SEORANG pegiat seni di Batam, yang hari ini sudah jadi pengusaha tanjak, Tarmizi, menawarkan saya membacakan puisi di Hari Puisi Nasional 2019.

Se­dianya akan dihelat pada 26 Juli yang lalu, sehari setelah hari puisi itu dirayakan komunitas seni secara nasional. Tema helat oleh Tarmizi cs ini unik, “Chairil Belum Mati”.
Terus terang saya gamang. Jangankan membaca puisi, membuatnya saja saya tergagap-gagap. Maklum, saya bukan seniman seperti sang legend, Chairil Anwar. Apalagi budayawan.

Ditambah pula saya diminta menyampaikan pidato kebudayaan. Wah, apa lagi ini?!
Namun, karena teman lain, Sudirman El Batamy, seorang pegiat seni yang lain, turut menyemangati saya, jadilah saya sedikit berani. Katanya, seorang wartawan atau jurnalis, sejatinya adalah penulis puisi. Wartawan sudah terbisa menulis puisi tentang kehidupan, tentang berbagai kejadian, dan segala pernyataan, kemudian dituangkan dalam tulisan atau berita yang kelak dibaca kalangan luas.

Malam itu, oleh karena keseriusan Tarmizi dan Sudirman, sampai-sampai secara sukarela sejak sepekan belakangan mereka memasang baliho besar Chairil Anwar dan saya di jalan masuk ko­mu­nitas yang mereka sebut dengan “republik batam berpuisi”, dan didorong pula oleh teman-teman yang lain, saya terpicu untuk mengapresiasi usaha mereka. Ini sebuah penghargaan. Ditambah lagi satu backdrop di atas panggung sudah mereka pasang, mau tak mau saya harus tampil malam itu di Sekupang, Batam.

Teman-teman saya yang lain, baik teman di PWI Kepri maupun teman ngopi, ikut menyemangati saya. Tentu saja ada teman-teman komunitas lain, seperti seniman, aktivis mahasiswa, dosen STIE Bentara Persada, serta istri saya Sandra Mepa. Maka, di depan puluhan seniman dan teman lain, malam itu, termasuk mantan Penasehat GP Ansor Kota Batam ketika saya menjadi ketuanya, Eddy Prasetyo, saya memberanikan diri mengisi panggung di halaman bengkel tanjak yang sedang naik daun itu.

Dengan jantung dag-dig-dug!

Pada cakap-cakap kebudayaan, di atas panggung, saya mencoba berkontemplasi tentang kebudayaan posmo. Atau entah apalah namanya. Bahwa hari ini, kebudayaan baru telah lahir. Dari kehebatan teknologi. Dari pesatnya arus media sosial, online, dan teknologi 4.0 yang sebentar lagi disambut teknologi 5.0.

Bahwa budaya hari ini, adalah rangkaian manifestasi dan evolusi dari kebudayaan masa lalu yang terus bergerak. Mencari celah untuk terus mengikuti perubahan zaman. Anak-anak kita, para remaja, yang kerap kita sebut dengan generasi milenial itu, adalah kelompok yang paling rentan terkena imbas dari perubahan budaya teknologi itu sendiri. Betapa perubahan pola baca, dari yang semula membaca buku cetakan, membaca Kitab Suci, kini berubah membaca gawai atau gadget. Mereka yang dulu setia berlama-lama di pustaka, kini seperti enggan beranjak dari tempat duduknya dengan bermodalkan gawai di tangan.

Semua ada dalam genggaman.

Kita pun, hari ini yang sudah bukan muda lagi, juga telah terpapar perubahan budaya itu sendiri. Bukankah kebudayaan adalah hasil cipta karya manusia dalam menghadapi kehidupannya? Sehingga, kebudayaan yang jauh dari kondisi hari ini, sesungguhnya akan cepat menjadi sebuah budaya usang. Bukan kebudayaan kekinian.

Maka, dalam shalat pun, kita yang biasanya meletakkan buku ngaji, alat tulis, catatan majelis ilmu di atas sajadah, hari-hari belakangan kita sudah mengubah kebiasaan meletakkan gadget atau gawai di atas sajadah tersebut. Entah karena takut hilang, entah karena saku yang tak muat, entah juga karena ingin pamer, atau karena reflek saja. Inilah salah satu budaya baru. Mungkin. Budaya era teknologi.

Nah, karena saya sebenarnya belumlah begitu siap meninggalkan kebudayaan lama, saya mencoba mencari bridging (jembatan) ke kebudayaan baru. Kebiasaan kekinian. Agar tak terlalu jauh kelak jarak antara saya dengan teman-teman sepantaran anak-anak saya. Mereka inilah yang kelak akan menguasai lapangan. Menguasai dunia. Maka, pilihan saya adalah mencoba menyeruak di antara sentimentil masa lalu dengan harapan di masa depan. Sebab saya pun yakin bahwa Chairil belum mati! (*)