200 orang. Siswa yang tak tertampung ini sebagian beralih ke sekolah swasta, sebagian lagi masih kebingungan mencari sekolah lain.

Misalnya Hendro, calon siswa yang mendaftar di SMAN 5 Batam di Sagulung, Kamis (18/7) kemarin kembali mendatangi SMAN 5 bersama orangtuanya untuk mencari tahu apakah sekolah tersebut benar-benar sudah tutup PPDB atau belum. Namun kedatangannya sia-sia sebab PPDB sudah resmi tutup sejak, Selasa (16/7) lalu.

”Tak tahu lagi mau sekolah di mana. Swasta agak berat karena ekonomi keluarga pas-pasan,” ujarnya.

Berbeda dengan SMKN 8 Batam di Dapur 12, Sagulung, PPDB tahun ajaran kedua kali ini, sekolah Farmasi tersebut kekurangan siswa. Siswa yang terjaring dalam PPDB tahun ini hanya sekitar 200-an siswa. Padahal, kuoata daya tampaung di atas 250-an siswa.

Sekolah ini masih kekurangan sekitar 50-an siswa untuk mengisi kekurangan kuota daya tampung normal tersebut.

Jika ditambahkan dengan dua lokal tambahan sesuai kebijakan Gubernur Kepri Nurdin Basirun sebelumnya, maka sekolah ini masih bisa menerima sekitar 100-an siswa lagi.

”Masih seperti tahap pertama dan kedua. Tahap ketiga hanya dua orang yang daftar,” ujar Kepala SMKN 8 Refio.

Boleh Menumpang di Gedung SMPN

Pemerintah Kota (Pemko) Batam memastikan siap membantu Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri terkait animo masyarakat untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah negeri.

Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengatakan, tak terkecuali menyiapkan gedung SMP untuk digunakan siswa baru SMAN yang bangunannya belum dibangun.

”Silakan pakai SMP, tak masalah, kami siap back up,” ujarnya.

Ia mengatakan, sudah semestinya harus banyak pilihan agar 2 ribu lebih calon siswa SMAN tertampung di sekolah negeri bisa bersekolah, antara lain dengan menambah sekolah meski gedungnya belum ada. Ia mencontohkan seperti di Batuaji yang masih butuh lima rombel dan akhirnya dibuat keputusan menumpang di SMP terdekat. ’Ini sudah tidak ada masalah,” imbuhnya.

Begitu juga untuk wilayah Batam Kota, pada prinsipnya ia memastikan Pemko Batam akan menyiapkan SMP Negeri lain untuk ditumpangi.

”Kami pada prinsipnya oke, kalau masih butuh sarana pendidikan kami siap support. Yang penting-penting anak masuk sekolah,” ucapnya.

Dalam hal ini, pihaknya memberi masukan kepada Pemprov Kepri harus ada pembagian zonasi proposional berdasarkan kepadatan penduduk masing-masing wilayah.

”Seperti di (Perumahan) KDA, jauh ke kanan dan ke kiri juga, jauh semua. Nanti salah-salah anak KDA tak sekolah. Kami tak salahkan sistem, tapi ini perlu diatur,” katanya.

Ia mengaku, kerap mendapat pertanyaan langsung dari warga terkait masih ada atau tidaknya daya tampung SMAN. Namun ia mengaku hal tersebut bukan ranah Pemko Batam, kewenangan jenjang pendidikan SMA sederajat di Provinsi Kepri, walau pada prinsipnya kini Pemko Batam siap membantu Pemprov Kepri.

”Beberapa ke saya minta informasi. Jawaban saya, anak saya juga tak lulus. Masih ada memang beberapa yang belum tertampung. Tapi semakin berkurang, ini akan dicarikan solusinya,” tuturnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam Hendri Arulan menyampaikan, kebijakan ini akan diambil seandainya Pemprov Kepri membutuhkan gedung sekolah untuk dipinjam dan digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar jenjang SMAN yang baru dibuka.
Kesanggupan Pemko Batam mempersilahkan gedung SMP dipakai juga sudah dipersilahkan oleh Wali Kota Batam Muhammad Rudi.

”Perlu digarisbawahi, ini kalau seandainya mungkin Disdik Kepri buka sekolah baru,” katanya.

Ia mengungkapkan, pada saat pertemuan dengan wali murid di Engkuputri beberapa waktu lalu, Kepala Disdik Kepri Muhammad Dali telah berkoordinasi dengan dirinya. Dengan meminta data SMP yang tidak menerapkan dobel sif untuk dimanfaatkan untuk menumpang siswa SMA baru pada sore harinya.

”Kami bisa sampaikan yang tidak dobel sif seperti SMPN 3 Batam, SMPN 12 Batam, dan SMP 6 Batam. Ada juga yang lain, saya tidak ingat semua,” katanya. (ska/iza)