Sabtu, 18 April 2026

Gowes Sembari Jaga Lingkungan

Berita Terkait

batampos.co.id – ATB-BP Batam Festival Hijau 2019 semakin menarik. Usai menyuguhkan program edukasi yang baru dan berbeda melalui Kopi (kolom pikiran) Benny dan strory telling dari Direksi PT Adhya Tirta Batam (ATB), kegiatan Festival Hijau yang bekerja sama dengan EO Batam Pos ini dilanjutkan dengan mengajak pesepeda di Batam untuk peduli lingkungan melalui acara gowes yang start dan finish di Kepri Mall, Minggu (28/7).

Sebanyak ribuan pesepeda ambil bagian dalam upaya konservasi lingkungan dan sumber daya air di Batam tersebut. Mengenakan jersey hijau yang menjadi khasnya ATB, peserta dibawa melewati rute yang lebih panjang dan cukup menantang dari sebelumnya.

Dari garis start di Kepri Mall, peserta bergerak menuju ke hutan di sekitar Dam Seiharapan. Di sinilah lokasi penanaman pohon untuk Festival Hijau tahun ini.
Tak sedikit yang mengalami masalah dalam menjajal rute sejauh 23,5 kilometer, dari start hingga finish. Namun keseruan kegiatan dapat dirasakan bersama. Presiden Direktur PT ATB Benny Andrianto, Direktur Keuangan ATB Asriel Hay, Kepala Kantor Air BP Batam Binsar Tambunan, udangan lainnya juga ikut bersepeda, berbaur dengan peserta lainnya.

Dalam Festival Hijau 2019 ini, ada 1.200 bibit pohon yang ditanam di dua Daerah Tangkapan Air (DTA). Yakni hutan Dam Duriangkang dan Seiharapan. Jumlah itu menambah banyak total pohon yang telah ditanam ATB sejak dimulainya Festival Hijau pada 2011 lalu, yakni menjadi 11.800 pohon.

“Ini bukan hanya sekadar program tanggung jawab perusahaan di bidang lingkungan, tapi ATB juga konsen terhadap ketahanan sumber daya air di Batam dengan mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaganya,” kata Benny Andrianto, Minggu (28/7).

Setibanya di Sei Harapan, pesepeda dapat menyaksikan kondisi hutan di DTA Seiharapan secara langsung. Di sejumlah titik terlihat barisan pohon yang telah mati dan hangus terbakar akibat perbuatan tangan-tangan tak bertanggung jawab. Selain itu, beberapa titik DTA sudah beralih fungsi.

Benny menekankan, pengalihan fungsi lahan di DTA menjadi lahan non-konservasi, baik berupa alokasi lahan untuk hunian, penambangan liar, perkebunan, atau kegiatan sejenisnya tidak diizinkan. “Itu akan sangat membahayakan masa depan,” tegasnya.

Selama ini, mayoritas masyarakat belum waspada mengenai keterbatasan sumber daya air di Batam. Selagi mendapatkan air dengan mudah, tak pernah terpikir bahwa sumber daya air ini bisa habis. Padahal, proses kekurangan air akan terjadi di masa depan.

“ATB membangun kesadaran semua pihak. Jangan sampai ketika air sudah tidak ada, baru mengeluh. Kita harus sama-sama sadar dengan cara menghemat air dan menjaga DTA dengan cara menanam pohon dan tidak merusaknya,” ungkap Benny.

Direktur Humas dan Promosi Badan Pengusahaan (BP) Batam Dendi Gustinandar menambahkan, kegiatan ATB-BP Batam Festival Hijau 2019 adalah kegiatan strategis guna meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hemat air. Dendi juga menegaskan, masyarakat perlu menyadari bahwa salah satu hambatan besar bagi Batam adalah sumber daya air. Batam mengandalkan air hujan yang ditampung di waduk-waduk untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi warganya.

“Dengan keterbatasan air, menjadi penting bagi kita untuk sama-sama menerapkan pola hidup modern yang hemat air. Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk mendorong hal tersebut,” ucapnya.

Salah satu dampak terbatasnya sumber daya air itu sudah dialami masyarakat, April lalu. Warga yang dilayani melalui waduk Seiharapan harus dilakukan penggiliran (rationing) karena saat itu air baku berkurang drastis akibat curah hujan yang menipis.

“Diharapkan hal itu tidak kembali terulang dengan kepedulian kita untuk selalu ingat pentingnya menghemat air dan menjaga DTA,” sambung Dendi.

Sementara Asisten Ekonomi Pembangunan Kota Batam Pebrialin Razak mengaku, Festival Hijau 2019 menjadi kegiatan yang sejalan dengan upaya Pemko Batam untuk menjaga sumber daya air. Menurutnya, kemajuan infrastruktur Batam yang pesat juga harus didukung dengan kondisi alam yang asri dan nyaman bagi masyarakat. Sehingga, faktor daya dukung Batam tetap terjaga.

“Dengan program seperti ini, Batam yang diharapkan jadi kota nan nyaman bisa terwujud,” tuturnya.

Di samping aksi tanam pohon, peserta gowes juga diajak membubuhkan cap jarinya di gambar pohon yang disediakan sebagai bentuk komitmen bersama untuk melestarikan, hutan khususnya di area DTA. Hiburan lainnya juga diisi dengan zumba, pemutaran video mengenai kondisi hutan terkini, pembagian doorprize yang terdiri dari ratusan item hadiah seperti sepeda, kulkas, home theater, dan dispenser, kemudian penampilan teatrikal, dan lomba dance. (nji)

Update