batampos.co.id – Minimnya jumlah pejalan kaki di Tanah Air bisa dilihat dalam beberapa dekade terakhir. Beberapa alasan seperti kurangnya fasilitas bagi pejalan kaki, faktor kesibukan, kemajuan teknologi hingga mudahnya memperoleh kendaraan makin membuat seseorang malas berjalan kaki.

Mengutip dari BBC.com, Indonesia nyatanya menduduki peringkat tinggi sebagai negara yang penduduknya paling malas berjalan kaki yakni 3.513 langkah per hari.

Itu berbeda bila dibandingkan Hong Kong yang menempati urutan teratas dengan 6.880 langkah setiap harinya.

Bagi sebagian warga Kota Batam, tentu saja fakta ini tidak begitu mengejutkan. Mengingat, realita sosial tersebut yang kini terjadi di beberapa kota besar Indonesia. Mulai dari pelajar, ibu rumah tangga hingga para pekerja menuturkan alasan mereka malas berjalan kaki.

Arta Tama Putra, alumni SMA Hang Tuah Batam ini misalnya. Ia mengungkapkan intensitas jalan kakinya bisa terbilang sangat jarang.

”Mungkin hanya sebatas jalan kaki dari suatu tempat ke tempat parkir. Selama masih bisa ditempuh dengan naik motor, ya naik motor saja,” kata Arta.

Pengaruh zaman dengan kemudahan teknologi yang dihadirkan juga turut menyumbang turunnya jumlah langkah bagi pejalan kaki.

”Apalagi sekarang serba praktis, pesan makan tidak perlu jalan bahkan naik kendaraan, cukup pesan lewat aplikasi,” ujarnya.

Bagi para pekerja, kesibukan menjadi faktor utama hilangnya kebiasaan jalan kaki ini. Bahkan, fakta kesibukan ini juga mengakibatkan banyak pekerja kantor yang kurang gerak dan berakibat timbulnya berbagai penyakit, seperti jantung, obesitas, batu ginjal dan lainnya.

Misalnya faktor risiko batu ginjal yang disebabkan oleh kurangnya aktivitas tubuh. Penyakit ini sering ditemui pada pekerja kantoran yang banyak duduk di depan komputer.

ilustrasi
foto: batampos.co.id / cecep mulyana

”Malas gerak, ditambah dengan kurang minum, seseorang akan mudah terkena batu ginjal ini,” terang Dokter Spesialis Urologi Rumah Sakit Awal Bros (RSAB) Batam, dr. M Fariz, SpU.

Meskipun, berbagai penyakit mengintai individu yang malas berjalan kaki, beberapa warga masih saja berdalih fasilitas bagi pejalan kaki di kota masih sangat minim. Fakta lainnya yang sering dijumpai adalah keberadaan sepeda motor yang mudah dimiliki hanya dengan kemudahan cara bayar yang ikut menggeser kebiasaan seseorang berjalan kaki.

Fadhilah Nurzali misalnya. Pria yang bekerja sebagai pegawai swasta ini mengatakan, kehidupan perkotaan juga menuntut setiap orang memiliki kendaraan pribadi. Semakin mudahnya proses dan murahnya pembiayaan kredit sepeda motor, mendorong kebiasaan malas berjalan kaki semakin tinggi.

”Sepertinya kebiasaan berjalan kaki hilang begitu saja, setelah pindah ke kota,” kata Fadhil.

Pria kelahiran Mojokerto ini mengungkapkan, hampir semua orang memiliki kendaraan pribadi. Aktivitas yang seharusnya bisa dilakukan dengan berjalan kaki, malah dijauhi secara tidak langsung.

”Contohnya saja, meski jarak sekolah dekat, para orangtua mengantar anaknya bersekolah dengan naik motor juga,” ungkapnya.

Belum lagi, lanjutnya, kebiasaan yang dilakukan ibu rumah tangga dan kebanyakan orang yang berbelanja ke warung juga dengan menggunakan sepeda motor, meski jarak tempuh kurang dari 100 meter.

Realitas perkotaan inilah yang paling banyak terjadi, namun tidak disadari oleh penduduknya. ”Seolah-olah, malas berjalan kaki sudah menjadi gaya hidup warga perkotaan,” ucap Fadhil. (nji)

Loading...