batampos.co.id – Di era teknologi ini, kejahatan tak hanya up to date. Bahkan, teknologi yang digunakan penjahat bisa melampaui teknologi kekinian.
Hal itulah yang dilakukan warga asal Bojonegoro, Jawa Timur, Cokro Prayitno, 45, yang mampu mentransfer Rp 1,7 miliar dengan saldo Rp 0.
Teknologi dan metode yang digunakan membobol bank belum teridentifikasi. Cokro memang tidak lagi bisa mengulangi perbuatannya, setelah ditangkap di Majalengka 25 Juni lalu.
Kasubdit I Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipid Siber) Bareskrim, Kombes Dani Kustoni, menuturkan, tersangka memang berpindah-pindah.
Sempat ke Jember terdeteksi mengambil uang dari ATM Mandiri, lalu ke salah satu rumahnya di Bali.
”Akhirnya ke Majalengka,” tuturnya.
Kejahatan ilegal akses ini dilaporkan salah satu bank BUMN. Kendati mengambil uang dari ATM Mandiri, Dani enggan memastikan bahwa bank yang dibobol adalah Mandiri.
Yang pasti, hingga hampir sebulan pelaku tertangkap, metode ilegal akses yang dilakukan Cokro ini belum diketahui.
Bareskrim baru pertama kali ini menemukan kejahatan dengan modus semacam ini.
”Saat ini teknologinya sedang diidentifikasi dari laptop dan handphone pelaku. Semua sedang diuji laboratorium forensik,” terangnya.

Menurutnya, secara sederhana ilegal akses yang dilakukan Cokro ini menggunakan kartu ATM, yang rekeningnya kosong atau tanpa saldo.
Namun, mampu mengelabui sistem bank untuk mengirim uang ke rekening tertentu. Jumlah rekening penampung itu mencapai 16 rekening.
”Uang yang ditransfer selama ini mencapai Rp 1,7 miliar,” urainya.
Hasil identifikasi sementara ini, diduga Cokro memodifikasi kartu ATM yang dimiliki. Namun, bagaimana modifikasinya, belum pula bisa dijelaskan dengan detail. Pengakuan tersangka juga tidak membantu.
”Dia pura-pura tidak mengetahui caranya. Menutup-nutupi metode yang digunakan,” paparnya.
Kepada petugas, Cokro mengaku hanya secara kebetulan bisa mengirim uang tanpa saldo.
Namun, dengan adanya persiapan 16 rekening dan petugas meyakini bahwa kejahatan ini terencana.
”Bukan kebetulan seperti yang didalilkan tersangka,” terangnya.
Namun begitu, Bareskrim sebenarnya menangani satu kasus yang serupa. Dani menuturkan, ada kasus ilegal akses dimana pelakunya mengirimkan uang, tapi saldonya tidak berkurang.
Untuk kasus tersebut masih dalam penyelidikan.
”Belum bisa diungkapkan detilnya,” ujarnya.
Bareskrim telah memberitahukan kasus tersebut ke perbankan. Sehingga, bisa dicari solusinya untuk mencegah kejahatan yang sama terulang.
”Perbankan sudah mengetahui, kita coba cegah,” paparnya.
Dani menambahkan, petugas tidak hanya menerapkan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), namun juga menerapkan Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang (UU TPPU).
”Perusahaan pembersihnya disita asetnya, ada pula empat mobil. Diduga uang yang diambil dicuci dengan perusahaan tersebut,” paparnya.
Sementara tersangka Cokro Prayitno menampik penjelasan dari kepolisian. Ditemui di lobi Gedung Bareskrim, dia menuturkan bahwa baru tiga bulan yang lalu mengetahui bahwa kartu ATM-nya bisa mengirim uang tanpa saldo.
”Itu hanya kebetulan,” ujarnya.
Cokro mengaku bila tiga bulan lalu mengirim uang Rp 300 ribu. Namun, setelah mengirim uang itu, ternyata justru uang di rekeningnya bertambah menjadi Rp 600 ribu.
”Saya kirim lagi, eh jadi Rp 1,2 juta,” tuturnya.
Hingga akhirnya, uang yang diambil dari ATM yang seharusnya kosong itu mencapai Rp 1,7 miliar.
Menurutnya, pernah suatu saat kartu ATM-nya tertelan mesin ATM.
”Saya urus ke bank dan kartu dikembalikan, serta tidak terblokir,” paparnya.
Setelah diurus ke bank itu, kartu ATM tersebut tetap bisa untuk mengirim uang.
”Soal 16 rekening itu, bukan penampung. Tapi, saya membayar utang ke orang, jumlahnya lebih dari 16 rekening,” tuturnya sembari menunduk.
Menurutnya, memang apa yang dilakukan karena terdesak ekonomi. Perusahaan pembersih lantai miliknya mengalami bangkrut dan menanggung utang Rp 1,6 miliar.
”Itu yang sebenarnya,” paparnya, kemarin.
Dari pihak perbankan, Corporate Secretary Bank Mandiri, Rohan Hafas, menuturkan sejauh ini tidak pernah terjadi kasus transfer tanpa saldo.
Dia juga memastikan jika mesin ATM Bank Mandiri tidak pernah menerima laporan kasus semacam itu.
“Di (bank) Mandiri tidak pernah terjadi seperti itu ya. Sejauh yang kami tahu di ATM-ATM kami tidak pernah kejadian seperti itu,” ujarnya saat ditemui di Plaza Mandiri, kemarin.
Namun, sebelumnya salah satu bank BUMN terbesar di Indonesia itu sempat mengalami gangguan sistem perbankan yang menyebabkan terjadinya perubahan saldo pada para nasabahnya.
Perubahan saldo tersebut beragam, mulai dari ada yang bertambah banyak, hingga hanya tersisa nol rupiah di rekeningnya.
Gangguan sistem tersebut bisa ditangani dalam kurun waktu singkat. Namun, akibat gangguan tersebut, Mandiri sempat kehilangan dana Rp 10 miliar.
Tampaknya, para nasabah yang saldo rekeningnya bertambah ternyata memanfaatkan peluang tersebut.
Menyikapi hal tersebut, Bank Mandiri pun berupaya persuasif dengan menghubungi satu per satu para nasabahnya, agar mengembalikan dana yang bukan milik mereka tersebut.
Bank juga sempat melakukan pemblokiran terhadap sekitar 2.600 rekening yang diduga melakukan pengambilan dana ilegal tersebut.
Hasilnya, dalam kurun waktu seminggu, jumlah dana yang hilang tersisa Rp 1,7 miliar.
“Kalau tidak salah sekarang tinggal Rp 1,7 miliar. Intinya kita berusaha komunikasi dengan mereka, ajak ngobrol dan juga kami say thank you untuk yang sudah mengembalikan,” paparnya.(idr/ken/jpg)
