Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah meluncurkan tahapan pemilihan kepala daerah (pilkada) 2020. Jika tidak ada aral, pesta demokrasi itu akan digelar September 2020. Tahapannya start bulan depan.

DPR dan KPU menyepakati pemungutan suara digeber 23 September 2020. Ada sembilan provinsi, 37 kota, dan 224 kabupaten yang menggelar kenduri lima tahunan itu. Total 270 pilkada.

Menarik. Usai pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg), disambung lagi hajatan demokrasi lainnya. Pesta nonstop digelar di negeri ini.

Mungkin, 2021 ada lagi. Karena ada yang batal menggelar 2020.

Siapa yang maju, siapa yang berkompetisi, siapa yang bertarung belum terlihat. Masih meraba-raba. Masih mengintip peluang. Juga masih mencoba menaikkan popularitas.

Wajar. Semua orang yang berstatus warga negara Indonesia (WNI) berhak mencalonkan dan dicalonkan. Boleh ikut kontestasi pilkada. Kecuali jika hak politiknya dicekal karena kasus tertentu.

Barangkali, hasil pilpres dan pileg bisa jadi tolok ukur arah persaingan. Meskipun koalisi pusat belum tentu merembet ke daerah. Karena situasi dan kondisi masing-masing daerah berbeda. Kulturnya tidak sama.

Jujur. Saya lebih tertarik pilkada ketimbang pilpres atau pileg. Karena pilkada bersentuhan langsung dengan daerah. Tempat di mana kita tinggal. Pembangunannya pun menyasar grassroot.

Mungkin saja, pilkada lebih besar nilai jualnya. Lebih kompetitif. Tidak hanya menyajikan pertarungan calon dengan partai politik (parpol) di belakangnya. Tanpa parpol pun bisa ikut berkompetisi lewat jalur independen.

Sehingga, semua punya peluang sama. Bahkan di beberapa daerah, parpol kalah oleh calon independen. Koalisi gemuk kalah dari kartu tanda penduduk (KTP).

Inilah yang saya maksud lebih kompetitif. Parpol bukan segalanya. Justru figur yang paling utama. Lebih bisa diterima. Lalu, muncul pertanyaan: Anda bisa apa?

Ketika parpol kalah oleh independen, memang bukan pertanda kiamat. Bukan pula parpol tidak laku. Lebih tepatnya, bagaimana menjawab pertanyaan: Seberapa besar efek dukungan parpol terhadap calon?

Lagi-lagi masyarakat yang punya hak pilih lah yang menentukan. Ketika masya-rakat sudah menentukan pilihan, dan justru memenangkan calon nonparpol, anda bisa apa?
Gengsi lebih tepatnya. Parpol dengan basis massa besar pun bisa tumbang oleh calon independen. Ya, faktor figur yang menentukan kemenangan pilkada.

Ketika figur itu bisa diterima oleh masyarakat, dan janji-janji politiknya membuat calon pemilih terkesima, ya anda tidak bisa berbuat apa-apa. Kunci kemenangan kandidat adalah suara.

Tentu ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Bagi para calon. Bagi parpol. Sebelum bertarung, alangkah baiknya siapkan program, dongkrak elektabilitas, dan yang paling penting sediakan modal. Karena ongkos politik itu mahal.

Sehingga, sebelum ikut berkompetisi pada gelaran pilkada, saya akan bertanya: Anda bisa apa? (*)