batampos.co.id – Pengurus wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Provinsi Kepri serta korwil alumni IPM Kepri menggelar seminar nasional yang digelar di Gedung Pena Hall Graha Pena, Batam Kota, Sabtu (20/7/2019) siang.

Seminar nasional yang digelar kali ini mengangkat tema Ekonomi Batam untuk Siapa, dibawakan oleh pembicara yang didatangkan dari Jakarta selaku pengamat ekonomi kebijakan publik, Dahnil Anzar Simanjuntak.

Tak itu saja. Panitia acara juga mendatangkan pembicara dari Provinsi Kepri yakni Syamsul Bahrum selaku Asisten Bidang Ekonomi Pemprov Kepri, perwakilan Wali Kota Batam Wan Darussalam serta dimoderatori oleh Arifudin Jalil selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Internasional Muhammadiyah Batam.

Syamsul Bahrum yang menjadi pembicara awal menceritakan bahwa Batam awalnya didesain jadi pulau yang kosong seiring waktu dihuni 6 ribu penduduk dan saat ini sudah menjadi 1,3 juta penduduk. Untuk itu dibutuhkan strategi yang bagus untuk kemajuan perekonomian seperti dibangun berbagai infrastruktur seperti bandara, jembatan, pelabuhan dan jalan yang semuanya menggunakan dana APBD bahkan non-budgeter.

F. Dalil Harahap/Batam Pos
DARI kiri; Arifudin Jalil selaku moderator, Asisten Pembangunan dan Ekonomi Provinsi Kepri Syamsul Bahrum, pengamat ekonomi kebijakan publik Danhil Anzar Simanjutak, Wan Darusalam mewakili Pemko Batam saat seminar di Pena Hall, Batam Center, Sabtu (20/7).

”Di Batam ini bukan merupakan daerah pertanian dari awal dibentuk. Yang ada adalah pulau peruntukan industri, sektor produksi untuk pekerja. Sebanyak 60 persen lebih masyarakat yang tinggal di Batam itu penghidupannya bergantung pada sektor industri, sisanya 20 pesen jasa dan 15 persen pariwisata. Jadi kalau dijadikan 100 ekonomi bergantung pariwisata di Batam, itu tak akan bisa,” ujar asisten ekonomi pembangunan Pemprov Kepri yang bergelar Ph.D ini.

Untuk sektor pariwisata, lanjutnya, kunjungan wisman ke Batam memang berimplikasi pada peningkatan perekonomian di Batam, namun tak signifikan atau implikasinya tak besar.

”Sektor industrilah di Batam yang tak bisa dan tak boleh ditinggalkan. Industri tetap dijaga, begitu juga sektor pariwisata juga harus ditingkatkan biar bisa mengikuti sektor industri dampaknya ke perekonomian masyarakat. Harus berjalan seiring, tak saling mematikan,” tegasnya.

Secara ekonomi, menurut Syamsul Bahrum, di Batam ketergantungannya dengan Singapura sangat besar. Seperti misalnya wisman yang berkunjung ke Batam didominasi dari Singapura, begitu juga investor mayoritas dari Singapura, input barang juga dari Singapura.

”Seharusnya pembangunan di Batam ini bisa lebih pesat dibandingkan saat ini. Kenapa? karena ada BP Batam yang memiliki anggaran dari pusat sekitar Rp 2,1 triliun dan Pemko Batam yang memiliki anggaran sekitar Rp 2,3 triliun. Ada perputaran ekonomi di Batam sebesar Rp 4,5 triliun. Itu baru dari APBN dan APBD. Makanya wajar kalau kami di Provinsi Kepri dari Rp 3,6 triliun di PAD, Rp 1,1 triliun berada di Batam,” terangnya.

Belum lagi investasi di Batam sektiar Rp 15 triliun lebih yang bisa masuk melalui anggaran-anggaran yang sifatnya sektoral yang rata-rata uangnya masuk ke Batam.

”Jadi kalau dibilang ekonomi Batam untuk siapa? Saya menegaskan untuk masyarakat yang tinggal dan hidup di Batam,” tegasnya.

Sementara Dahnil Anzar Simanjuntak terkait perekonomian menegaskan, apa yang dirasakan oleh publik akan ekonomi di Batam sudah baik atau maju jangan hanya berpatok atau berorientasi kepada angka, bukan pada warganya atau manusianya.
Sedangkan menyoroti kondisi perekonomian di Batam yang dinilainya stagnan bahkan mengalami kemerosotan dan kemunduruan, faktor utamanya disebabkan adanya dualisme pemeritahan di Batam antara BP Batam dengan Pemko Batam yang selalu tak pernah sejalan dan saling gontok-gontokan.

”Saya ibaratkan Kota Batam ini adalah anak yang baru lahir dan dibutuhkan orangtua yang bisa membimbingnya dan mengarahkannya pada kemajuan. Ternyata di Batam ada dua orangtua yang tak pernah akur dan saling berebut kekuasaan. Dampaknya si anaknya ini yakni Batam tak akan bisa terkelola dengan baik karena dua instansi sibuk dengan egonya demi kekuasaan. Kalau dua instansi bisa berjalan selaras dan sinkron tanpa ada saling gesekan, saya yakin dualisme tak akan berpengaruh,” tegasnya mengakhiri. (gas)