Pernahkah mendengar peribahasa ini: “Air beriak tanda tak dalam”.
Kalau diartikan, kurang lebih artinya seperti ini: “Orang yang banyak bicara biasanya tidak banyak ilmunya”.

Biasanya, peribahasa itu menggambarkan orang yang banyak bicara, doyan protes, suka menuntut, atau hobi menggosipin orang lain. Namun, sumbangsihnya tak seberapa. Atau bahkan tidak ada sama sekali.

Memang, manusia dilahirkan punya mulut. Bebas mau diapakan. Boleh bicara semaunya. Tidak salah. Wajar-wajar saja. Itu hak. Tapi saat memanfaatkan “alat” bernama mulut, terkadang lupa menggunakan otak.

Dalam sebuah perkumpulan, seperti organisasi, perusahaan, institusi, atau paguyuban, pasti ada yang seperti itu. Biasa. Beda orang, beda perangai. Hahahahaha.

Memilih sosok yang sempurna memang susah. Bak mencari jarum di atas tumpukan jerami. Harus selektif. Benar-benar memahami luar-dalam isi orang itu. Terpeleset sedikit saja, bisa mengganggu sistem yang sudah kita buat.

Saat ini ada dua momen penting, menurut saya. Penyu-sunan kabinet dan seleksi calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dua-duanya punya peran vital. Tidak boleh diisi sembarang orang. Harus dijauhkan dari faktor X: politik.

Kabinet yang disusun akan membantu kerja-kerja presiden dan wakil presiden dalam menyukseskan pembangunan di segala bidang. Baik infrastruktur, ekonomi, sosial, dan budaya.

Sementara KPK, berkepentingan mencegah dan menindak rasuah. Menyelamatkan negara dari oknum-oknum yang mau mengeruk pundi-pundi kekayaan negara dengan cara jahat.
Penempatannya harus me­nga­nut prinsip: right man on the right place. Kalau di-Indonesia-kan adalah, orang yang tepat di tempat yang tepat. Jangan sampai pasang orang yang salah. Apalagi penganut sistem ABS alias asal bapak senang.

Barangkali tidak hanya berlaku bagi kabinet dan KPK. Semua perusahaan, institusi, instansi, atau lembaga juga memberlakukan hal serupa. Tidak ingin menaruh orang sembarangan.

Tak jarang, ditemukan orang paling pintar. Kalau mau cari orang pintar sih mudah. Tinggal datang ke sekolah atau kampus. Pilih yang berprestasi. Rangking 1 seumur hidup atau IPK 4,00. Namun, pintar saja tidak cukup.

Ada hal lain yang jadi pertimbangan, yaitu trust. Kepercayaan.

Mulai dari presiden, tim seleksi KPK, pimpinan perusahaan, ketua organisasi, atau kepala daerah, selalu mempertimbangkan banyak faktor dalam menentukan orang. Butuh pertimbangan yang sangat matang.

Tidak sembarangan ambil keputusan. Tak sekadar cari orang pintar. Begitu juga dengan saya. Pasti akan melakukan hal yang sama. Mungkin iya. Kwakakakakakak.

Menempatkan orang itu perkara mudah. Tapi apakah orang itu akan support dan sesuai? Itu yang susah. Orang yang direkrut, mereka yang diangkat nantinya, adalah bagian dari teamwork.

Sekilas saja, kita bisa melihat perangai orang lain. Walaupun hanya sekejap. Istilahnya, cinta pada pandangan pertama. Walaupun pandangan pertama sering menipu.

Ciiyyyeeee…

Dan biasanya, mereka yang banyak cakap, susah bekerja. Menguasai teori belum tentu paham pekerjaan. Sehingga jatuhlah pilihan kepada orang yang “gila” kerja.

Lalu, berlakulah peribahasa: “Air beriak tanda tak dalam”. Kalau bahasa kekinian, menggunakan istilah be­ken, “No Action Talk On­ly” alias NATO.

Tentunya kita semua berharap, kabinet dan KPK tidak diisi orang-orang yang hanya pandai berbicara atau berteori. Harus diisi orang yang tepat. Bukan lagi bersandar pada keputusan politis.

Karena, masa depan bangsa ditentukan oleh pemilihan orang yang tepat. Butuh orang yang berani action dan berpikir out of the box. Namun, tetap dalam batasan peraturan. (*)