batampos.co.id – Tingginya harga sejumlah bahan pangan seperti cabai dan telur dalam beberapa bulan terakhir membuat masyarakat semakin menjerit.
Banyak yang mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Mereka terpaksa memangkas sejumlah kebutuhan akibat tingginya harga bahan pokok.
Siti, warga Batuampar misalnya mengeluhkan tingginya harga cabai yang sudah berlangsung sejak sekitar dua bulan terakhir.
Menurutnya, harga cabai yang berada di kisaran Rp 80 ribu hingga Rp 120 ribu dinilai cukup menguras kantong.
”Biasanya paling naik satu atau dua minggu setelah itu turun, tapi sekarang ini kok sampai berbulan-bulan,” keluhnya, kemarin.
Tak hanya cabai, harga telur ayam juga masih mahal. Ia menyebut, harga telur per papan yang berisi 30 butir kini dibanderol pada kisaran Rp 45 ribu.
”Dulu kan rata-rata Rp 36 ribu, kalau naik Rp 40 ribu setelah itu turun lagi. Tapi sekarang ini kok gak pernah turun lagi,” imbuh wanita dengan satu anak tersebut.
Tak hanya warga, sejumlah pedagang di pasar tradisional Batam juga merasakan dampak kenaikan harga beberapa bahan pangan tersebut.
Bahkan, sebagian di antaranya sengaja mengurangi stok bahan pokok yang dijualnya. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kerugian menyusul semakin tingginya harga komoditas tersebut di pasaran.

Ilham, pedagang cabai di Pasar Mega Legenda Batam Centre mengatakan, saat ini harga cabai merah berada di kisaran Rp 85 ribu hingga Rp 90 ribu per kilogram (kg).
Biasanya, ia mengaku selalu menyediakan stok di atas 15 kg. Namun kini, ia hanya menyediakan stok 8 kg hingga 10 kg.
Hal itu dilakukan agar tidak rugi. Sebab jika stok sama seperti sebelumnya, ia akan merugi.
Cabai yang tidak laku terjual karena mahal akan busuk dan tidak akan diminati pembeli.
”Sekarang kita hanya sediakan sesuai kebutuhan jumlah pembeli. Harapannya harga bisa kembali turun,” kata Ilham, kemarin.
Hal senada juga diutarakan Asnawi, pedagang di telur di Pasar Fanindo, Batuaji. Diakuinya, melihat daya beli masyarakat saat ini, ia tak berani menyimpan stok telur dalam jumlah banyak.
Bahkan, beberapa kali ia harus merugi karena telur yang dijualnya busuk akibat lama tak laku dijual.
”Biasanya banyak yang beli per papan, sekarang jadi per butir. Kalau simpan banyak-banyak takut rugi lagi,” katanya.
Asnawi mengatakan saat ini harga telur berkisar antara Rp 44 ribu hingga Rp 45 ribu per papan atau 30 butir.
Harga ini cukup tinggi bila dibandingkan dengan harga sebelumnya yang hanya Rp 38 ribu per papan.
”Ambil untung tipis saja udah dibilang jual mahal. Serba salah kalau kami pedagang,” sesalnya.
Sementara Andre, pedagang cabai di Pasar Fanindo mengatakan, harga cabai merah yang sebelumnya dijual dengan harga Rp 85 ribu per kg kini naik menjadi Rp 100 ribu per kg.
Meski begitu, permintaan di pasar diakui Andre masih tinggi.
”Mungkin karena Lebaran Iduladha, sehingga meski harga tinggi tetap masih banyak dicari warga,” katanya.
Sementara itu, anggota Komisi II DPRD Batam Hendra Asman meminta pemerintah daerah melalui dinas terkait segera turun ke lapangan untuk menelusuri dugaan permainan harga bahan pangan mengingat mahalnya berbagai jenis bahan pokok tersebut.
”Terkait kenaikan harga harus dicari tahu apa persoalannya, dan berikan solusi yang tepat buat para pelaku usaha dan juga masyarakat,” kata Hendra.
Pihaknya juga mendorong pihak terkait rutin menggelar operasi pasar.
Sebab, dengan operasi pasar, lambat laun harga akan stabil sehingga masyarakat, utamanya ekonomi kelas menengah ke bawah mampu membeli kebutuhan bahan pokoknya.
”Memang tidak mudah untuk menurunkan harga yang telah melambung tinggi. Oleh karena itu, pemerintah dan pihak terkait harus berupaya keras untuk menurunkan harga sembako (bahan pokok) di pasar,” ungkap Hendra.
Batam Pos mencoba mengonfirmasi tingginya harga bahan pangan tersebut pada Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Batam, Gustian Riau.
Namun, panggilan telepon dan pesan yang dikirimkan ke ponselnya tak berbalas.(rng)
