batampos.co.id – Keamanan email bisnis begitu penting. Bila ada celah sedikit pun, hacker bisa jadi melakukan pencurian.

Seperti yang diungkap Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipid Siber) kemarin. Sebuah perusahaann Yunani OPAP Investment Limited kehilangan Rp 113 miliar akibat emailnya diretas.

Loading...

Lima peretas asal Indonesia ditangkap dan dua diantaranya masih dikejar. Kasubdit II Dittipid Siber Bareskrim, Kombes Rickynaldo, menuturkan, sesuai laporan awalnya pidana akses ilegal yang dilakukan hacker tersebut dilakukan 8 Mei.

Hacker ini mempelajari email dari bendahara OPAP Investment Limited yang telah diretas.

”Setelah dipelajari, pada 16 Mei terdapat sebuah transaksi melalui email yang form pembayarannya diubah oleh hacker tersebut,” tuturnya.

Lalu, pada 23 Mei, hacker ini kembali melakukan hal yang sama. Form pembayaran dalam email yang dikirim OPAP dimodifikasi.

Dengan pemalsuan form pembayaran itu, maka Bank Ceko atau PPF Banka mengirim uang dengan total nilai Rp 113 miliar ke sebuah perusahaan di Indonesia.

”Uniknya, nama perusahaan itu mirip seperti perusahaan Yunani, yaitu CV OPAP Invesment Limited,” terangnya.

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo (tengah) dan Kasubdit II Dittipidsiber Bareskrim Polri Kombes Rickynaldo Chairul (ketiga kanan) menunjukkan barang bukti dan tersangka saat rilis sindikat penipuan online di Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (7/8/2019). Foto: Miftahulhayat/JawaPos

Setelah dilakukan kooordinasi dengan sejumlah kepolisian siber negara lain, terdeteksi IP Address ada di empat negara, Nigeria, Inggris, Norwegia, dan Uni Emirate Arab (UEA). Namun, begitu dideteksi aliran uang ternyata berada di Indonesia.

”Lalu ditangkaplah empat tersangka, KS, HB, IM, DN dan BY,” tuturnya.

Dari keempatnya diketahui bahwa keempatnya bertugas menyiapkan segala sesuatu untuk menerima aliran dana.

Membuat perusahaan fiktif dengan akta notaris fiktif, akta pembuatan CV palsu, dan hampir semua dokumennya palsu.

”Itu digunakan untuk membuat rekening, namanya sengaja disamakan dengan perusahaan di Yunani untuk meyakinkan,” paparnya.

Dari analisa aliran dana kasus tersebut, diketahui bahwa dana dipecah dan dikirim ke money changer.

Tujuannya uang agar ditukar ke dolar Amerika dan Euro.

”Lalu diserahkan ke sindikat lainnya yang bertugas melakukan hacking,” terangnya.

Selain keempat pelaku, saat ini petugas mengejar dua oranya lainnya, yakni IR atau NR dan BV. Keduanya merupakan master mind dari kejahatan hacking email bisnis tersebut.

“Sudah keluar DPO dan masuk red notice,” jelasnya.

Karopenmas Divhumas Polri, Brigjenpol Dedi Prasetyo, mengatakan, dalam kasus tersebut petugas menerapkan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Ada sejumlah aset yang diduga dibeli dari hasil kejahatan, yakni empat mobil, tujuh sertifikat tanah, dan uang dalam rekening senilai 742 juta.

”Aset yang berhasil disita nilai totalnya sekitar Rp 5,6 miliar,” ungkapnya.

Bila masih ada aset lainnya, tentunya petugas akan segera melakukan penyitaan. Saat ini masih terus dideteksi aliran dananya kemana lagi. ”Kami masih cari terus,” paparnya lagi.(jpg)

Loading...