batampos.co.id – Hingga Agustus 2019, total investasi yang sudah terealisasi di Batam mencapai 130,8 juta Dolar Amerika. Sedangkan total tenaga kerja yang diserap capai 2.994 orang.

“Total realisasi investasi dibagi atas investasi baru dan investor yang melakukan ekspansi usaha. Untuk investasi baru ada enam perusahaan, sedangkan yang ekspansi sebanyak enam perusahaan juga,” kata Direktur Promosi dan Humas BP Batam, Dendi Gustinandar, Rabu (7/8/2019).

Adapun investasi baru yang masuk antara lain Maruho Hatsuyo Batam dari Jepang. Maruho bergerak di sektor industri wayar. Total investasi capai 1,6 juta Dolar Amerika dengan tenaga kerja capai 70 orang.

Berikutnya Sammyung Precision Batam dari Korea Selatan yang bergerak di sektor teknologi komunikasi dan informasi. Total investasi capai 2,5 juta Dolar Amerika dengan tenaga kerja capai 80 orang.

Kemudian Simatelex Manufactory Batam dari Hongkong yang bergerak di sektor industri perlengkapan rumah tangga. Total investasi capai 3,2 juta Dolar Amerika dengan tenaga kerja capai 120 orang.

Lalu ada Pegatron Technology Indonesia dari Taiwan.

Perusahaan yang merelokasikan pabriknya dari Tiongkok akibat perang dagang Amerika dan Tiongkok ini berinvestasi sebanyak 40 juta Dolar Amerika. Sedangkan rekrutmen pegawai akan mencapai 1000 orang yang dilakukan secara bertahap. Keempat perusahaan yang sudah disebutkan berlokasi di Kawasan Industri Batamindo.

Kemudian dua perusahaan lagi yakni GP Enterprize dari Tiongkok yang bergerak di sektor produksi water pump. Nilai investasi capai 2,5 juta Dolar Amerika dan DK LOK Corporation dari Korea Selatan yang bergerak di industri katup pipa atau valve. Nilai investasinya capai 15 juta Dolar Amerika.

Sedangkan untuk investor yang melakukan ekspansi antara lain Ciba Vision Batam dari Swiss. Ciba memproduksi lensa kontak. Nilai investasi capai 27,86 juta Dolar Amerika dengan jumlah pegawai 184 orang.

Berikutnya Excelitas Technologies Batam dari Amerika. Excelitas merupakan industri elektronik. Nilai ekspansi capai 5 juta Dolar Amerika dan jumlah pegawai capai 140 orang.

Selanjutnya Rubycon Indonesia dari Jepang yang memproduksi kapasitor. Total nilai ekspansi capai 4 juta Dolar Amerika dan jumlah pegawai capai 120 orang.

Lalu Nok Asia Batam dari Jepang yang memproduksi komponen otomotif. Nilai investasi capai 7,2 juta Dolar Amerika dan jumlah pegawai capai 250 orang.

Kemudian Siix Electronics Indonesia dari Jepang yang bergerak di industri elektronik. Nilai investasi untuk ekspansi capai 2,5 juta Dolar Amerika dan jumlah pegawai capai 50 orang.

Dan terakhir Infineon Technologies Batam dari Jerman yang bergerak di industri semikonduktor. Nilai investasi capai 19,5 juta Dolar Amerika dengan jumlah pegawai 1.000 orang.

Perusahaan-perusahaan yang berekspansi ini juga berlokasi di Batamindo.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid mengatakan pengusaha sangat berharap investor baru yang masuk ke Batam bisa mentransfer ilmu dan teknologi kepada pekerja lokal.

“Artinya pemerintah harus memastikan penggunaan tenaga kerja asing (TKA) di perusahaan tersebut sesuai dengna ketentuan berlaku agar transfer ilmu dapat berjalan lancar,” jelasnya.

Rafki juga melihat, dominasi investor dari Singapura juga sudah mulai berkurang.”Artinya Batam dianggap menarik oleh investor dnia. Kesempatan ini harus dimanfaatkan,” ucapnya.

Untuk kedepannya, tantangan yang harus dihadapi yakni memastikan Batam untuk siap memasuki era industri 4.0. “Ini mengakibatkan derasnya investasi yang masuk, namun serapan tenaga kerja lebih rendah karena perusahaan akan mengandalkan robotik,” tegasnya.

Menurut Rafki, hal tersebut dipikirkan secara matang oleh pemerintah.”Tenaga kerja harus dipersiapkan untuk menyongsong industri masa depan ini. Jangan sampai nanti tenaga kerja lokal tak bisa direkrut karena tidak punya keahlian di bidang industri 4.0,” tuturnya. (leo)