batampos.co.id – Proses reekspor 49 kontainer sampah plastik di Batam yang terbukti mengandung bahan berbahaya beracun (B3) saat ini belum dilakukan.

Kondisi ini diakui para pengusaha yang terlibat dalam proses reekspor ini cukup memberatkan.

Karena semakin lama kontainer ini bertahan, maka akan semakin besar biaya yang harus mereka keluarkan.

Perwakilan PT Tan Indo Sukses, Marthen, mengatakan pihaknya merupakan satu dari empat perusahaan importir yang berkewajiban melakukan reekspor kontainer-kontainer tersebut.

Ia berharap proses reekspor bisa segera dilakukan.

“Saat ini kami sudah harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 30 miliar karena belum bisa direekspor, kita minta jangan ada penundaan lagi,” kata Marthen, Rabu (24/7/2019).

Kata Marthen, salah satu alasan kenapa proses reekspor yang sampai saat ini belum bisa dilakukan, karena Bea Cukai (BC) Batam masih menahan prosesnya.

Komisi III DPR RI meninjau limbah plastik yang berada di pelabuhan Batuampar, Kota Batam. Foto: bobi/batampos.co.id

Alasan penahanan tersebut karena akan ada kunjungan kerja dari DPR RI ingin melihat kondisi kontainer berisi sampah tersebut.

“Kita harapkan tidak ada kunjungan lagi, jadi prosesnya bisa dilakukan,” harapnya.

Sementara itu, Kepala BC Batam, Susila Brata, menjelaskan proses reekspor saat ini sudah bisa dilakukan.

Terkait dengan penundaan karena adanya kunjungan kerja DPR RI, Susila, mengaku, hal tersebut dilakukan untuk menghormati kedatangan mereka dalam menjalankan sistem pengawasan yang memang diamanatkan undang-undang.

“Kalau pas mereka (DPR RI) datang dan tidak ada barangnya, kita juga tidak enak,” kata Susila.(bbi)