batampos.co.id – Kapal roll on roll off (Roro) KMP Sembilang terbakar saat sedang dalam proses perbaikan (docking) di area galangan kapal milik PT Karimun Marine Shipyard (KMS), Karimun, Rabu (31/7). Hingga tadi malam sedikitnya ada tiga orang pekerja yang dilaporkan meninggal dunia.
Kapolres Karimun AKBP Hengky Pramudya mengatakan, kapal roro tersebut tengah melakukan perbaikan pipa kapal di galangan milik PT KMS. Namun, saat beberapa karyawan dan teknisi sedang bekerja, tiba-tiba terjadi ledakan dari dalam kapal.
Percikan api dari ledakan tersebut langsung menyambar bahan bakar minyak (BBM) yang berada di bagian depan kapal. Sehingga terjadi kebakaran hebat di dalam kapal.
“Ledakan ini menyebabkan kebakaran pada bagian ramdor atau bagian depan kapal yang ada di daerah tersebut ada tanki minyak,” ujar AKBP Hengky, Rabu (31/7).
Kapolres membenarkan ada tiga orang meninggal dunia dalam insiden ini. Yakni Surja, 25, pekerja, warga Karimun. Surja meninggal di Rumah Sakit Bakti Timah (RSBT) Karimun. Saat dibawa ke rumah sakit tersebut, kondisi Surja sudah kritis.
Dua korban meninggal lainnya diduga bernama Mudai dan Hendrik. Keduanya diduga terjebak di dalam kapal saat terjadi kebakaran. Jenazah keduanya ditemukan di dalam kapal dalam kondisi hangus.
Namun, polisi masih perlu melakukan autopsi untuk memastikan bahwa kedua jenazah itu merupakan mayat Mudai dan Hendrik.
“Saat ini kedua jenazah korban sudah dievakuasi dan ditempatkan di kamar jenazah RSUD M Sani,” kata Kapolres.
Kapolres menambahkan, proses perbaikan KMP Sembilang memang tidak seluruhnya dikerjakan oleh teknisi dari galangan kapal PT KMS. Namun, beberapa kru kapal juga ikut melakukan perbaikan.
Untuk itu, terdapat beberapa kru kapal yang turut menjadi korban dalam insiden kebakaran kemarin. Yakni sebanyak enam orang me-ngalami luka bakar serius.
Selain itu, korban luka juga berasal dari PT IMS selaku sub kontraktor PT KMS sebanyak dua orang, dan dari PT NIP satu orang. Sementara dari PT KMS sendiri terdapat satu korban luka bakar.
Masih kata Kapolres, total pekerja dan teknisi yang melakukan perbaikan kapal tersebut sebanyak 29 orang. Terdiri dari 19 orang kru kapal, delapan orang pekerja PT IMS, satu orang PT NIP, dan satu orang dari PT KMS.
Menurut Kapolres, proses pemadaman kebakaran di kapal tersebut memakan waktu sekitar dua jam. Sebab api terlalu besar karena terdapat BBM yang terbakar. Proses pemadaman dilakukan oleh empat mobil pemadam kebakaran milik PT KMS, Pemkab Karimun, PT Saipem Indonesia, dan PT MOS.
Sementara terkait sumber kebakaran, Kapolres belum dapat memastikannya. Pihaknya sudah menghubungi Tim Laboratorium Forensik Mabes Polri di Medan untuk melakukan pemeriksaan. Dalam beberapa hari ini diperkirakan tim akan tiba di Karimun sehingga bisa mendapatkan hasil dan mengetahui penyebab kebakaran.
Sementara Direktur RSBT Karimun dr Firman menyebutkan, awalnya terdapat 10 pasien luka bakar yang dibawa ke rumah sakit tersebut sesaat setelah terjadi kebakaran. Kemudian pada pukul 12.00 WIB satu orang di antaranya meninggal dunia atas nama Surja karena mengalami luka bakar 82 persen derajat 2 sampai 3 dan me-ngalami trauma inhalasi.
“Saat ini, yang dirawat di RSBT hanya tujuh orang saja. Sedangkan yang dua orang lagi kami rujuk ke RSUD M Sani karena ICU kami penuh,” katanya.
Dikatakannya, untuk tujuh orang yang masih dirawat di RSBT, empat orang ditempatkan di ICU dan tiga orang di ruangan biasa. Meski di ruangan biasa, tetap mendapatkan pengawasan dari dokter yang menangani. Karena, kondisi pasien luka bakar belum stabil sepenuhnya.
Bupati Karimun Aunur Rafiq langsung meninjau kondisi para korban di RSBT Karimun, kemarin.
“Saya tidak banyak komentar. Korban sedang ditangani oleh tim medis rumah sakit,” jelasnya.
Rafiq hanya berharap, polisi bisa segera mengungkap penyebab terjadinya kebakaran tersebut. Sehingga ke depannya bisa dijadikan pelajaran bagi kapal-kapal yang hendak melakukan perbaikan atau docking. “Sehingga soal safety-nya bisa ditingkatkan,” kata Bupati.
Sementara itu, Ketua DPRD Karimun M Yusuf Sirat me-ngungkapkan turut prihatin dengan insiden kebakaran kapal tersebut. Sebab bukan kali ini saja, kasus serupa juga pernah terjadi sebelumnya.
Yusuf menilai, hal ini menunjukkan perlunya evaluasi terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di Karimun, terutama di galangan kapal. “Pengawas ketenagakerjaan berada di Pemprov Kepri. Maka, mereka yang punya kewenangan dalam pengawasan terhadap K3,” terangnya. (san/tri)
