batampos.co.id – Suasana Gedung DPRD Kota Batam mendadak ramai. Ketegangan terjadi antara Mahasiswa STIE Ibnu Sina Batam dan honorer yang bertugas di DPRD Kota Batam.
Ketegangan terjadi sekitar pukul 11.00 WIB tersebut berujung pada aksi saling pukul antara para mahasiswa dan sejumlah honorer.
Aksi saling pukul ini terjadi sejak di ruang lobby hingga ke halaman depan gedung DPRD Kota Batam.
Suara teriakan kedua kubu yang terlibat ketegangan terdengar cukup keras hingga menarik perhatian orang-orang yang berada di lokasi ini.
Pantauan di lokasi kejadian, sekitar 7 mahasiswa yang terdesak karena kalah jumlah dibanding honorer, perlahan bergeser ke luar gedung DPRD Kota Batam.
Sebelum meninggalkan lokasi, para mahasiswa dan sejumlah pegawai honorer masih terlihat terlibat adu mulut hingga saling dorong.
Atas insiden ini, kedua pihak mengalami luka fisik. Mahasiswa STIE Ibnu Sina Batam, Akbar, 21, adalah salah satu mahasiswa yang mengalami luka di bagian mulutnya.

Ia mengaku sempat dipiting dan dipukul hingga bibirnya berdarah. Sementara itu, terlihat juga salah satu pegawai honorer mengalami luka di bagian sikutnya.
“Saya sempat dicekik, baru diterajang,” kata Akbar yang bibirnya masih berwarna merah akibat insiden tersebut.
Dari bagian luar gedung DPRD Kota Batam, para mahasiswa ini masih sempat berorasi, menyatakan tidak terima mendapat perlakuan yang tidak seharusnya dari pegawai honorer yang terlibat ketegangan dengan mereka.
Koordinator Umum (Kordum) aksi ini, Habibi, menuturkan, awalnya mereka hanya berinisiatif meminta sumbangan kepada anggota DPRD Kota Batam sesaat setelah melakukan aksi di gedung Bright PLN Batam.
Namun, kegiatan mereka meminta sumbangan ini tidak mendapat respon yang baik dari beberapa pegawai.
Atas perlakuan tersebut, para mahasiswa ini akan membuat laporan ke Polresta Barelang. Mereka meminta pertanggungjawaban atas perlakuan yang mereka terima tersebut.
“Awalnya udah dikasih duit, tapi ada yang tidak terima dan tanya izin,” ujarnya.
“Kami minta seiklasnya, donasi makan siang untuk mahasiswa, kami minta pertanggungjawaban dari oknum yang sudah melakukan penganiayaan,” kata Habibi lagi.
Sementara itu, salah satu honorer DPRD Kota Batam, Juang, menuturkan, aksi mahasiswa meminta sumbangan ini dinilai tidak sesuai dengan aturan yang ada.
Mereka datang dan langsung menuju ke lantai 2 gedung DPRD Kota Batam. Di lokasi inilah awal mula terjadinya ketegangan, dimana para mahasiswa ini tidak terima ketika ada salah satu pegawai yang menanyakan izin mereka meminta sumbangan.
“Mereka tak sopan, datang langsung naik ke lantai dua. Pas ditanya tidak terima, terus dipaksa keluar,” kata Juang menjelaskan.(bbi)
