batampos.co.id – Aktivitas truk pengangkut tanah beroda sepuluh dikeluhkan warga pengguna jalan di Batuaji dan Sagulung, Kota Batam.
Pasalnya truk-truk proyek tersebut mengganggu kelancaran arus lalulintas sebab beroparasi tanpa batasan waktu.
Pagi dan sore hari aktivitas truk pengangkut tanah ini memperburuk situasi jalan. Jalan yang sudah rawan macet semakin padat merayap.
Sebab badan truk memakan hampir seluruh ruas jalan. Kendaraan yang dibelakang harus merayap pelan sebab tidak bisa mendahului truk-truk tersebut.
Tidak itu saja keluhan lain, kendaraan proyek ini juga merusak dan mengotori ruas jalan dengan ceceran material tanah muatan mereka.
Jalan raya Marina City dan Diponegoro Seitemiang misalkan. Banyak dihiasi lubang karena aktivitas kendaraan proyek reklamasi di wilayah Marina.
Truk pengangkut tanah yang umumnya beroda sepuluh itu menggunakan akses jalan raya untuk kelancaran aktivitas mereka.
Tak jarang alat berat seperti beko dan buldozer juga dipaksakan melintasi jalan utama sehingga merusak aspal jalan.

Lurah Tanjungriau, Agus Sofyan, mengaku geram dengan aktivitas kendaraan proyek tersebut.
Pihak kelurahan sudah menginformasikan ke dinas terkait. Sseperti Dishup dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam.
Hanya saja belum ada tindakan apapun atas keluhan tersebut.
“Jalan Marina City sampai Ahmad Dahlan rusak gara-gara truk tanah ini dan sudah kami sampaikan ke pihak yang berwenang tapi belum ada respon,” ujar Agus.
Kata dia, Jalan Ahmad Dahlan dari TPU Seitemiang hingga gerbang Marina rusak karena aktivitas pemotongan lahan perbukitan di kawasan Marina.
Sementara jalan Marina City rusak akibat aktifitas kendaraan proyek reklamasi di dekat gedung Bapelkes.
Dampak yang paling dikeluhkan masyarakat lanjutnya, atas aktivitas kendaraan proyek ini adalah tumpahan material tanah di sepanjang jalan.
Pengendara jadi tak nyaman sebab debu dan udara panas berterbangan di sepanjang bahu jalan yang dilalui kendaraan proyek tersebut.
Jika hari hujan maka jalan jadi becek dan licin. Ini terjadi lantaran kendaraan proyek tersebut tidak menutupi bak muatan dengan alat penutup sehingga material tanah berterbangan di sepanjang jalan yang dilalui.
“Jalan ke Tanjunguncang (Brigjen Katamso) yang paling parah, ttu karena proyek pemotongan bukit samping PT ASL untuk kenimbun hutan bakau di kawasan galangan belum selesai,” jelasnya.
“Sampai sekarang masih beraktifitas mereka. Susah sering komplain tapi tak ditanggapi,” ujar Haryanto, warga Tanjunguncang.(eja)
