batampos.co.id – Investasi senilai USD 466 juta atau setara dengan Rp 6,3 triliun masuk Batam. Batam Aero Technic (BAT) Lion Air Group dan dan Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia dari Garuda Indonesia Group-lah yang menanamkan modal sebesar itu untuk membangun fasilitas Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) atau bengkel pesawat di area Bandara Hang Nadim, Batam.

Rabu (14/8) kemarin, Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution bersama Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meresmikan peletakan batu pertama pembangunan MRO tersebut. Kerja sama ini merupakan lanjutan dari tahap I dan II yang telah terjalin sebelumnya. Di tahap III nanti, BAT-GMF akan membangun delapan unit hanggar yang dapat menampung 24 pesawat Boeing 737 dan Airbus 320.

Loading...

“Saya berharap kerja sama ini tidak hanya meraup pasar nasional. Tapi regional bahkan global,” kata Darmin saat pe­res­mian pembangunan MRO di Hang Nadim, Batam, kemarin.
Ia mengatakan, untuk dapat me­nguasai pasar regional bahkan global, kerja sama se­perti ini perlu dilakukan. Ka­rena dapat meningkatkan nama Indonesia di internasional.

“Kita semua dapat mencapai hal-hal itu, tadinya kita hanya objek,” ungkapnya.

Namun untuk membangun industri MRO, Darmin mengakui diperlukan beberapa insentif dan kemudahan dari pemerintah. Sehingga industri tersebut dapat maju dan berkembang. Ia mengatakan sudah memiliki beberapa kebijakan terkait itu.

ki-ka: Bos Lion Air Group Rusdi Kirana, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Menko Perekonomian Darmin Nasution meninjau lokasi pembangunan MRO tahap III dan IV di kawasan Bandara Hang Nadim, Batam, Rabu (14/8). Pembangunan MRO atau bengkel pesawat ini merupakan kerja sama antara Garuda Indonesia Group dengan Lion Air Group dengan nilai investasi mencapai Rp 6,3 triliun. foto: batampos.co.id / Cecep Mulyana

Salah satunya dengan menetapkan kawasan Bandara Internasional Hang Nadim sebagai kawasan khusus ekonomi (KEK) industri aviasi. Dengan adanya KEK ini pelaku industri aviasi akan mendapatkan pengurangan pajak (tax holiday) dan tidak dikenakan bea masuk.

“Begitu semua dokumennya selesai, kami akan terbitkan izinnya,” tuturnya.
Menurut Darmin, keberadaan MRO merupakan suatu keniscayaan di zaman ini. Adanya MRO dapat menghemat devisa dan juga menciptakan lapangan kerja. Pembangunan hanggar BAT dan GMF ini, diperkirakan dapat menyerap ribuan tenaga kerja.

Belum lagi pembangunan lanjutan dari kerja sama ini. Darmin menyebut akan dapat menciptakan puluhan ribu lapangan kerja. Oleh sebab itu, Darmin sangat mendukung pembangunan Industri MRO.

Sementara Presiden Lion Air Edward Sirait menyebutkan alasan mengapa memilih Batam sebagai lokasi pem­bangunan MRO. Antara lain karena jaringan logistik di Batam dinilai sangat mudah karena dekat dengan Singapura. Lalu Bandara Internasional Hang Nadim memiliki runway yang mumpuni. Sehingga pesawat berbadan besar dapat mendarat.

“Lahan yang tersedia luas. Tarifnya juga jelas dan prosesnya cepat,” ungkapnya.

Setelah tahap ketiga ini, Edward mengatakan akan ada kerja sama tahap ke-4. Apabila ditotal jumlah investasinya sekitar Rp 10 triliun dengan kebutuhan tenaga kerja sekitar 15 ribu orang.

“Namun, kami butuh dukungan. Pembebasan bea masuk suku cadang, penghapusan biaya administrasi tambahan pengadaan suku cadang, dan tax holiday,” ucapnya

Sedangkan Direktur Utama Batam Aero Technic, I Nyoman Rai Pering Santaya, mengaku sangat bangga dengan si-nergi ini. Ia merasa bantuan pemerintah cukup baik dalam meningkatkan iklim usaha di bidang perawatan dan perbaikan pesawat.

“Iklim usaha yang diciptakan oleh pemerintah sangat mendukung pertumbuhan dan pengembangan di Indonesia,” ungkapnya.

Ray mengatakan, MRO di BAT merupakan karya anak bangsa. Namun, memiliki standar internasional. Keberadaan MRO, katanya, diyakini dapat mengurangi beban harga tiket. Ke depan, maskapai penerbangan di Indonesia dapat menjual tiket lebih murah. Sehingga memudahkan perpindahan masyarakat dari satu tempat ke tempat lainnya.

“Sudah saatnya Indonesia menjadi tuan rumah di negerinya sendiri,” ujarnya.

Sementara itu, Plt Direktur Utama GMF Tazar Marta Kurniawan menyatakan bahwa pihaknya menyambut baik bentuk sinergi bersama BAT, dalam rangka memperluas jangkauan GMF di pasar Asia. Batam merupakan wilayah strategis dan bisa menjadi penghubung.

“Untuk mengoptimalkan akselerasi perusahaan, GMF senantiasa menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, seperti OEM, manufacturer & MRO. Saat ini GMF bekerja sama dgn BAT untuk meningkatkan serapan pesawat domestik dan internasional, serta menambah diversifikasi bisnis GMF,” ucapnya.

Tazar menambahkan, akan ada konsolidasi antara GMF dan BAT untuk melakukan pemilahan kapasitas dan kapabilitas antara GMF dan BAT untuk menghindari adanya double investment pada sektor perawatan pesawat. Selain itu, kerja sama ini diharapkan mampu mendorong ke dua belah pihak untuk terus meningkatkan utilisasi dan optimalisasi dari kapabilitas yang dimiliki.

Sehingga dalam 10 tahun ke depan, diharapkan dapat terwujud perawatan pesawat yang terintegrasi.

“Sinergi pekerjaan mesin (engine), komponen (component) dan bagian roda pendaratan (landing gear) akan mendorong perawatan pesawat yang semakin efisien dan membangun industri MRO Indonesia yang berdaya saing di kancah global,” ujarnya.

Sebelumnya, Batam Aero Technic telah beroperasi sejak 2014 dan merupakan perusahaan penyedia jasa perawatan dan perbaikan pesawat atau Maintenance Repair and Overhaul (MRO). Kapabilitas yang dimiliki saat ini adalah perawatan Airbus 320, Boeing 737 series, dan Airbus A330. Kini, memperkerjakan kurang lebih 2.000 pekerja, dengan jumlah investasi yang sudah tertanam sekitar 1 triliun rupiah.

Batam Aero Technic telah memiliki 4 unit hanggar perawatan pesawat dengan daya tampung 12 pesawat jenis Boeing 737 atau Airbus 320. Lalu juga memiliki satu unit hanggar untuk tempat pencucian dan perawatan pesawat, satu unit hanggar untuk pengecatan dan perawatan pesawat. BAT juga memiliki gedung suku cadang seluas 4 hektare, dan gedung sarana perawatan komponen pesawat (workshop).

Sementara itu GMF, memiliki pengalaman yang cukup mumpuni di bidang perawatan pesawat selama 69 tahun. GMF AeroAsia telah melayani lebih dari 600 konsumen yang berasal dari lima benua dan 60 negara. Saat ini, GMF menjadi satu-satunya MRO domestik yang mengantongi sertifikat dari FAA, EASA, dan CASA. GMF juga berhasil meraih predikat High Quality MRO yang diberikan oleh FAA pada tahun 2017. Tahun sebelumnya, GMF mendapat predikat Low Risk MRO dari otoritas yang sama.

Penandatanganan perjanjian kerja sama BAT dan GMF ini dilakukan oleh Direktur Utama BAT I Nyoman Rai Pering Santaya dan Plt Direktur Utama GMF Tazar Marta Kurniawan, disaksikan oleh Menko Darmin Nasution, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Pendiri Lion Air Group Rusdi Kirana, Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Ari Askhara, Presiden Direktur Lion Air Group, Edward Sirait. (ska)

Loading...