batampos.co.id – Pemko Batam melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam mengkoordinir seluruh distributor bahan pokok (Bapok) untuk berjualan dalam satu pasar.

Nantinya, pasar tersebut diberi nama Pasar Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang menempati bangunan Pasar Grand Niaga Mas di Batam Kota.

”Terkait pasar ini, kami bersepakat dengan seluruh distributor, tujuannya menekan inflasi,” kata Kepala Disperindag Kota Batam, Gustian Riau di pasar tersebut, Senin (12/8/2019).

“Ini terealisasi karena arahan Wali Kota Batam,” kata dia lagi.

Sebelum gagasan membentuk Pasar TPID itu bergulir, TPID kerap menggelar pasar keliling yang dibingkai dalam konsep pasar murah bersama distributor dan dilakukan pada hari-hari besar.

Seperti, menjelang Lebaran dan Natal. Namun, hal ini dinilai kurang memberikan dampak terhadap pengendalian inflasi di Batam.

”Pasar TPID di Batam adalah yang kedua di Indonesia, yang sudah ada di Yogyakarta,” ujarnya.

“Tapi kita ini yang terlengkap dari distributor yang bergabung,” kata dia lagi.

Tidak hanya distributor bahan pangan umum, nantinya koordinator suplai bahan pokok dari Galang dan Rempang juga akan bergabung di pasar tersebut tanpa melewati rantai distribusi yang membuat harga jadi lebih mahal.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Batam Gustian Riau (kiri) saat meninjau Pasar Grand Niaga, Batam Center yang akan dijadikan Pasar TPID di Batam, Senin (12/8/2019). Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

”Pengelola pasar dari Barelang juga bergabung. Dengan ini, harga di pasar ini harganya standar distributor, lebih murah (dibanding pasar umumnya),” kata Gustian.

Kata dia, di Pasar TPID nantinya akan dijual semua bahan pokok. Mulai dari beras, gula, minyak, telur, tepung, cabai, bawang, sayuran, ayam, daging, ikan dan aneka kebutuhan pangan lainnya.

Karena dijalankan oleh distributor langsung, harga di pasar tersebut akan menjadi rujukan harga dari pasar lain di Kota Batam.

Dengan kata lain, akan menekan disparitas harga yang selama ini menyumbang inflasi khusus pangan.

”Pasar TPID mulai beroperasi mulai tanggal 2 September 2019 dan pasar seperti ini dinantikan tiap daerah,” jelasnya.

“Karena semangatnya menekan inflasi dan membantu masyarakat dapat harga pangan yang murah,” imbuhnya.

Seiring inovasi pasar, Disperindag Batam juga menghimpun semua distributor dalam satu wadah yakni Asosiasi Distributor Bapok Batam.

Sementara sebelumnya, distributor menghimpun diri sesuai jenis bapok yang dijual, semisal asosiasi distributor beras.

Ketua Asosiasi Distributor Bapok Batam, Aryanto, mengatakan, ada 60 distributor yang akan bergabung di pasar yang dilengkapi 63 lapak dan 15 kios ini.

Angka itu kata dia, akan terus bertambah. Ia menambahkan, asosiasi ini akan jadi wadah untuk membahas segala isu yang berkaitan dengan kebutuhan bapok masyarakat Batam.

”Program pemerintah ini kami sangat dukung, guna menekan inflasi. Dihimpun seperti ini kami senang sekali,” ujar Aryanto.

Pihak pasar Grand Niaga Batam, Welly, mengatakan pasar tersebut sudah terstandardisasi. Dengan mempertimbangkan kebersihan dan kenyamanan.

”Standarnya sudah bagus. Seperti contoh pipa buangan ini, tersistem dari aliran sekunder baru ke pembuangan utama,” pungkasnya.(iza)