batampos.co.id – Sekelompok orang membakar sebuah tongkang di Kompleks Pantai Permata Baloi, Lubukbaja, Kota Batam, Jumat (19/7/2019) sore.

Anehnya, warga yang melihat bukannya memadamkan api, namun malah bersorak gembira.

Ya, acara bakar tongkang itu memang bukan kejadian di mana kapal tongkang betulan dibakar.

Namun adalah tradisi tahunan masyarakat Tionghoa Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Provinsi Riau yang membakar replika kapal tongkang yang terbuat dari kertas, kain dan kayu yang dicat warna-warni.

Di Batam, ritual itu sudah dilaksanakan untuk keduapuluh tiga kalinya dan sudah terkenal hingga mancanegara.

Ritual bakar tongkang ini dilakukan di Vihara Cetya Upo Sakadharma yang dilakukan puluhan orang dan disaksikan ratusan pasang mata.

”Ini sudah dilaksanakan 23 kali di Batam. Ke depannya kami berharap kegiatan ini bisa terus dapat dukungan dari pemerintah,” ujar ketua panitia Bakar Tongkang di Batam, Rusdi.

Wakil Bupati Rohil Jamaluddin yang datang ke acara tersebut menjelaskan sejarah bakar tongkang dari daerah yang ia pimpin.

Bermula dari tuntutan kualitas hidup yang lebih baik, sekelompok orang Tionghoa dari Provinsi Fujian, Tiongkok, merantau menyeberangi lautan dengan kapal kayu sederhana.

Dalam kebimbangan kehilangan arah, mereka berdoa pada patung Dewa Kie Hu Ong Ya yang saat itu ada di kapal tersebut agar kiranya dapat diberikan penuntun arah menuju daratan.

Tak lama kemudian, pada keheningan malam, tiba-tiba mereka melihat adanya cahaya yang samar-samar.

Membakar tongkang, menjadi tradisi tahunan masyarakat Tionghoa Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Provinsi Riau. Tradisi ini menjadi salah satu daya tarik untuk mendatangkan wisatawan ke Kota Batam, Provinsi Kepri. Foto: Dalil Harahap/batampos.co.id

Dengan berpikiran dimana ada api di situlah ada daratan dan kehidupan, akhirnya mereka mengikuti arah cahaya tersebut.

Hingga, tibalah mereka di daratan Selat Malaka tersebut. Mereka yang mendarat di tanah tersebut sebanyak 18 orang yang kesemuanya bermarga Ang.

Cahaya terang itu ternyata dihasilkan kunang-kunang di atas bagan (tempat penampungan ikan di pelabuhan).

Sehingga para perantau menamakan daratan tersebut dengan nama Baganapi yang kini dikenal sebagai Bagansiapiapi.

Mereka inilah yang kemudian dianggap sebagai leluhur Tionghoa Bagansiapiapi. Sehingga mayoritas warga Tionghoa Bagansiapiapi kini adalah bermarga Ang atau Hong.

Pada penanggalan Imlek bulan kelima tanggal 16, para perantau menginjakkan kaki di daratan tersebut, mereka menyadari bahwa di sana terdapat banyak ikan laut, dengan penuh suka cita.

Mereka menangkap ikan untuk kebutuhan hidup. Mulailah mereka bertahan hidup di tanah perantauan tersebut.

”Sebagai wujud terima kasih kepada dewa laut Kie Hu Ong Ya, para perantau memutuskan untuk membakar tongkang,” ulasnya.

Sementara, Kepala Disparbud Kota Batam, Ardiwinata mengapresiasi tradisi tersebut. Ritual bakar tongkang ini masuk dalam kalender Visit Indonesia.

Setiap tahunnya, ritual ini mampu menyedot wisatawan dari mancanegara.

”Untuk Batam, kami mensupport tradisi ini. Kami juga akan mempromosikan kegiatan ini sampai luar negeri,” ujarnya.

“Tahun kemarin ritual ini juga mendapat perhatian dari WN Prancis yang kami bawa ke sana (Bagansiapiapi),” tutupnya.(she)