KERIBUTAN kecil mewarnai kedatangan jemaah calon haji dari Embarkasi Makassar Kloter UPG 13 di Bandara Madinah pada Selasa (16/7) sekitar pukul 11.00 waktu Arab Saudi (WAS). Pemicunya seorang kakek yang sama sekali tidak mau dipisahkan dari istrinya.

Kakek tersebut bernama Mahmud Sopamena, sedangkan sang istri Kalsum Litiloli. Sejoli itu berasal dari Desa Kulu, Pulau Saparua, Maluku Tengah. Mahmud berusia 87 tahun. Kalsum yang punya panggilan Mak Cum berusia 75 tahun.

Ketika tiba di bandara Madinah, Mahmud sempat marah karena sang istri tidak berada di sampingnya. Mak Cum berada jauh di depan meninggalkannya. Mahmud pun ngambek. Mahmud yang duduk di kursi roda menolak didorong ke luar bandara.

“Pokoknya harus ada Mak Cum di sampingnya. Harus menggandeng Mak Cum,” kata Ketua Kloter UPG 13 Jusman Rivai Rura kemarin (17/7). Akhirnya, petugas terpaksa mendorong masuk kembali Mak Cum untuk dipertemukan dengan Mahmud.

Rasa kesal Mahmud mulai mereda. Dia langsung memegang erat tangan istrinya. Sambil sesekali mengelus-elus tangan belahan jiwanya itu. Kemudian, keduanya didorong dengan menggunakan kursi roda ke luar bandara.

Beberapa saat kemudian, Mahmud kesal lagi. Dia meminta agar tangan petugas tidak memegang kursi roda yang diduduki istrinya.

“Ada rasa cemburu. Dia (Mahmud, red) tidak mau kami para petugas dekati Mak Cum,” cerita Jusman.

Dengan telaten petugas berusaha menenangkan Mahmud. Dia diberi pengertian bahwa hanya ada petugas laki-laki saat itu yang bisa mendorong Mak Cum. Mahmud berusaha mafhum. Hingga lama-kelamaan rasa marahnya reda lagi.

Drama pasangan itu tidak selesai di bandara. Setiba di Hotel Diyar Al Amal di Madinah, Mahmud tidak mau dipisahkan dari Mak Cum. Padahal, sesuai dengan ketentuan, jemaah perempuan dan laki-laki menempati kamar yang berbeda. Meski pasangan suami istri sekalipun.

JEMAAH calon haji (JCH) Mahmud Sopamena bersama istri, Kalsum Litiloli alias Mak Cum, saat tiba di Bandara Prince Mohammed bin Abdul Aziz, Madinah, Selasa (16/7) lalu.

Mahmud bersikukuh tidak mau dipisah dari Mak Cum. Pokoknya minta ditempatkan dalam satu kamar. “Bahkan minta satu ranjang,” ujar Jusman.

Akhirnya, petugas menuruti permintaan Mahmud. Saat ini Mahmud bersama Mak Cum tinggal berdua di kamar 1705 Hotel Diyar Al Amar.

Jusman menyatakan, kamar tersebut berisi lima ranjang. Mak Cum menjadi satu-satunya jemaah perempuan di kamar tersebut. Satu jemaah lainnya mengalah demi Mak Cum. Menurut informasi yang diterima Jusman, seorang jemaah yang mengalah itu belum dapat kamar sebagai gantinya.

Dia menceritakan, pasangan Mahmud dan Mak Cum memiliki delapan anak dan sebelas cucu. Jusman sempat berbincang dengan Mak Cum terkait dengan perasaan Mahmud tersebut. Mak Cum menduga suaminya tidak mau berpisah karena khawatir kepada dirinya. Ini merupakan kali pertama mereka bepergian jauh sampai ke luar negeri.

“Mungkin Pak Mahmud kha­watir ada apa-apa dengan istrinya. Jadi, ingin istrinya selalu dekat dengannya,” ungkap Jusman.

Kondisi fisik Mak Cum, menurut Jusman, lebih kuat jika dibandingkan dengan Mahmud. Mak Cum mampu berjalan kaki ke Masjid Nabawi, sedangkan Mahmud harus didorong di kursi roda.

Kejadian menghebohkan berlangsung ketika Mak Cum diam-diam meninggalkan Mahmud untuk salat Subuh, Rabu (17/7). Mak Cum dan penghuni kamar lainnya meninggalkan Mahmud yang masih tidur lelap di kamar sendirian.

Tiba-tiba, ketika semua balik ke kamar, kondisi kamar sudah berantakan. Mahmud marah besar. Koper dan barang-barang miliknya serta milik jemaah lainnya berantakan dilempar-lempar. Dia marah karena Mak Cum tidak berada di sampingnya saat dirinya terbangun.

“Pak Mahmud sempat terjatuh dari kasur dan pelipisnya terluka,” tutur pria 45 tahun itu.
Akibat kejadian tersebut, Mahmud mendapat pertolongan dari petugas kesehatan. Ada rencana membawanya ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah supaya bisa lebih tenang.

Menurut Jusman, saat masuk Asrama Haji Sudiang Embarkasi Makassar, kondisi Mahmud biasa saja. Tidak harus selalu menempel Mak Cum. Dia baru tak mau terpisah dari istrinya sedetik pun ketika hendak masuk pesawat terbang.

Saat itu Mahmud diberangkatkan dari asrama haji ke bandara dengan menggunakan ambulans. Nah, ketika sampai di bandara, dia marah dan tidak mau turun untuk menuju pesawat. Dia minta Mak Cum ada di sebelahnya.

“Akhirnya, oleh Garuda, Mak Cum dinaikkan bus untuk dipertemukan dengan Pak Mahmud di dalam ambulans,” jelasnya.

Beberapa saat pasangan itu bercengkerama di dalam ambulans. Sampai akhirnya, Mahmud bersedia diturunkan masuk ke pesawat. Di dalam pesawat, Mahmud kembali tidak mau dipisahkan dari Mak Cum. Dia meminta Mak Cum duduk di sampingnya. Petugas sempat dua kali menangani kemarahan Mahmud di dalam pesawat. “Marah karena ditinggal Mak Cum ke toilet,” ujar Jusman.

Pokoknya, kalau jauh sedikit saja dari Mak Cum, Mahmud emosional. Bahkan ketika Mak Cum membuat teh di luar kamar, Mahmud marah.

“Padahal baru 2 menit menyeduh teh, Pak Mahmud sudah mencari Mak Cum,” tutur Jusman.

Petugas belum tahu bagaimana nanti Mak Cum dan Mahmud beribadah mengingat beberapa hal harus dilakukan secara terpisah. Misalnya, salat di Masjid Nabawi. Petugas akan berusaha memberikan pemahaman kepada Mahmud bahwa Mak Cum akan aman-aman saja meski sedang tak berada di dekatnya. (hilmi/jawapos)