batampos.co.id – Dinas Kesehatan Kota Batam berencana akan melabelkan kode produksi dan barkot penjualan obat-obatan dan perlengkapan medis yang dijual di apotek atau vendor obatan-obatan lainnya.

Kode produksi dan barkot penjualan ini untuk memperjelas asal usul obat dan peralatan medis, serta siapa, klinik atau layanan kesehatan mana membelinya.

Loading...

Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan hal itu bertujuan untuk meminimalisir ataupun mencegah pembuangan limbah medis di sembarangan tempat.

Sehingga jika ada temuan limbah medis di jalan raya atau pemukiman warga, akan mudah mengusut siapa atau layanan kesehatan mana yang membuang limbah tersebut.

“Kami akan koordinasi dengan asosiasi pedagang besar farmasi agar menyertakan kode produksi atau barkot, sehingga mudah melacak siapa atau pihak mana pembelinya,” ujarnya.

Warga perumahan Permata Hijau, Batuaji, Kota Batam, memperlihatkan limbah medis yang berserakan di pinggir jalan di perumahan mereka. Foto: Eja/batampos.co.id

Wacana itu lanjutnya, sudah cukup matang dan masih dalam proses untuk segera diterapkan.

Kata Didi, hal itu diperlukan sebab belakangan banyak temuan limbah medis di luar tempat yang seharusnya.

Temuan terakhir di pinggir jalan Diponegoro depan perumahan Permata Hijau, Bukit Tempayang, Batuaji, Minggu (27/7/2019) lalu.

Ribuan jarum suntik bekas, botol infus dan botol obat antibiotik menumpuk di pinggir jalan.

Temuan ini telah ditindak lanjuti Dinkes dengan mengangkut dan memusnahkan limbah medis tersebut di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah Batam.

Temuan ini juga dilanjutkan ke pihak kepolisian untuk mencari tahu siapa yang membuangnya.

“Apapun alasannya tidak dibenarkan limbah medis dibuang sembarangan. Kalau ketahuan izin operasianal layanan medis akan dicabut. Siapapun dan layanan kesehatan mana itu,” ujar Didi.(eja)

Loading...