Rabu, 15 April 2026

Di SMAN 23 Batam Satu Kelas Diisi 49 Siswa, Situasi Belajar Kurang Nyaman

Berita Terkait

batampos.co.id – SMAN 23 Batam merupakan satu-satunya SMAN di wilayah Batuaji. Saking banyaknya siswa, para siswa kelas X untuk sementara waktu menumpang di SDN 005, Kelurahan Kibing, Batuaji dan SMAN 5 Batam, Sagulung. Kegiatan belajar mengajar jauh dari nyaman.

Sebelumnya, kelas X jurusan IPS SMAN 23 menumpang di SMAN 5, Sagulung yang terbagi empat rombel dalam dua sif, pagi dan siang. Dua kelas pada pagi hari, lalu dua kelas untuk siang hari.

Rabu (31/7) untuk jurusan IPA kelas X sementara menumpang di SDN 005, Kibing dengan berbagi waktu dengan siswa SD tersebut. Dimana, siswa kelas X IPA masuk pada siang terbagi dalam tiga kelas, satu kelasnya diisi hingga 49 siswa.

”Seharusnya empat kelas tapi satu kelas dilebur maka menjadi tiga kelas, kondisi belajar sebisa mungkin dikondisikan dengan bantuan kipas angin dua unit,” kata M Iqbal, Guru Biologi Kelas X IPA I.

Para guru juga harus membagi waktu mengajar di tiga titik berbeda, plus harus mengajar ke SMAN 5 untuk mata pelajaran Pendidikan Kewirausahaan (PKWU).

Sedangkan buku pelajaran, saat ini masih mengambil dari internet di aplikasi edmodo yang juga berdasarkan kurikulum Disdik tahun 2013.

”Buku pelajaran dalam proses belajar melalui applikasi, nantinya siswa juga bisa belajar di rumah melalui perangkat Android,” lanjutnya.

Hingga kini, pihak sekolah masih mengupayakan agar permintaan buku pelajaran dari Disdik Provinsi Kepri cepat terealisasi.

”Sebab, tak semua siswa bisa mengakses aplikasi mo-dul karena keterbatasan tersebut, harapnya permintaan buku bisa cepat terealisasi,” ujar dia.

Kondisi belajar mengajar yang terkesan padat dan gerah membuat siswa yang berada di kelas merasa sulit berkonsentrasi terhadap mata pelajaran.

Satu kelas di SMA 23 Batam.

Salah satu siswa kelas X IPA I, Aida mengatakan, kondisi lokal yang padat membuatnya harus ekstra kosentrasi agar bisa memahami pelajaran. Terlebih pada waktu siang hari ketika cuaca sedang panas terik.

”Kalau untuk memahami pelajaran memang harus ekstra konsentrasi, apalagi ketika siang hari,” katanya di ruang kelas.

Kepala SMAN 23 Sarimin Adang mengatakan, dengan jumlah tenaga pengajar 20 orang, tentu menjadi tantangan tersendiri membagi jadwal di tiga titik berbeda.

”Maka guru proaktif melaya-ni tiga titik sembari membawa buku pelajaran sekaligus. Sebagian guru diperbantukan oleh SMUN 5, begitu pula yang di SDN 005,” katanya.

Ia hanya berharap ke depannya ruang kelas agar bisa mengumpul di satu lokasi sekolah SMUN 23 agar mudah terpantau dan kegiatan belajar me-ngajar bisa kondusif.

”Ke depan, untuk mengakomodir jam belajar, masih proses mengajukan ke Disdik Provinsi Kepri,” pungkasnya. (cr1)

Update