batampos.co.id – Astaka yang berada di alun-alun Engku Putri rencananya akan dialihfungsikan menjadi museum.
Dalam waktu dekat Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berencana membantu mewujudkan berdirinya Museum di Kota Batam.
Sayangnya, Pemko Batam seakan tidak mempedulikan kondisi bangunan astaka.
Mau bukti? Jika Anda berada di astaka, coba memutari bangunan yang didominasi warna putih itu.

Jika Anda jeli, mata Anda akan tertuju pada salah satu tiang astka yang sudah rusak. Kondisinya tidak bisa dibilang biasa saja, tapi cukup parah.
Tiang tersebut berlubang dengan diameter sekitar 15 sentimeter. Tidak hanya itu lampu hiasnya juga sudah ada yang rusak.
Padahal astaka menjadi salah stu daya trik bagi wisatawan lokal dan mancanegara.

Bahkan hampir setiap hari masyarakat menghabiskan waktu di sekitaran astaka untuk menghilangkan penat setelah seharian bekerja.
Bangunan astaka sebelumnya digunakan untuk perhelatan akbar MTQ Nasional ke XXV dan diresmikan pada 29 Mei 2014.
Usai digunakan sebagai lokasi acara MTQ Nasional XXV, bangunan tersebut diserahkan Pemerintah Pemprov Kepri kepada Pemko Batam, Minggu, 15 Juni 2014.
Penyerahan dilakukan langsung oleh Gubernur Kepri saat itu HM Sani dan Wakil Gubernur Kepri, Soerya Respationo dan diterima Wali Kota Batam, Ahmad Dahlan dan Wakil Wali Kota Batam, Rudi.

Tidak hanya tiang dan lampu hias yang rusak, ruang yang dahulunya digunakan untuk para qori dan qoriah membaca ayat-ayat suci alquran juga tidak terawat.
Atap plafonnya sudah mulai retak-retak dan pecahan gypsum berserakan dilantai.
Kesan mewah dan megah bangunan astaka ini ternyata hanya dapat dilihat dari kejauhan.(nto)
