batampos.co.id – Jumlah jemaah haji Embarkasi Batam yang meninggal dunia di Tanah Suci terus bertambah. Berdasadarkan data Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji (Siskohat) Kementerian Agama, hingga Senin (12/8) tercatat ada 11 tamu Allah dari Embarkasi Batam yang meninggal.

“Sampai hari ini sudah 11 orang jemaah Embarkasi Ba­tam yang wafat di Tanah Suci,” kata Humas Pelaksana Ibadah Haji Batam Syahbudi, Senin (12/8).

Loading...

Syahbudi merinci, ke-11 jemaah yang wafat tersebut antara lain Satar bin Muhammad Mahmud, 60. Almarhum adalah jemaah asal Sambas, Kalimantan Barat, yang tergabung di dalam kloter I Embarkasi Batam. Ia wafat di Rumah Sakit Arab Saudi pada Minggu (11/8) pukul 11.30 Waktu Arab Saudi (WAS).

Di hari yang sama, Tandur Brahim Boamin, 82, jemaah asal Kabupaten Tanjung Jabung Ti­mur, Jambi. Almarhum ter­ga­bung dalam kloter 27 Batam dan meninggal di Rumah Sakit Arab Saudi pada pukul 03.00 WAS. Selain itu ada Sidi Ali Ram­li Yusuf, 67, asal Kota Pekanbaru.

“Almarhum tergabung di kloter 2 Batam. Meninggal di Rumah Sakit Arab Saudi pada Sabtu 10 Agustus pukul 04.10 WAS,” kata Syahbudi.

Jemaah lainnya yang meninggal di Tanah Suci adalah

Jaslinar Abdul Latip Bin Abdul Samad yang tergabung dalam Kloter BTH 27. Almarhum merupakan jemaah asal Jam­bi.

Selanjutnya, Khairil Abbas bin Salim, 62, asal Pekanbaru yang tergabung dalam Kloter 02 dan Subli bin Muhammad, 64, asal Indragiri Hilir Provinsi dari Kloter 03.

Muslimin Musthofa Sholha bin Musthofa, 72, jemaah Kloter 21 Embarkasi Batam asal Talang Bakung, Jambi.

“Selanjutnya ada Poniman Bin Mat Rahim Abdullah, 61, Satari Saroji Sangid bin Saroji, 82, dan Sugianti Binti Saliman Karyo, 55,” jelasnya.

Sementara itu, pelayanan fasilitas tenda haji di Mina kurang memuaskan jemaah. Banyak jemaah haji Indonesia yang harus tidur di tenda Mina dengan berdesak-desakan. Tidur dengan kaki ketemu kepala jamak ditemukan di tenda-tenda. Sejumlah jemaah memilih menggelar tikar dan tidur di luar tenda. Menteri Agama (Menag) Luk­man Hakim Saifuddin terus mendesak supaya pemerintah kerajaan Arab Saudi memperbanyak tenda atau menambah kapasitas Mina.

Di antara jemaah yang memilih tidur di luar tenda adalah Abdul Kadir Suhaimi. Jemaah 50 tahun itu tergabung dalam kloter BDJ-09 dari embarkasi Banjarmasin. Tendanya tidak jauh dari tenda misi haji Indonesia. Untuk di ketahui komplek tenda misi haji yang juga klinik kesehatan Mina, tidak jauh dari ujung terowongan Muaisyim.

Kadir menggelar tikar plastik di pinggir pagar tenda. ’’Saya di maktab 50. Semua tendanya penuh. Di tenda saya ada 105 jemaah,’’ katanya Minggu (11/8) malam.

Dia berharap ke depan fasilitas tenda di Mina bisa diting-katkan. Sehingga jemaah tidak tidur berimpitan. Menurutnya tenda di Arafah lebih leluasa ketimbang di Mina.

Menurut Kadir fasilitas tenda yang baik justru diperlukan di Mina. Sebab jemaah mengeluarkan banyak tenaga dari tenda menuju Jamarat atau lokasi melempar jumrah.
Jarak tenda jemaah haji reguler Indonesia ke Jamarat sekitar 3 km. Sementara tenda yang terjauh, yakni di kawasan Mina Jadid bisa mencapai 7 km.

’’Karena jalan kakinya panjang, perlu istirahat yang maksimal,’’ tuturnya.

Masjidilharam. Foto: PPIH Arab Saudi/Jawa Pos

Dia mengatakan, rombongannya pertama kali melontar untuk jumrah aqabah Senin (11/8) sekitar pukul 10.00 pagi. Kemudian kembali ke tenda lagi sekitar pukul 13.00 siang. Dia bersyukur meskipun jauh, seluruh jemaah di rombongannya kembali ke tenda secara utuh. Tidak ada yang terpisah.

Dia menjelaskan sampai di tenda Mina dari Mudzalifah Minggu dini hari sekitar pukul 03.00 waktu setempat. Pada saat itu Kadir menjelaskan tidur di tenda Mina masih agar teratur. Sebab seluruh tas tenteng masih diposisikan mengelilingi di pinggir tenda bagian dalam.

Namun setelah itu posisi tas tenteng sudah di samping jemaah masing-masing. Sehingga membuat tenda semakin penuh sesak. Bahkan ada jemaah yang memasang tali jemuran di dalam tenda. Jemaah menggunakan tali itu untuk menjemur baju yang baru digunakan.

Saat Jawa Pos (grup Batam Pos) sampai di tenda Mina pada malam hari, mayoritas jemaah sudah tidur. Sehingga di komplek toilet terdekat tidak terlihat antrean yang panjang. Toiletnya terdiri dari tiga bagian. Pertama berupa keran air untuk wudhu atau cuci muka. Kemudian bagian lainnya adalah urinoir atau tempat untuk kencing di toilet laki-laki. Dan yang ketiga adalah bilik-bilik toilet yang dilengkapi WC.

Namun, di samping tembok toilet laki-laki banyak jemaah yang tidur sambil menggelar tikar. Di antara mereka sama alasannya seperti Pak Kadir tadi. Yakni kondisi di tenda sangat penuh. Kalaupun bisa tidur, tidak bisa leluasa bergerak. Sehingga lebih nyaman tidur di luar tenda dengan beralaskan tikar.

Kadir menuturkan secara umum pelayanan haji yang didapatkan jemaah sudah baik. Dia mencontohkan untuk makanan yang diberikan saat berada di hotel Makkah sudah lumayan enak. Kemudian untuk hotel atau pemondokan, kamarnya juga dia nilai bagus. Hanya urusan tenda di Mina saja yang menurut Kadir perlu ditingkatkan kapasitasnya.

Sementara itu pada hari pertama lontar jumrah pada hari Minggu (11/8) jemaah Indonesia melontar hingga malam hari. Sejumlah jemaah banyak yang tumbang ketika dalam perjalanan pulang ke tenda. Di antara jemaah yang jatuh pingsan saat pulang ke tenda adalah Relawati Mardiana. Jemaah asal Kota Lampung itu pingsan saat jalan kaki bersama rombongannya. Padahal titik dia pingsan masih belum terlalu jauh dari jamarat.

Relawati langsung mendapatkan pertolongan dari personel Tim Gerak Cepat (TGC) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di Pos 2 Mina. Dia diduga mengalami dehidrasi dan kelelahan. Saat dilakukan pemeriksaan, detak jantungnya cukup tinggi.

Akhirnya petugas melakukan pemasangan infus dan injeksi. Untuk mempercepat pemulihan, tabung cairan infus ditekan menggunakan alat pengukur tekanan darah. Butuh waktu beberapa lama sampai akhirnya Relawati bangun dari pingsannya.

Banyak jemaah lansia yang berangkat dari tenda menuju jamarat kuat berjalan kaki. Tetapi saat pulang dari Jamarat menuju tenda, sudah kehabisan tenaga. Di antaranya ingin dicarikan ojek kursi roda. Tetapi untuk rute dari Jamarat menuju tenda Indonesia, tidak banyak ojek kursi roda yang lewat.

Kalaupun ada tarifnya cukup mahal. Untuk rute tenda terdekat bisa dikenai tarif 100 riyal atau sekitar Rp 400 ribu. Sementara itu tarifnya bisa lebih mahal lagi hingga 500 riyal atau sekitar Rp 2 juta.

Di setiap pos petugas haji sejatinya ada kursi roda. Tetapi biasanya hanya tersedia satu kursi. Sehingga kursi roda tersebut hanya diperuntukkan bagi kondisi jemaah yang benar-benar kritis. Misalnya jemaah yang pingsan dipasangi infus, dan harus secepatnya dibawa ke ambulan. Tetapi untuk jemaah yang kelelahan, biasanya dianjurkan istirahat dahulu.

Baru setelah itu melanjutkan berjalan meskipun pelan-pelan. Di sepanjang jalan petugas Arab Saudi menyemprotkan air. Sehingga bisa mengurangi panas yang dirasakan jemaah.

Menag Lukman Hakim Saifuddin Minggu malam bertemu dengan Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi Mohammad Bin Salih Banten. Pada pertemuan itu Lukman menyampaikan begitu mendesaknya kebutuhan untuk memperbanyak daya tampung atau kapasitas tenda Mina. Selain itu dia juga berharap ada penambahan toilet di Mina. Menurut perhitungan Kemenag, space di Mina hanya sekitar 0,8 meter persegi per jemaah.

’’Tahun depan kita terus meminta kepada pemerintah Arab Saudi agar ke depan tenda di mina sebaiknya di­ting­kat,’’ jelasnya.

Sehing­ga daya tampungnya bisa semakin banyak. Kemudian toilet juga bisa ditingkat seperti di Mudzalifah dan Arafah. Di Arafah sudah ada sejumlah toilet yang dibuat bertingkat.

Lukman mengakui memang antrean toilet di Mina masih cukup panjang. Misalnya pada pagi hari atau sore. Menurut dia pembangunan vertikal atau bertingkat merupakan solusi yang paling memungkinkan. Sementara untuk memperluas area Mina, terkait dengan ketentuan syari.

’’Karena orang tinggal di luar Mina itu menjadi tidak sah dalam kaitan beribadah haji ini,’’ jelasnya.

Ketika Lukman berjalan dari Jamarat menuju tenda misi haji, ada jemaah yang kecapekan. Dia mengapresiasi kepada petugas yang tanggap terhadap jemaah yang mengalami kesulitan itu.

Kepada jemaah Lukman berpesan supaya bisa mempertimbangkan jarak antara tenda ke Jamarat. Bagi jemaah yang ingin melontar jumrah langsung, diimbau untuk selalu memperhatikan rombongannya. Supaya tidak terpisah. Sementara bagi lansia atau jemaah yang berhalangan, batu melontar jumrahnya sebaiknya dititipkan ke jemaah lainnya.

Kepala Pusat Kesehatan Haji (Kapuskeshaj) Kemenkes Eka Jusuf Singka memantau dua pos klinik kesehatan haji selama masa Mina. Yakni pos di dekat terowongan Muasyim dan pos satunya lagi di area Mina Jadid. Untuk pos klinik kesehatan di dekat terowongan Muasyim, menuturnya tidak sebanyak tahun lalu.

’’Tahun lalu di tenda ini full,’’ katanya.

Tetapi saat dia meninjau klinik di dekat terowongan Muasyim, ada sembilan jemaah yang menjalani perawatan. Pasien yang tidak bisa ditangani di tenda klinik di Mina, akan langsung dirujuk ke RS Mina Al Wadidi. (wan)

Loading...