SETIAP orang adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya (di hari akhir). (Al hadist Buchari-Muslim).
Ini cerita tentang kepemimpinan.

Kepemimpinan apa saja. Dalam arti luas. Bisa kepemimpinan daerah, nasional, internasional. Pemerintah. Swasta. Perusahaan. Lain-lain. Teori tentang kepemimpinan ini banyak di buku.

Juga di kelas manajemen sumberdaya manusia (MSDM). Bedanya, tak semua orang bisa menjadi pemimpin, meskipun siapa saja bisa jadi pimpinan. Untuk jadi pimpinan, cukup selembar SK, namun untuk jadi pemimpin, diperlukan persyaratan multidimensi.

Namun yang paling sering jadi topik bahasan adalah kepemimpinan spiritual. Bagaimana itu?

Di satu sisi, kepemimpinan efektif yang selama ini telah dilakukan banyak orang di seluruh dunia adalah yang berkaitan dengan motivasi, pengembangan potensi individu, dan pembentukan tim yang solid.

Namun itu saja tidak cukup; kemampuan mengelola krisis, perubahan dan melakukan pertumbuhan-pertumbuhan, menjadi tuntutan dominan dalam kepemimpinan.

Keahlian kepemimpinan tidak saja membutuhkan keterampilan, namun juga membutuhkan inspirasi, kearifan, keteladanan sikap dan komitmen.

Istilahnya, a leader (must) inspires the others. Pemimpin haruslah menginspirasi orang lain.

Semua orang saat ini mengidamkan kepemimpinan, membutuhkan figur kepemimpinan yang dapat diandalkan, dipercaya dan dapat mengaktualisasikan perubahan-perubahan konstruktif.

Danny Thomas, seorang pesohor asing dan sosok yang menginspirasi, menyebutkan, “Kita semua dilahirkan untuk suatu alasan, tetapi tidak semua kita menemukan sebabnya. Keberhasilan dalam kehidupan tidak ada hubungannya dengan apa yang Anda dapatkan atau capai sendiri.

Keberhasilan adalah apa yang Anda lakukan bagi orang lain”. Cakep…

Kepemimpinan spiritual itu enak diucapkan, namun sulit untuk dilaksanakan. Spiritualitas bukanlah segalanya tentang agama, spiritualitas adalah tentang mengabsorbsi intisari dari hubungan kita secara ruh dan jiwa dengan Yang Maha Suci, Ilahi, Sumber Kebenaran, atau Dia Yang Maha Kuasa, yang kita percayai dan bagaimana cara kita mengaplikasikannya secara universal kepada semua orang di sekitar kita.

Sebuah literatur menjelaskan, spiritualitas membantu membangun karakter dalam diri kita.

Termasuk dalam pola kepemimpinan yang kita jalankan. Kepemimpinan yang berbasis spiritualitas, bukan tentang kecerdasan dan ketrampilan dalam memimpin belaka, namun juga menjunjung nilai-nilai kebenaran, kejujuran, integritas, kredibilitas, kebijaksanaan, belas kasih, yang membentuk akhlak dan moral diri sendiri dan orang lain.

Kepemimpinan spiritual atau kerennya disebut spiritual leadership adalah kepemimpinan yang mengedepankan moralitas, kepekaan (sensitivitas), keseimbangan jiwa, kekayaan bathin, dan etika dalam berinteraksi dengan orang lain.

Dalam ungkapan lainnya, spiritualitas mengekspresikan cinta sesungguhnya dari Tuhan, yang tak bersyarat, tidak takut, dan tidak mementingkan diri sendiri.

Pun nilai-nilai kehidupan berorientasi pada kejujuran, perilaku bertanggungjawab, kedamaian bathin, menghindari konflik, dan berakhlak mulia ini, berpengaruh dalam pembentukan karakter individu dalam berinteraksi dengan orang lain, bahkan dalam melakukan pekerjaan apapun.

Salah satu outputnya adalah seorang pekerja akan melakukan pekerjaan terbaiknya bahkan ketika tidak ada seorangpun yang memperhatikannya.

Itulah buah dari keberhasilan kepemimpinan spiritual. Banyak teori yang mengatakan bahwa orang pertama yang kita pimpin adalah diri sendiri.

Kita tidak dapat memimpin dengan efektif sebelum berhasil memimpin diri sendiri.
“Kemenangan pertama dan terbaik adalah menaklukan diri sendiri” (Plato).

Sebab itu, fokuskan untuk mulai dari diri sendiri, sehingga kita dapat melakukan apa yang patut dilakukan untuk memmengaruhi dan menolong orang lain mencapai keadaan yang lebih baik.

Ada beberapa syarat untuk mencapai kematangan kepemimpinan spiritual. Ini berlaku bagi pemimpin manapun, di instansi apapun, bahkan di level apapun.

Pertama, positive-thinking. seberapapun besarnya usaha kita untuk menjadi pemimpin yang berhasil tidak akan cukup, sebelum kita merombak cara berpikir terlebih dahulu menjadi lebih positif.

Berpikir positif akan melahirkan optimisme, konsistensi, daya tahan, integritas, ide-ide cemerlang, kejujuran, kerjasama, hati yang lemah lembut, ketegasan, kewibawaan, percaya diri, belas-kasih, motivasi, efektif, pengendalian diri, menghargai orang lain, toleransi dan kesediaan membantu orang lain.

“Kendalikan pikiran Anda atau ia akan mengendalikan Anda,” kata Horace.

Kedua, tentukan tujuan yang Jelas. Kepemimpinan spiritual memiliki visi. Pemimpin spiritual memimpin dengan tujuan dan sasaran yang jelas.

Ia adalah seorang pemimpin yang memiliki pertimbangan atas apa yang dapat ia lakukan, karena ia dapat berpikir dengan hasil akhir yang tampak jelas.

Ingatlah, siapapun dapat mengemudikan kapal, tetapi diperlukan pemimpin untuk memetakan jalurnya terlebih dahulu.

Kata Distraeli, “Rahasia kesuksesan terletak pada konsistensi kita terhadap tujuan yang telah kita tetapkan”.

Selanjutnya, disiplin diri. Meski dapat diajarkan dan dipaksakan, kedisiplinan tidak akan dapat berlangsung lama jika ia tidak ditularkan dan dibiasakan.

Disiplin diri tidak dapat dilakukan sesaat. Dia harus menjadi gaya hidup (life style). Disiplin adalah tentang komitmen.

Yang keempat, selalu bertumbuh. Pemimpin (dengan nilai) spiritual harus dapat menginisiatifkan pertumbuhan.

Tak peduli apakah ia adalah pemimpin di nasional, provinsi, kabupaten, kota, kecamatan, desa, atau atau bahkan ketika ia memimpin dirinya sendiri. Yang jelas, dengan kepemimpinan yang baik, segala sesuatu dapat diperbaiki.

Bagaimana caranya menjadi pemimpin berdimensi spiritual? Anda tidak perlu berusaha keras meyakinkan oranglain, bagaimana hebatnya Anda memimpin, atau betapa besarnya keinginan Anda agar mereka mencapai keberhasilan.

Anda hanya perlu menunjukkannya kepada mereka. Saat Anda telah berhasil memimpin diri sendiri dengan spiritualitas dalam hati Anda, Anda telah siap memimpin orang lain.

Hari-hari belakangan ini, kita kembali disibukkan dengan berbagai berita tentang persiapan para pihak untuk menjadi pemimpin daerah. Seluruh Indonesia.

Di Kepri sendiri, tahun depan, enam daerah akan melakukan pemilihan kepala daerah serentak.

Mulai dari provinsi, lalu Kota Batam, serta beberapa kabupaten, seperti Natuna, Karimun, Bintan, Anambas, dan Lingga.

Masalahnya, seperti sering kita dengar, tak sedikit orang yang merasa bisa, namun hanya segelintir yang bisa merasa.

Yang kedua ini masuk ke dalam kategori spiritual leadership.

Hmm… Entahlah, saya sela-lu bertanya dalam hati, apakah mereka atau siapapun yang disebut-sebut akan berlaga di pilkada, mungkin juga termasuk saya?

Apakah kami masuk kategori pertama atau kedua, merasa bisa atau bisa merasa?(*)