KASUS penyakit demam berdarah Dengue (DBD) merebak di Singapura. Sejauh ini, Badan Lingkungan Nasional (NEA) Singapura melaporkan, ada 7.808 kasus sampai Juli berjalan ini. Jumlah ini lima kali lebih banyak dibandingkan periode yang sama dari 2018 lalu.

Tak hanya itu, NEA dalam rilisnya seperti dilansir dari Channel News Asia, Jumat (19/7) lalu juga mengungkapkan, kasus DBD tahun ini akibat meningkatnya populasi nyamuk Aedes aegypti. Tiga kali lebih banyak atau tertinggi sejak kasus ini pernah merebak pada 2013 lalu.

”Dari hasil pantauan kami, ada 188 cluster DBD aktif di Singapura. Sebanyak 45 warga terdaftar berisiko tinggi,” ujar NEA.

Sementara, cluster DBD terbesar di Woodlands. Di sini, terdapat 216 kasus yang dila-porkan, dan sekarang masih dalam pengawasan NEA. ”Lima orang meninggal karena demam berdarah tahun ini,” ungkap NEA.

f. today online
BANNER peduli basmi Demam Berdarah (DBD) di salah satu sudut Jalan Yishun Ring Road Singapura. Banner ini sudah ada sejak 14 Juni lalu.

”Kami berada di puncak kasus DBD sejak rentang Juni lalu, dan wilayah di sekitar kami juga mengalami peningkatan kasus demam berdarah tahun ini,” kata badan tersebut.

NEA menyebutkan ada beberapa faktor terjadinya kasus ini, yakni cuaca panas yang terjadi akhir-akhir ini dengan tingkat kelembapan yang tinggi mengakibatkan tingginya pertumbuhan populasi nyamuk. Selain itu, cuaca panas ini juga mengakibatkan tingkat kekebalan tubuh menurun.

”Diperlukan tindakan dan kerja sama masyarakat untuk menghilangkan semua habitat potensial pembiakan nyamuk ini di sini,” tutup NEA. (*)

Loading...